Dewan Pers

Dark/Light Mode

Cegah Corona Meroket, Libur Nataru Di Rumah Saja Deh

Kamis, 18 Nopember 2021 10:55 WIB
Webinar Libur Nataru dan Varian Baru: Strategi Cegah Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19, Rabu (17/11). (Foto: Ist)
Webinar Libur Nataru dan Varian Baru: Strategi Cegah Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19, Rabu (17/11). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus Covid-19 memang sudah mengalami penurunan. Namun masyarakat tetap diminta waspada terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi mengingatkan, pembatasan dilakukan untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus atau ancaman gelombang ketiga Covid-19. Saat ini, pemerintah terus berupaya mempertahankan kasus positif Covid-19 serendah mungkin dengan penurunan kasus yang konsisten.

"Upaya ini akan efektif jika masyarakat patuh, taat dan disiplin terapkan protokol kesehatan termasuk mengurangi mobilitas dan berpartisipasi dalam vaksinasi Covid-19," tegas Nadia dalam Webinar Libur Nataru dan Varian Baru: Strategi Cegah Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19 di Jakarta, Rabu (17/11).

Upaya penanggulangan pandemi di Indonesia dikelompokkan ke dalam lima pilar utama. Pertama deteksi, dilakukan melalui penguatan testing, tracing, karantina/isolasi. Deteksi juga dilakukan melalui surveilans untuk Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan surveilans genomic untuk mengawasi varian baru serta pengawasan di pintu masuk negara.

Berita Terkait : Senator Jakarta Apresiasi Digitalisasi Rumah Sakit Jateng

Kedua, manajemen klinis dilakukan tatalaksana kasus sesuai perkembangan ilmu pengetahuan termasuk potensi obat baru dan persiapan kapasitas rumah sakit dan fasyankes lain. Ketiga, perubahan perilaku dilakukan melalui penguatan protokol kesehatan berbasis teknologi informasi PeduliLindungi.

Keempat, peningkatan cakupan vaksinasi dan kelima penguatan sistem kesehatan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan esensial dan memenuhi standar protokol kesehatan.

"Situasi (pandemi) yang sudah membaik ini harus kita pertahankan. Laju kasus harus terus kita tekan. Memastikan mobilitas tidak meningkat secara tajam agar laju penularan juga tidak meningkat. Testing dan tracing ditingkatkan dan diperkuat agar secara cepat kita temukan kasus positif. Semakin disiplin terapkan protokol kesehatan dan terus meningkatkan cakupan vaksinasi. Kita harus pastikan setelah libur Nataru tidak terjadi lonjakan kasus," ujar Nadia.

Pengamat Kesehatan Masyarakat Prof. Tjandra Yoga Aditama menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk terus waspada. Mengingat umur Covid-19 yang baru dua tahun sehingga masih banyak hal yang tak terduga dari virus ini.

Berita Terkait : Hargai Para Pejuang, Pemuda Harus Paham Sejarah

Menurutnya, penyebab kenaikan kasus positif di banyak negara saat ini harus menjadi pelajaran bagi Indonesia. Ada beberapa penyebab kenaikan kasus di beberapa negara antara lain karena sekelompok masyarakat yang belum divaksinasi, efikasi vaksin menurun, dan pelonggaran mobilitas yang berkorelasi dengan naik turunnya kasus.

"Kita bersyukur kasus positif kita menurun sangat tajam dan bertahan lama. Tetapi kita juga harus tetap belajar dari negara-negara lain. Kita mesti tetap waspada dari sekarang," tuturnya.

Dubes RI untuk Singapura Suryopratomo memandang, vaksinasi memang menjadi salah satu pilar penting untuk mencegah terjadinya gelombang baru. Dia mengungkapkan terjadinya lonjakan kasus di Singapura Sejak pertengahan Juli 2021 lalu selain kemunculan Varian Delta, pelanggaran protokol kesehatan, juga disebabkan masih banyaknya orang yang tidak mau divaksinasi.

Kata Suryopratomo, Terdapat sekitar 60 ribu sampai 100 ribu lansia tidak mau divaksinasi di Singapura. Padahal mereka termasuk dalam kelompok yang paling rentan.

Berita Terkait : Menkes: Ujiannya Tinggal Nataru

"Ketika Delta masuk, mereka (lansia) yang paling rentan. Kematian paling banyak lansia dan punya komorbid. Pemerintah Singapura kini makin tegas untuk mencegah lonjakan keparahan akibat Corona. Caranya memberlakukan kebijakan baru yaitu wajib vaksin. Orang yang tidak divaksinasi, kalau sakit harus bayar sendiri," tuturnya. [JAR]