Dewan Pers

Dark/Light Mode

Muhammadiyah: Jangan Gampang Terprovokasi, Perang Rusia-Ukraina Bukan Soal Agama

Jumat, 4 Maret 2022 20:18 WIB
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Dok. Muhammadiyah)
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Dok. Muhammadiyah)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, MSi menegaskan, pihaknya sangat prihatin dengan peperangan Rusia-Ukraina.

Menurutnya, peperangan tidak hanya menimbulkan kerusakan fasilitas publik dan korban jiwa, baik yang meninggal dunia maupun luka-luka. Terlebih, sebagian korban adalah masyarakat sipil.

"Peperangan bukanlah jalan keluar menyelesaikan masalah," Karena itu, Muhammadiyah mendesak kedua belah pihak untuk dapat melakukan gencatan senjata, dan mencoba mencari solusi damai melalui meja perundingan," papar Haedar dalam pernyataan persnya, Kamis (3/3).

Berita Terkait : Upaya Peningkatan Keselamatan Di Perlintasan Sebidang

Selain itu, Muhammadiyah juga mendesak PBB, khususnya Dewan Keamanan, untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Demi mengakhiri peperangan. Karena akan menimbulkan masalah yang kompleks. Baik ekonomi, politik, kemanusiaan, perdamaian global, dan masalah-masalah lainnya.

Muhammadiyah memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia, yang telah membuat seruan agar pertempuran diakhiri. Namun, pemerintah Indonesia hendaknya bisa lebih aktif dan proaktif terlibat dalam penyelesaian peperangan Rusia-Ukraina dan berbagai dampak yang ditimbulkannya.

"Kami mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam, agar tidak terpengaruh oleh provokasi dan propaganda kedua belah pihak, yang berusaha mencari dukungan politik internasional," tutur Haedar.

Berita Terkait : Sedih, Rusia-Ukraina Masih Berdarah-darah

"Peperangan Rusia-Ukraina bukanlah karena masalah agama. Karena itu, masyarakat dan umat Islam, hendaknya tetap menjaga kerukunan dan persatuan. Dengan tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," imbuhnya.

Di era tatanan dunia baru yang menjunjung demokrasi dan perdamaian, semestinya dibangun hubungan antar negara dan bangsa yang lebih adil, saling menghormati, dan menjauhkan tindakan hegemoni dalam bentuk apa pun.

Karena pada dasarnya, semua negara dan bangsa di muka bumi ini memiliki kesetaraan. [HES]