Dark/Light Mode

Super Immunity Tak Berarti Amat-amat Super, Simak 7 Fakta Pentingnya

Selasa, 4 Januari 2022 13:03 WIB
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Belakangan, marak istilah super immunity, yang disebut sebagai salah satu alasan tetap landainya kasus Covid-19 di negara kita dan juga beberapa negara lainnya.  

Merespon hal ini, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menyampaikan tujuh penjelasan terkait super immunity. 

"Pertama, mereka yang sembuh dari Covid-19 akan membentuk antibodi di dalam tubuh. Namanya, imunitas alamiah. Jika setelah sembuh, mereka divaksin Covid-19, imunitasnya akan tumbuh lebih baik lagi. Inilah yang kemudian banyak disebut sebagai super immunity atau hybrid immunity," jelas Prof. Tjandra yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI dalam keterangannya, Selasa (3/1).

Baca juga : Soal Literasi Kebencanaan, Ulama Punya Peran Penting

Kedua, laporan awal penelitian yang antara lain disampaikan di dalam Jurnal Kesehatan Internasional Nature pada akhir 2021 menunjukkan, serum darah mereka yang memiliki super immunity, punya kemampuan lebih baik untuk menetralisasi beberapa varian Covid-19.

Setidaknya, lebih baik ketimbang netralisasi pada mereka yang mendapat vaksin, tapi sebelumnya tidak pernah sakit.  

Ketiga, pemberian vaksin ketiga atau booster, ternyata mampu memberi perlindungan sama seperti super immunity pada mereka yang belum pernah sakit sebelumnya.

Baca juga : Kita Semua Kaget...

Keempat, perlu disadari bahwa super immunity bukanlah benar-benar berarti amat super. Efektivitasnya bisa saja mengalami penurunan, meski ada yang menyebutnya sebagai hyper-charged immunity.  

"Juga belum tahu benar bagaimana dampak Omicron dalam konteks ini," ujar Prof. Tjandra.

Kelima, anggapan yang menyebut sebaiknya orang sakit Covid dulu, baru kemudian divaksin untuk mendapatkan super immunity, harus diluruskan.

Baca juga : Usai Penikaman, Supermaket Selandia Baru Tidak Jual Gunting Dan Pisau

"Ini pendapat yang salah. Seseorang yang jatuh sakit, punya risiko besar bagi kesehatan. Bahkan, mungkin juga kehidupan," tegas Prof. Tjandra, yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.