Dark/Light Mode

Prof Tjandra Yoga Aditama

Omicron Tak Bisa Dikatakan Ringan

Jumat, 11 Februari 2022 08:30 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/RM.id).
Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/RM.id).

RM.id  Rakyat Merdeka - Tingkat kematian kasus Omicron memang rendah. Namun, varian baru Covid-19 ini tidak bisa dianggap ringan. Sebab, penularannya sangat cepat dan tinggi.

Demikian disampaikan mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Antisipasi Puncak Omicron” bersama Rakyat Merdeka, kemarin.

FGD ini dipandu langsung Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara.

Baca juga : Pasar Optimis Penanganan Omicron, Rupiah Kuat Lagi

Ada beberapa barometer yang menjadi alasan Omicron tak bisa dipandang enteng. Antara lain, Omicron satu kelas dengan varian Alpha, Beta, Delta, dan Gamma. Kelimanya masuk dalam kategori Variant of Concern (VOC) atau varian yang paling diwaspadai WHO.

“Ini (Omicron) sangat menular. Risikonya very high,” ucap Prof Tjandra, mengingatkan.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI ini melanjutkan, varian Omicron lebih cepat naik kelasnya di banding Delta. Jika Delta butuh 7 bulan baru dinyatakan sebagai VOC oleh WHO. Omicron hanya butuh 17 hari untuk jadi VOC sejak hari pertama ditemukan.

Baca juga : Anies Tak Goyah Digoyang Giring

“Sementara, sudah berulang kali disebut bahwa ini (Omicron) lebih ringan, lebih ringan, lebih ringan. Tapi, tetap kita mesti waspada. Yang jelas, yang meninggal sudah ada. Kalau kita bilang ringan, kok ada yang meninggal,” terangnya.

Prof Tjandra mengakui, secara persentase, kasus ringan atau orang tanpa gejala (OTG) dari varian Omicron cukup banyak. Hingga 80 persen lebih. Tapi, 10 sampai 20 persen lainnya tidak bisa dikatakan ringan. Karena ada yang kasusnya sedang, berat, hingga meninggal. “Jadi, hati-hati kalau kita ngomong ringan. Jelas ada yang meninggal,” tegasnya.

Kemudian, Omicron juga berpotensi bisa menginfeksi ulang seseorang yang sebelumnya sudah positif Covid-19. Prof Tjandra menyatakan, sudah cukup banyak data kasus Omicron yang menginfeksi lebih dari 1 kali.

Baca juga : Anies: Fatality Rate Omicron Rendah, Tapi Bila Kasus Berlipat, Kematian Jadi Tinggi

“Ini salah satu riset saya yang saya ambil. Jadi, memang ada kemungkinan 2-3 kali infection,” terangnya.

Contoh kecil, ungkap dia, adalah kasus infeksi Corona di rumahnya. “Sopir saya, yang ngurus cucu saya, Satpam saya, itu Desember 2020 semua positif. Dan sekarang positif lagi. Padahal sudah divaksin semua. Jadi kemungkinan terinfeksi itu secara riilnya ada. Secara bukti ada,” imbuhnya.

Omicron, kata Prof Tjandra, bisa menembus anti-bodi yang terbentuk dari infeksi virus Corona sebelumnya. Sehingga, bisa sakit lagi, meskipun sudah pernah terpapar sebelumnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.