Dewan Pers

Dark/Light Mode

Puluhan Tahun Susah Dapat Air Bersih

Warga Muara Angke Mau Mandi Aja Nunggu Hujan

Kamis, 24 Februari 2022 09:00 WIB
Puluhan Warga Muara Angke berdemo di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (22/2). Mereka mengadu karena puluhan tahun tidak mendapatkan pelayanan air bersih perpipaan dan mendesak Gubernur Anies Baswedan memenuhi janji menyediakan air bersih murah. (Foto: Dwi Pambudo/RM).
Puluhan Warga Muara Angke berdemo di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (22/2). Mereka mengadu karena puluhan tahun tidak mendapatkan pelayanan air bersih perpipaan dan mendesak Gubernur Anies Baswedan memenuhi janji menyediakan air bersih murah. (Foto: Dwi Pambudo/RM).

RM.id  Rakyat Merdeka - Ribuan warga Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, sudah puluhan tahun mengalami krisis air bersih. Mereka berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengatasi masalah tersebut.

Selasa (22/2), puluhan warga Muara Angke berdemonstrasi ke Kantor Gubernur DKI Jakarta. Mereka datang membawa jerigen kosong sebagai simbol warga membutuhkan air bersih. Sayangnya, mereka gagal bertemu dengan Gubernur Anies Baswedan dan tidak bisa menyampaikan langsung keluhannya.

Berita Terkait : Jelang Tanding Di Asia Beregu 2022, Ini Harapan Para Atlet Bulutangkis Indonesia

Perwakilan warga Muara Angke, Muslimin menyebut, mereka datang mewakili ribuan warga yang tinggal di Kampung Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang. Perkampungan ini telah ada sejak 1980-an. Saat ini kawasan tersebut dihuni 4.068 jiwa atau 1.286 kepala keluarga.

Muslimin menuturkan, pada saat kampung ini muncul di tahun 1980-an, warga masih bisa mendapatkan air bersih dari sumur. Namun, karena kondisi lingkungan memburuk, air di kawasan itu tidak lagi layak pakai. Air berbau dan asin.

Berita Terkait : Sambut Tahun Macan Air, TREVO Beri Tawaran Meraung

Sejak itu, warga mengonsumsi air minum dengan membeli air isi ulang galon atau air kemasan botol. Sedangkan untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK), warga membeli air pikulan atau air dalam kemasan jerigen.

Air pikulan itu berasal dari kios air di Blok Eceng yang beroperasi sejak tahun 2020. Harganya rata-rata Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per jerigen berisi 40 liter. “Harga tergantung jarak rumah warga dari Blok Eceng. Yang terjauh Rp 5.000 per jerigen,” ungkap Muslimin di Jakarta, Selasa (22/2).

Berita Terkait : BI Dan Bank Sentral Singapura Kerja Sama Anti Pencucian Uang

Per keluarga rata-rata mengeluarkan Rp 13.000 per hari untuk keperluan air minum dan masak. Sedangkan, untuk keperluan cuci dan mandi warga menggunakan air pikulan. Dengan kebutuhan 200 liter per keluarga untuk satu hari dengan merogoh kocek Rp 25.000.
 Selanjutnya