Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kena Imbas Ketegangan Rusia-Ukraina, Rupiah Loyo

Senin, 14 Februari 2022 09:54 WIB
Rupiah dan dolar AS. (Foto: ist)
Rupiah dan dolar AS. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 0,01 persen ke level Rp 14.348 per dolar AS dibanding perdagangan Jumat (11/2) di level Rp 14.347 per dolar AS.

Senada, mayoritas mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan minus 0,05 perseb, peso Filipina melemah 0,11 persen, yuan China turun 0,12 persen, ringgit Malaysia minus 0,05 persen, dan dolar Taiwan turun 0,15 persen.

Indeks dolar AS terhadap mata uang saingannya menguat dari level 95,7 ke level 95,94. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menguat 0,14 persen ke level Rp 16.250, terhadap poundsterling Inggris juga naik 0,49 persen ke level Rp 19.339, dan terhadap dolar Australia menguat 0,49 persen ke level Rp 10.202.

Berita Terkait : Pasar Optimis Penanganan Omicron, Rupiah Kuat Lagi

Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra melihat, rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS, lantaran adanya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terjadinya perang di wilayah perbatasan Rusia dan Ukraina.

Ia menjelaskan, pada akhir pekan lalu, pemerintah AS memberikan peringatan ke warganya yang tinggal di Ukraina untuk segera meninggalkan negara tersebut, karena Rusia akan segera menyerang Ukraina.

Menurut Ariston, jika Rusia menyerang Ukraina, kemungkinan perang bisa membesar karena perang tersebut akan melibatkan negara-negara NATO. “Perang besar akan mendorong pelemahan ekonomi global," kata Ariston di Jakarta, Senin (14/2).

Berita Terkait : Indeks Saham Asia Melonjak, Rupiah Ikut Happy

Tak hanya itu kata Ariston, pasar valas juga akan dibayangi oleh kenaikan inflasi yang meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar. Kenaikan inflasi yang berlebihan juga akan menekan pertumbuhan ekonomi. 

“Harga minyak mentah yang terus naik karena kekhawatiran terjadinya perang, ikut menyumbang kenaikan inflasi global,” imbuh Aristin.

Selain itu, ia menilai tekanan terhadap rupiah juga bertambah karena ekspektasi terhadap kebijakan pengetatan moneter AS yang agresif meningkat, seperti data inflasi AS dan data inflasi konsumen AS.

Berita Terkait : DPD Belajar Lembaga Keuangan Mikro Ke Jateng

"Kebijakan pengetatan moneter AS yang agresif ini bisa mendorong penguatan dolar AS ke depan," katanya.

Sementara dari dalam negeri, Ariston menyebut kasus baru Covid-19 yang terus naik mendekati kasus baru puncak gelombang ke-2 tahun lalu akan memberikan tekanan ke rupiah. Aristo  memproyeksikan nilai tukar rupiah melemah di level Rp 14.330-Rp 14.400 per dolar AS. [DWI]