Dewan Pers

Dark/Light Mode

Lawannya Duet Prabowo, Duet Ganjar

Anies-AHY Kuda Hitam

Minggu, 29 Mei 2022 06:49 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY bersama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto: Ist)
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY bersama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meski Pilpres 2024 masih dua tahun lagi, utak-atik pasangan Capres-Cawapres yang berpeluang menang mulai menghangat. Dari semua analisis yang muncul, diprediksi duet Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bisa menjadi kuda hitam melawan duet Prabowo Subianto dan duet Ganjar Pranowo. 

Seperti diketahui, Golkar-PPP-PAN yang telah mengumumkan koalisi, masih menahan diri untuk mengumumkan pasangan Capres-Cawapresnya, mengingat elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto masih stabil rendah, sementara PPP dan PAN juga tidak punya tokoh dengan elektabilitas tinggi. Ada kabar, koalisi ini kemungkinan akan mengusung Ganjar-Erick. Koalisi ini kemungkinan besar akan digawangi oleh Presiden Jokowi yang akan menantang calon dari PDIP, Puan Maharani. 

Desas-desus, kalau PDIP tetap nyalon sendiri dan tetap mendorong Puan, bisa saja PDIP kembali mengulang duet dengan tokoh NU seperti Mega-Hasyim dulu. Nah, kali ini kemungkinan Puan dipasangkan dengan Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf. Puan-Yahya tentu merepresentasikan Nasionalis dan Islam.

Sementara Prabowo dapat dipastikan akan maju lagi sebagai Capres di 2024. Satu-satunya partai yang sangat berambisi menjadi Cawapres dan bisa diakomodir oleh Gerindra adalah PKB. Kemungkinan Prabowo-Imin akan ikut meramaikan kontestasi dalam Pilpres 2024. Koalisi ini juga sudah memenuhi syarat mengajukan pasangan Capres-Cawapres.

Yang tak kalah menarik adalah kemunculan pasangan Anies-AHY. Banyak yang memprediksi, pasangan ini akan menjadi kuda hitam, berpeluang menyodok kemenangan, karena sejumlah faktor.

Berita Terkait : Ganjar-Anies Sedang Dijodohkan

Faktor pertama, adalah keseimbangan antara nasionalisme dan religiusitas. "Mengacu pada Indonesianis seperti Herbert Feith dan Lance Castles, ada lima aliran pemikiran politik di Indonesia yakni Nasionalisme, Tradisionalisme Jawa, Islam, Sosialisme Demokrat, Komunisme. Dua aliran kuat yang tersisa hari-hari ini adalah nasionalis dan Islam (religius)," ungkap Dr. Fajar Nursahid, dari lembaga survei Perdana Syndicates. 

“Sayangnya, pada dua pemilu terakhir, 2014 dan 2019, kedua aliran ini dibenturkan, menciptakan polarisasi politik yang nyaris membelah bangsa," kata Fajar lebih lanjut. "Masyarakat sudah jenuh, dan cenderung akan mencari pasangan calon yang bisa mempersatukan dua aliran elemen bangsa yang penting dan sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain ini." 

Oleh karena itu, menurut Fajar, konfigurasi pasangan figur yang mencerminkan perpaduan kedua aliran politik ini, sangat mungkin ditimbang oleh mayoritas pemilih.

Faktor kedua adalah elektabilitas masing-masing tokoh. "Anies  dan AHY secara sendiri-sendiri konsisten selalu berada di papan atas elektabilitas capres-cawapres sejak tahun 2021 lalu," ujar Moh. Jibriel Avicenna, dari Center for Regulation Policy and Governance. 

"Elektabilitas Anies naik melalui kerja-kerjanya sebagai Gubernur DKI. AHY mendulang elektabilitasnya melalui frekuensi perjumpaan langsung dengan masyarakat di seluruh Indonesia. Walaupun bukan pejabat publik, AHY justru memanfaatkan keleluasaannya sebagai Ketum Parpol untuk pergi ke 34 provinsi, dan ratusan kabupaten/ kota untuk membahas berbagai isu, tidak terbatasi wilayah seperti kandidat lain yang berlatar belakang Gubernur atau atau terbatasi ruang lingkup seperti kandidat yang berlatar belakang Menteri," ungkap Jibriel.

Berita Terkait : Lawatan Ke Vietnam, Prabowo Kembali Tunjukkan Level Kepemimpinan

Faktor ketiga adalah kesiapan kendaraan politik. "AHY sudah jelas memimpin Partai Demokrat yang punya 9 persen kursi DPR," kata Pangi Syarwi Chaniago, analis politik sekaligus CEO dan pendiri VoxPol Center Research and Consulting.

"Sementara Anies punya hubungan kesejarahan dengan Partai NasDem sebagai salah satu deklarator NasDem sebagai ormas, dan didukung oleh PKS sebagai calon Gubernur dalam Pilkada DKI. Kombinasi tiga partai ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi presidential treshold 20 persen."

Lalu siapa yang akan mengusung pasangan kuda hitam ini? Hitung-hitungannya jelas. PKS dan PD yang tidak ikut koalisi pemerintahan, tentu akan menjadi tulang punggungnya. Tinggal siapa motor penggerak dari Koalisi Pemerintahan yang akan ikut bergabung. 

Bisa saja NasDem yang pada Rakernas bulan Juni depan mengumumkan Anies sebagai Capres yang akan diusungnya. Jika ini yang terjadi, dapat dipastikan NasDem akan menjadi tulang punggung berikutnya selain PD dan PKS. Jika tidak NasDem, pasti akan ada satu partai koalisi Pemerintahan yang loncat mengusung pasangan ini.

Kondisi ini akan semakin kuat, jika ternyata tahun depan, citra pemerintahan Jokowi semakin carut marut, mengingat situasi dan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Apalagi mengingat ketiga kontestan lainnya, sangat erat kaitannya dengan Jokowi karena menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi.

Berita Terkait : Lebaran Ke Khofifah, Prabowo Dikupasin Nanas

Hitung-hitungan matematis terkait duet Anies-AHY ini sesuai dengan survei yang dilakukan sejumlah lembaga. Misalnya, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan Maret tahun ini.

SMRC memaparkan, jika yang bertarung hanya dua pasangan, yakni Prabowo-Puan melawan Anies-AHY, maka pertarungan akan sengit. Meskipun tertinggal, Anies-AHY hanya kalah tipis. Prabowo-Puan meraih 41 persen, sedangkan Anies-AHY 37,9 persen. Sementara ada 21 persen responden yang belum menentukan pilihan.
 Selanjutnya