Dark/Light Mode

Naik 300 Persen, Tarif Sewa Kios JPM Tanah Abang Diprotes Pedagang

Kamis, 10 Oktober 2024 15:12 WIB
Ratusan pedagang Jembatan Penyebrangan Multiguna (JPM) Tanah Abang memprotes kenaikan sewa kios. (Foto: Ist)
Ratusan pedagang Jembatan Penyebrangan Multiguna (JPM) Tanah Abang memprotes kenaikan sewa kios. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah dua jam menggelar protes, sebagian tuntutan ratusan pedagang Jembatan Penyebrangan Multiguna (JPM) Tanah Abang akhirnya dipenuhi. Segel yang dipasang di sejumlah kios dibuka, Kamis (10/10/2024). Pedagang yang mulai melakukan protes dan menumpahkan keluh kesahnya sejak pukul 10.00 WIB mulai bisa kembali menjajakan dagangannya saat adzan Zuhur berkumandang.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Tanah Abang Jimmy Rory menuturkan, aksi protes ini buntut penyegelan 200 kios dan kenaikan tarif service charge yang dilakukan secara sepihak oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sarana Jaya. Diungkap Jimmy, ratusan kios disegel lantaran menunggak service charge yang melonjak drastis.

"Kami tidak mampu membayar akibat kenaikan sewa kios menjadi Rp 1,4 juta per bulan. Kami Asosiasi Pedagang JPM Pasar Tanah Abang menolak dan meminta harga sewa kios Rp 800 ribu," kata Jimmy di lokasi aksi di JPM, tepatnya depan pintu masuk Stasiun Tanah Abang.

Baca juga : Basilika Santo Petrus, Makin Siang Makin Ramai

Jimmy menyebut, protes ini merupakan akumulasi dari kecewaan pedagang yang selalu dijanjikan aspirasinya akan ditindaklanjuti. Diungkap dia, sejak diberlakukan kenaikkan tarif sewa kios pada Januari 2024, pihaknya sudah bersurat dan audiensi. Namun selama hampir sembilan bulan ini para pedagang hanya menerima janji saja. 

Dia bilang, kenaikkan biaya sewa kios ini sangat tinggi dan tidak sebanding dengan fasilitas yang disediakan. "Semua kios di Blok A, Blok B maupun Blok F harga sewa kiosnya di bawah Rp 1 juta. Padahal di sana ber-AC, lift, eskalator dan fasilitas lainnya," ujarnya.

Sedangkan di JPM yang diisi pedagang usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini minim fasilitas. Bahkan kiosnya hanya berukuran sekitar 120 X 150 centi meter (Cm) dan tidak ada aliran listrik. "Boleh dicek. Toilet, ada satu di tengah itu sudah hampir hancur lantainya," jelas Jimmy.

Baca juga : Update Haji: 56 Persen Kloter Jemaah Indonesia Sudah Kembali ke Tanah Air

Karena itu, pedagang JPM menuntut tarif service charge diturunkan. Lalu, lepas segel kios dan tidak ada intimidasi kepada para pedagang. Dingkap Jimmy, tarif sewa kios awaknya hanya Rp 560 ribu. "Tiba-tiba ada edaran bahwa nilai service charge naik Rp 800 ribu. Belum ada 2 minggu, ada edarkan, service charge jadi Rp 1,4 juta," bebernya.

Akibat tarif naik hampir tiga kali lipat, banyak pedagang yang tidak bisa membayar sewa kios. Mereka pun meminta keringan, bayar tunggakan secara dicicil. Nah saat tengah berusaha mencicil, kios pedagang disegel. "Kami tidak bisa berjualan, lalu darimana kami dapat uang untuk membayar cicilan," keluh Jimmy.

Diakui Jimmy, kejadian ini merupakan masalah internal. Karena itu, pihaknya belum mengadukan masalah ini ke Penjabay (Pj) Gubernur DKI Jakarta maupun DPRD DKI Jakarta. "Kami coba untuk menyelesaikan dulu sendiri," pungkasnya.

Baca juga : Salurkan Dana Pensiun, Asabri Gaet Pos Indonesia

Setelah hampir dua jam, perwakilan Sarana Jaya Doni menemui para pedagang yang tengah melakukan aksi protes. Doni mengizinkan pedagang melepas segel di kiosnya. Dia juga memberikan tengat waktu sampai 30 Desember 2024 kepada para pedagang yang menunggak biaya sewa.

Namun Doni belum dapat memutuskan soal service charge. "Beri kami waktu satu minggu untuk membahas penurunan tarif service charge," tandasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.