Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Transisi Pandemi Ke Endemi
Eks Direktur WHO Ingatkan 5 Hal Penting Ini, Jumlah Kasus Harian & Kematian Harus Ditekan Rendah
Rabu, 2 Maret 2022 09:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Hari ini, 2 Maret 2022, tepat dua tahun kita menjalani masa pandemi Covid-19. Pembicaraan tentang pandemi dan endemi pun kian santer bergulir. Seiring tren penurunan kasus yang belakangan ini terjadi.
Terkait hal tersebut, mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menyampaikan lima hal yang perlu jadi perhatian pemerintah.
Pertama, status pandemi Covid-19 diumumkan oleh Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 11 Maret 2020.
"Kalau nanti pandemi Covid-19 selesai, maka akan ada lagi pernyataan resmi dari Direktur Jenderal WHO, sesuai keadaan dunia ketika itu, yang kita belum tahu kapan akan terjadi," kata Prof. Tjandra dalam keterangannya, Rabu (2/3).
Baca juga : Mantan Direktur WHO Berbagi Pengalaman Merawat 8 Pasien Isoman Di Rumah
Hal ini sama dengan pandemi H1N1 (2009) yang dinyatakan bermula pada 11 Juni 2009, oleh Dirjen WHO waktu itu.
Dalam 1 tahun 2 bulan kemudian, tepatnya pada 10 Agustus 2010, Dirjen WHO menyatakan dunia sudah memasuki masa pasca pandemi H1N1 (2009). Pandemi ketika itu resmi selesai.
Kedua, masing-masing negara dapat saja membuat pernyataan, bahwa mereka sudah dapat mengendalikan wabah Covid-19. Atau sudah masuk dalam fase endemi.
Tetapi, pernyataan satu dua atau bahkan beberapa negara bahwa negara mereka sudah endemi sama sekali, tidak berarti pandemi sudah selesai.
Ketiga, untuk memastikan situasi Covid-19 sudah terkendali, salah satu indikatornya adalah angka kepositifan (positivity rate) di bawah 5 persen.
"Dari data yang ada, angka kepositifan pada 25 Februari 2022 adalah 17,93 persen. Meski turun menjadi 15,91 persen pada 26 Februari, angkanya masih tergolong tinggi. Cukup jauh di atas batas 5 persen, yang kita kehendaki bersama," beber Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini.
Indikator lain adalah angka reproduksi efektif (effective reproduction number - Rt) di bawah 1.
"Ada beberapa pihak yang menyebutkan angka reproduksi kita di hari-hari ini masih di atas 1, ada yang melaporkan sebagai 1,161," imbuh Prof. Tjandra.
Kelima, jumlah pasien dan kematian harus ditekan rendah, Begitu juga pelayanan kesehatan dalam menghadapi kemungkinan kenaikan kasus. Harus selalu siaga.
"Tahun lalu, angka kepositifan kita sudah sempat cukup lama di bawah 5 persen. Angka reproduksi juga pernah di bawah 1. Tapi, dengan serangan Omicron, maka angka kepositifan dan angka reproduksi naik lagi seperti sekarang ini," papar Prof. Tjandra.
Di samping itu, kita juga amat perlu mewaspadai kemungkinan varian baru Covid-19 di dunia. Sesuatu yang tidak terlalu mudah memprediksinya.
"Yang jelas, kita semua berharap bahwa Covid-19 akan segera dapat diatasi di dunia, dan juga negara kita. No one is safe until everyone is safe," pungkas mantan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya