Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
"Hati-hati, kita sekarang ini masih bisa kendalikan inflasi di angka 2,2 persen. Amerika yang biasanya nggak pernah lewat dari 1 persen, sekarang sudah di angka 7,5 persen. Semua negara naik, bahkan Turki sampai hampir 50 persen," pesan Jokowi.
Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal setuju dengan pernyataan Jokowi. Dia mengaku sudah memprediksi kondisi ekonomi global bakal seperti ini. Kini, setiap negara sudah mengurangi stimulus fiskal dan mengetatkan kebijakan moneter. Dampaknya ke kondisi domestik, seperti memperlambat sisi permintaan yang mempengaruhi prospek ekspor.
Baca juga : Kepemimpinan Puan Diacungi Jempol Peserta Sidang IPU
Dia menerangkan, konflik Rusia-Ukraina kembali mengerek harga komoditas yang sebelumnya diprediksi turun. Memang kondisi ini menjadi keuntungan bagi Indonesia. Namun, juga turut mendorong inflasi. Contohnya, ekspor CPO meningkat karena harga tinggi, tapi dampaknya bermasalah di dalam negeri.
"Intinya, dampak yang kita khawatirkan adalah daya beli masyarakat. Inflasi global meningkat dan memengaruhi inflasi dalam negeri. Terutama di bulan ini, inflasinya jauh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Terutama yang terkait dengan energi, dan inflasi makanan," urai Faisal.
Baca juga : Ajak Parlemen Dunia Kerja Sama Atasi Covid, Puan Banjir Pujian
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berbicara mengenai kemungkinan kondisi buruk. Kata dia, kondisi global saat ini dapat mendorong Indonesia kembali masuk ke jurang resesi. Pasalnya, pelaku usaha di sektor pakaian jadi, pengusaha besi baja, sampai makanan minuman, mengeluh harga di level produksi naik.
Namun, Bhima mencatat, mereka tidak langsung menyesuaikan harga di level konsumen. Ada kekhawatiran omzet mereka berkurang. Hal ini tercermin dari indeks keyakinan konsumen yang kembali menurun, bukti optimisme pemulihan ekonomi masih rapuh.
Baca juga : Kepemimpinannya Teruji, Airlangga Cocok Jadi Presiden
Karena itu, dia menyarankan pemerintah menunda dulu rencana kenaikan harga BBM, terutama Pertalite dan Pertamax. “Rencana pemberlakuan tarif PPN baru juga sebaiknya ditunda, karena konsumsi masyarakat masih rendah. Jangan paksakan PPN naik, bisa fatal. Efek psikologis yang ditimbulkan bukan hanya inflasi naik 1 persen, bahkan bisa lebih tinggi," ucap Bhima. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.