Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kejahatan Phising Merajalela, Jaga Kerahasiaan Data Pribadi

Kamis, 16 Juni 2022 07:05 WIB
Ilustrasi. Mo­dus phising. (Foto : Istimewa).
Ilustrasi. Mo­dus phising. (Foto : Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Tindak kejahatan digital semakin merajalela. Salah satunya melalui mo­dus phising (mengelabui). Karena itu, kewaspadaan dan sikap hati-hati perlu ditingkatkan guna mencegah terjadinya kejahatan siber tersebut.

Akun @indonesiabaik.id mengungkap­kan, modus pelaku kejahatan siber yang kini menggunakan kode QR berisi situs phising. Tampilan situs kemudian dibuat semirip mungkin dengan halaman login media sosial atau bank.

“Penjahat siber menjebak korban melakukan scanning barcode/kode QR untuk kemudian memasukkan data pribadi seperti nomor rekening, kata sandi, dan nomor kartu kredit,” ungkap @indone­siabaik.id.

Akun @hestinovi0211 mengatakan, salah satu cara untuk menghindari kejahatan phising adalah dengan melek teknologi. Saat ini, kata dia, penjahat kian mengikuti zaman dengan melek teknologi.

“Teknologi ibarat pisau bermata dua, bisa disalahgunakan. Hati-hati cek selalu apakah link asli atau jebakan, cek keas­lian poster, pamflet, website apakah ada kejanggalan atau perbedaan,” ungkap @ddhendarlan.

Berita Terkait : Mega Sehat, Tapi Jaga Keseimbangan

Akun @keynara_chalisa_bagja meminta publik tidak langsung percaya jika mendapat pesan digital berisi link website. Kata dia, jika dihubungi siapa pun dan meminta untuk mengklik di Whatsapp, jangan pernah mau.

“Karena jika tulisan biru itu diklik, maka semua uang di rekening akan tersedot masuk ke rekening mereka tak bersisa,” tuturnya.

Akun @uswahtun_hawatun mengingatkan masyarakat untuk lebih hati-hati lagi kalau melakukan pembayaran via kode QR. Kata @emha_yusof, jangan sembarangan scan QR Code.

“Makin marak penipuan chat phising memakai cara penagihan pinjol (pinjaman online),” tambah @Partono_ADjem.

Akun @keynara_chalisa_bagja mem­inta Pemerintah dan Polri segera mengatasi kejahatan phising yang semakin merajalela. Apalagi, kerugian yang dialami korban sudah sangat besar.

Berita Terkait : Semoga Saja Pelayanan Kepada Pasien Tak Buruk

“Pelaku phising ada yang mengaku sudah dapat Rp 3 triliun lebih dari hasil menyedot rekening orang lain,” ung­kapnya.

 

Akun @lian_dree mengungkap, ada yang kena tipu link phising ATM dan kehilangan duit sampai Rp 1,1 miliar. Dia mengaku syok mendengar kabar tersebut. Kata dia, terkena tipu kasus serupa den­gan nilai di bawah Rp 10 juta sudah mau meninggal rasanya.

“Nggak kebayang rasanya bagaimana kalau jadi korban yang kena tipu dengan nilai Rp 1,1 miliar,” ungkapnya.

Akun @faridzdzdz mengaku sering mendapatkan email berisi spam phising. Kata dia, pengirimnya pakai nama email yang tidak jelas. “Aku nggak peduli,” ujarnya.

Akun @NadineFadillah meminta masyarakat waspadai terhadap oknum yang menghubungi dan mengatasnama­kan perbankan. Termasuk juga, kata dia, jangan sembarangan memberi data prib­adi, dan data perbankan kepada orang-orang yang sama sekali tidak dikenal.

Berita Terkait : Kembali Latihan, Ini Jadwal Laga Persib Di Piala Presiden

“Jaga kerahasiaan PIN, nomor rekening, nomor kartu, username dan pass­word,” tuturnya.

Akun @ASaqabat mengatakan, data pribadi di ruang digital sangat rentan diambil alih oleh pihak tidak bertanggung jawab. Karena itu, menjaga kerahasiaan data pribadi sangat penting.

“Betul banget wajib menjaga kera­hasiaan data pribadi,” timpal @theo­dore_caden.

Senada dilontarkan @billie_burn1. Kata dia, utamakan kewaspadaan. @ekaputri1788 menambahkan, data pribadi jangan sampai ada yang bocor.

“Semoga kita selalu dihindarkan dari tindak kejahatan digital,” harap @AmelAfifah3. [ASI]