Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dirut Pertamina: Bangun Kilang Tak Bisa Instan

Kita Sudah Berlari, Masih Ada Yang Menilai Lamban

Selasa, 11 Januari 2022 06:40 WIB
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kedua kanan), saat memberikan pengarahan kepada jajaran PT Kilang Pertamina Balikpapan, di Kalimantan Timur, Sabtu (8/1). (Foto: Ratna Susilowati/Rakyat Merdeka).
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kedua kanan), saat memberikan pengarahan kepada jajaran PT Kilang Pertamina Balikpapan, di Kalimantan Timur, Sabtu (8/1). (Foto: Ratna Susilowati/Rakyat Merdeka).

RM.id  Rakyat Merdeka - Pekerjaan membangun kilang itu butuh waktu. Tidak bisa instan, apalagi seperti disulap. Kilang di Balikpapan ditargetkan bisa operasi pada pertengahan 2024. Tergolong cepat. “Di negara lain, tak ada yang bisa membangun kilang secepat kita. Tapi, sudah berlari seperti ini pun, masih saja dianggap lamban oleh orang-orang yang kurang paham,” kata Dirut PT Pertamina, Nicke Widyawati.

Proyek ini tingkat kerumitannya luar biasa. Risikonya juga sangat tinggi. Saat ini, di Kilang Balikpapan, ada 10 ribu orang bekerja, di tengah kilang tua, yang terus menerus beroperasi tanpa henti. Kalau tidak hati-hati, sangat berbahaya. “Ini tingkat kesulitannya tinggi, karena orang bekerja di antara kilang-kilang yang panasnya sekitar 300 derajat Celcius. Bahkan, di RFCC mencapai 700 derajat Celcius,” katanya.

Berita Terkait : Tata Pesisir Dan Hilangkan Prostitusi, Bupati Zaki Banjir Pujian

Tapi hebatnya Pertamina, proyek kilang ini mendapatkan penghargaan Patra Nirbhaya Karya Utama dari Menteri Tenaga Kerja. Prestasi atas proyek tanpa kecelakaan kerja sepanjang tahun 2021. Pekerja di proyek ini, 100 persen orang Indonesia, dan 42 persennya penduduk Balikpapan. Di saat puncak kerja, sekitar Agustus nanti, kebutuhan tenaga kerja akan naik hingga 19,5 ribu orang.

Di area proyek kilang, terlihat sudah berdiri sejumlah bangunan bentuknya seperti pipa cerobong yang menjulang. Dari bawah, kita harus mendongakan kepala untuk melihat puncaknya yang seolah menyentuh langit.

Berita Terkait : Pertamina: Tak Ada Pemotongan Gaji, Benefit Pekerja Masih Normal

“Ini tingginya rata-rata 90 meter, tapi ada yang 150 meter. Itu maksimal, sesuai aturan pendirian bangunan tertinggi di sini,” kata Djoko Koen Soewito, Direktur Pengembangan PT Kilang Pertamina Balikpapan yang memandu rombongan berkeliling. Uap, asap atau emisi dari pembuatan bensin dan solar, akan dikeluarkan ke udara melalui boiler itu.

Rombongan juga melintasi bangunan serupa ember beton raksasa. Ada tiga berjejer. Tingginya rata-rata 21 meter, dengan diameter 38-65 meter. Melihatnya saja membuat kita melongo, saking besarnya. Isi tiap ember itu menampung 37-61 ribu meter kubik atau kira-kira 37-61 juta liter. Berat cairnya mungkin sekitar 400-500 ton.

Berita Terkait : Pak Erick Ngajak Berlari, Speednya Ditambah Terus…

“Wah, di dalamnya kita bisa main bola,” celetuk seorang pemred. Tangki ini mungkin fungsinya seperti panci untuk mengolah minyak mentah, sebelum jadi bensin atau solar. Inilah tangki hot untuk unit um-pan RFCC. Disebut tangki hot, karena saat mengolah, panasnya bisa mencapai 700 derajat Celcius. Tujuh kali lebih panas dari titik didih air.
 Selanjutnya