Dewan Pers

Dark/Light Mode

Lahir Di Ramadan, JIDI Ingin Jadi Rumah Bersama Bangun Nilai-nilai Pancasila

Senin, 4 April 2022 14:01 WIB
Pendiri JIDI Jalal Abdul Nasir (Foto: Istimewa)
Pendiri JIDI Jalal Abdul Nasir (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Seiring perkembangan dan kemajuan peradaban kultur demokrasi, masyarakat Indonesia semakin membutuhkan kanal dan wadah untuk menyalurkan aspirasi dan idealisme tentang kehidupan publik yang lebih baik serta pembangun masyarakat madani ke depan. Menyikapi hal ini, Jalal Institute for Development in Indonesia (JIDI) lahir di Ramadan ini sebagai gerakan dan perjuangan untuk pembangunan Indonesia ke arah lebih maju.

JIDI menyiapkan akselarasi perubahan dalam pembangunan manusia Indonesia untuk masyarakat sipil menyongsong Indonesia Emas 2045. Pendiri JIDI Jalal Abdul Nasir menerangkan, di banyak negara maju, peran penyaluran aspirasi dan gerakan perubahan kemajuan banyak diambil oleh non-government organization (NGO) atau di Indonesia lebih akrab disebut sebagai LSM). Nah, JIDI adalah organisasi masyarakat sipil yang didirikan secara swadaya/mandiri untuk menangani isu 8 pilar pembangunan perubahan.

Berita Terkait : Lestari: Ramadan Momentum Bangkit Bersama Dari Pandemi

Kedelapan isu itu adalah pembangunan pendidikan (education), pembangunan kepemimpinan (leadership building) penanganan dan perlindungan sosial kemanusian (social and humanity), amal sosial keagamaan (charity and social religious affairs), pembangunan dan pemberdayaan pemuda (empowering youth), kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat (entrepreneurship and people’s economics), pemberdayaan buruh dan petani desa (empowering labor and farmer), dan isu perubahan lingkungan dan iklim (fighting for environment and the climate change).

Menurut Jalal, dengan JIDI, masyarakat sipil mendapatkan wadah aspirasi dan inspirasi untuk mengadvokasi dan memperjuangkan isu-isu kebangsaan dan sosial yang mereka anggap penting. Mengingat banyak persoalan kebangsaan dan sosial yang hinggap di masyarakat, maka kebersamaan dan gotong royong dalam pembanguan arah demokrasi lebih baik sangat diperlukan.

Berita Terkait : Menag Yaqut: Ramadan Momentum Bersihkan Residu Manusiawi

Di Amerika ada 2 juta NGO pada 2021. Di China jumlah NGO mencapai 550.000 pada 2020. Di Indonesia, jumlah NGO dan organisasi masyarakat yang resmi tercatat di Kementerian Dalam Negeri ada sekitar 70.000 lebih organisasi.

“Hal utama visi misi saya adalah bekerja sama dan bersama-sama membangun Indonesia dan kerja membangun solidaritas sosial. Saya ingin JIDI ini bergotong royong membangun masyarakat Indonesia terutama kelompok anak muda, guru, buruh, petani, nelayan, miskin dan marjinal berdasarkan nilai-nilai demokrasi, kesetaraan, keadilan sosial dan kesejahteraan," ucapnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (4/4).

Berita Terkait : Kepala BPIP Gelorakan Nilai-nilai Pancasila Di Lumajang

Dia melakukan mencontohkan langkah yang dilakukan pendiri Apple Steve Jobs. "Saya ingat betul Steve Jobs, dia tidak hanya tahu apa yang dia jual, dan bagaimana membuat dan memasarkan produk-produk yang ia ciptakan. Lebih jauh, JIDI memiliki pilar dan goals yang kuat hanya dapat dibangun apabila kita memiliki tujuan yang jelas dan terarah. Insya Allah, kita JIDI bisa merumuskan aktivitas, program, proyek kerja, hingga persoalan manajemen seperti human resource dengan baik untuk pembangunan Indonesia lebih baik,” lanjut Jalal.

Dia menambahkan, JIDI adalah rumah bersama. Rumah bagi pembangunan nilai-nilai Pancasila dan penegakan demokrasi, rumah berbagi inspirasi (sharing inspiration), dan rumah bagi pembangunan SDM Indonesia. [KW]