Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof Tjandra Yoga Aditama
Omicron Tak Bisa Dikatakan Ringan
Jumat, 11 Februari 2022 08:30 WIB
Sebelumnya
Tak terkecuali juga untuk orang yang sudah divaksin. Sebab, lambat laun efikasi vaksin menurun hingga 50 persen. Khususnya dalam hal efektivitas pencegahan agar tidak tertular.
“Tetapi, kalau dikasih booster, naik lagi efikasinya jadi 70 sampai 75 persen. Karena itulah booster diperlukan,” ucapnya.
Ia mengingatkan, penularan Omicron saat ini paling tinggi terjadi akibat transmisi lokal. Bukan lagi didominasi Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN).
Baca juga : Pasar Optimis Penanganan Omicron, Rupiah Kuat Lagi
Secara global, Omicron masuk di gelombang keempat. Peningkatan kasusnya 2 sampai 3 kali lipat lebih tinggi dari pada gelombang sebelumnya. Secara global pula, kasus Omicron sebenarnya sudah mulai turun. Durasinya lebih pendek dari varian lain, yakni hanya butuh sekitar 1 sampai 2 bulan untuk mencapai puncak ledakan kasus. Beberapa negara yang kasusnya mulai merebak di Desember 2021, mulai turun sejak awal Februari 2022.
“Barusan saya nelepon teman di India, turunnya juga dalam waktu cepat,” sambungnya.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Prof Tjandra mengaku, belum dapat memastikan kapan puncak Omicron akan terjadi. Karena karakter kasus Omicron belum bisa digeneralisir di semua negara. Ada yang puncak kasusnya setelah melewati 2-4 kali lipat gelombang sebelumnya. Tapi, ada juga yang tidak.
Baca juga : Anies Tak Goyah Digoyang Giring
Untuk mencegah Omicron semakin luas, ia menyarankan, selain berbagai upaya pembatasan yang dilakukan Pemerintah, masyarakat juga harus punya kesadaran untuk disiplin 5M. Termasuk mengubah diksi New Normal menjadi Now Normal.
“New normal itu, ‘e’-nya kita ganti ‘o’ saja supaya jadi Now Normal. Karena Omicron jauh lebih mudah menular dari Delta. Kalau masih New Normal, nggak jalan. Tapi, kalau sudah Now Normal, sudah jadi kebiasaan sehari-hari, seperti sekian puluh tahun lalu pengguna kereta api di Jepang itu pakai masker,” saran Prof Tjandra.
Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk menjalankan Now Normal sama pentingnya dengan PPKM yang diterapkan Pemerintah. Selain 3T, yakni testing, tracing, dan treatment yang juga terus digencarkan. “Sekarang sudah mulai keluar pernyataan kawan-kawan dari Rumah Sakit, bahwa Omicron tidak bisa dikatakan ringan. Justru sama seperti Delta juga, karena ada yang ringan, sedang, berat, hingga meninggal,” tandasnya. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya