Dark/Light Mode

Soal Penceramah Radikal Yang Disinggung Presiden

BNPT Beberin 4 Tanda-tandanya

Minggu, 6 Maret 2022 09:05 WIB
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid. (Foto: Istimewa).
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membeberkan ciri-ciri penceramah radikal yang disinggung Presiden Jokowi. Direktur Pencegahan BNPT, Brigadir Jenderal Ahmad Nurwakhid mengatakan, ada 4 tanda-tanda penceramah disebut radikal.

Dalam Rapat Pimpinan TNI-Polri, Selasa (1/3) lalu, Jokowi menyinggung soal penceramah radikal. Dia mengingatkan TNI-Polri harus selalu waspada, serta hati-hati. Termasuk kepada keluarga istri TNI-Polri. Jangan asal undang penceramah. Selidiki dahulu. Jangan-jangan penceramah yang diundang itu menyebarkan paham kekerasan, alias radikal.

Menurut Nurwakhid, peringatan yang disampaikan Jokowi itu harus ditanggapi serius. Utamanya oleh kementerian, lembaga pemerintahan dan masyarakat umum.

Baca juga : BNPT: Jangan Terjebak Tampilan, Tapi Lihatlah Isi Ceramahnya

Radikalisme merupakan proses tahapan, dan yang menjiwai terorisme. Dengan memanipulasi dan mempolitisasi agama,” kata Nurwakhid, kemarin.

Nurwakhid menambahkan, pencerahan radikal dapat terdeteksi melalui indikator yang tergambar dari isi materi. Setidaknya, Nurwakhid membeberkan ada empat cirinya. Pertama, isi ceramah memuat ajaran anti-Pancasila dan pro terhadap ideologi khilafah, alias pendirian negara Islam.

Kedua, ceramah berisi paham takfiri atau mengafirkan pihak lain yang berbeda paham, apalagi beda agama. Ketiga, isi ceramah menekankan sikap antipemimpin atau pemerintahan yang sah. Penceramah mengajak membenci dan membangun ketidakpercayaan terhadap pemerintahan maupun negara melalui propaganda fitnah, adu domba, hate speech, dan sebaran hoaks.

Baca juga : Jangan Salah Pilih, Ini 5 Ciri Penceramah Radikal Menurut BNPT

Dan keempat, penceramah bersikap eksklusif atau tertutup terhadap lingkungannya. Juga intoleran terhadap perbedaan hingga anti budaya atau kearifan lokal.

Namun, dengan tegas, Nurwakhid meminta jangan mencirikan penceramah dengan hanya berpatok pada penampilannya. Teliti isi ceramah dan cara pandangnya. “Biasanya selalu membenturkan agama dengan wawasan kebangsaan, kebudayaan dan keragaman,” paparnya, memberi penekanan.

Kelompok radikal ini, tambah Nurwakhid, memang bertujuan menghancurkan Indonesia melalui berbagai strategi dan doktrin yang ditanamkan ke publik. Dari mulai menghilangkan dan menyesatkan sejarah bangsa, menghancurkan budaya lokal, hingga mengadu domba anak bangsa dengan pandangan intoleransi dan isu SARA.

Baca juga : Wamenag: Penceramah Hendaknya Hindari Bahasan Yang Picu Perpecahan

“Untuk memutus penyebaran infiltrasi radikalisme, salah satunya jangan asal undang penceramah ke ruang-ruang edukasi keagamaan masyarakat,” kata dia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.