Dewan Pers

Dark/Light Mode

Rakyat Pilih Capres Sipil Dibanding Militer, Airlangga Jadi Sosok Terkuat

Senin, 10 Januari 2022 17:45 WIB
Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto. (Foto: ist)
Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dinamika Survei Indonesia (DSI) merilis hasil survei terbarunya terkait calon presiden potensial di Pilpres 2024. Hasilnya, publik lebih mendambakan capres dari kalangan sipil dibanding militer. 

Sebanyak 53,2 persen responden mengaku tidak setuju atau sangat tidak setuju dengan pernyataan 'presiden sebaiknya memiliki latar belakang militer/Polri?'. Sedangkan yang setuju sebanyak 29,7 persen. Untuk yang tidak menjawab atau tidak masalah dengan latar belakang sipil atau militer, Polri sebanyak 17,1 persen.

Dari beberapa sosok sipil, mengerucut nama Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto yang paling banyak dipilih. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu mendapat elektabilitas tertinggi, dan dianggap sebagai representasi sosok presiden yang diinginkan masyarakat dengan perolehan 21,2 persen. 

Berita Terkait : Sembako Belum Dongkrak Puan

Kemudian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan perolehan 9,6 persen. Disusul Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 4,3 persen, Puan Maharani 3,6 persen. "Di posisi buncit ada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan elektabilitas sebesar 2,7 persen," kata Koordinator DSI Permadi Yuswiryanto, dalam keterangannya, Senin (10/1).

Hal ini sejalan dengan upaya Airlangga membangkitkan ekonomi yang sebelumnya terseok-seok akibat pandemi Covid-19. Karena itu, masyarakat mencita-citakan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik pada tahun 2022.

“Dari hasil survei yang telah dilakukan, 76,7 persen responden memberikan respon positif terhadap kondisi ekonomi masa depan. Sementara itu, 16,6 persen responden memberikan respon yang pesimis. Sisanya, sebanyak 6,7 persen dari total jumlah responden memilih netral," ujar dia.

Berita Terkait : Wapres Dorong Pendidikan Tinggi Perkuat Posisi

Terlebih lagi, 91,8 persen responden menginginkan sosok presiden yang bekerja dan terbukti kerjanya memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat. Kemudian 76,7 persen responden menginginkan sosok yang berpengalaman di birokrasi pemerintahan, serta memiliki dukungan partai politik yang kuat di parlemen. Berikutnya terdapat 62,8 persen responden menginginkan kriteria pemimpin yang merakyat.

"Hasil temuan ini menunjukan tren yang mulai bergeser dari sosok presiden yang merakyat, ke sosok presiden yang program-program kerjanya bisa memberikan benefit dan peningkatan kesejahteraan pada masyarakat," papar Permadi. 

Survei ini dilakukan dengan metode multistage random sampling terhadap 1.988 orang di 34 provinsi secara proporsional pada 22 Desember 2021 hingga 6 Januari  2022. Tingkat kepercayaan survei ini mencapai 95 persen dengan margin of error sebesar 2,2 persen. [UMM]