Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
“Dan kalian hadir jangan pernah ragu-ragu. Jangan pernah ragu-ragu. Saya minta kalian harus jadi petarung, jagoan, dan pemberani. Jangan jadi ayam sayur, kalau diadu kalahkan,” ujarnya.
Seberapa cepat gerakan teroris di Indonesia? Untuk menjawab ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Boy Rafli Amar memberikan penjelasan. Kata dia, ada 600 akun di dunia maya yang berpotensi mengandung paham terorisme.
Baca juga : FIA Jadi Rumah Pencari Keadilan
Untuk melakukan pengawasan, BNPT bekerja sama dengan kepolisian, TNI, Badan Intelijen Negara, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Badan Siber dan Sandi Negara.
“Kami mencatat setidaknya ada 600 akun berpotensi radikal,” papar Boy Rafli saat rapat kerja dengan Komisi III DPR, kemarin.
Baca juga : Bertemu KSAD Malaysia, Dudung Bicara Perbatasan
Akun tersebut diduga menyebarkan konten-konten terorisme. Rinciannya, 650 konten propaganda, 409 konten umum dan informasi serangan, 147 konten anti NKRI, 85 konten anti Pancasila, tujuh konten intoleran, dan dua konten paham takfiri atau mengkafirkan, serta ada 13 konten berkaitan dengan pelatihan aksi terorisme.
Masih banyak lagi, misalnya ada 40 konten pendanaan terorisme. Boy bilang, belakangan platform di dunia maya banyak dimanfaatkan untuk pendanaan aksi teror. “Karena pendanaan terorisme di dunia maya ini dengan menggunakan platform yang ada cukup dominan akhir-akhir ini,” ucap mantan Kapolda Papua itu.
Baca juga : JATMI Dukung Mahfud Berantas Radikalisme Di Kampus
Penyebaran konten terorisme di dunia maya ini juga menyebabkan aksi teror seorang diri, alias lone wolf meningkat. Telah terjadi beberapa kali pelaku aksi teror seorang diri di Indonesia.
“Kemudian fenomena teror seorang diri lone wolf ini juga cukup meningkat berkaitan dengan penyebarluasan paham radikalisme di sosial media, sehingga seorang diri di antara warga negara kita ini telah berapa kali menjadi pelaku terorisme,” jelas Boy. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya