Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Akun @mamunmurod mengingatkan, di era Pemilu 2024, partai politik tidak boleh bergerak sendiri-sendiri dalam menentukan pilihan calon presiden. Harus mendengar suara masyarakat.
“Apalagi pemilih tradisional yang selama ini menjadi basis dukungan politiknya,” kata dia.
Akun @kpu_demakkab mengatakan, dalam upaya mewujudkan partisipasi masyarakat untuk menentukan pemimpin bangsa berintregitas dan membentuk Pemilu Serentak 2024 yang berkeadaban, bukan hanya tanggung jawab KPU. Tapi, menjadi agenda semua pihak. Baik partai politik, mahasiswa dan seluruh masyarakat Indonesia, karena ini menjadi hajat bersama.
Baca juga : Zainul Miftah Siap Jika Diberi Amanah Golkar
“Tentu saja, sinergitas dari penyelenggara pemilu, peserta pemilu dan seluruh masyarakat adalah kunci upaya mewujudkan pemilu yang berintegritas dan berkeadaban,” jelasnya.
Menurut @Ahmadya08, perpecahan bisa terjadi manakala Pemilu 2024 diselenggarakan dengan tidak mengikuti asas Pemilu. Yaitu, asas jujur dan adil atau JURDIL.
Akun @mmis kun137 menolak pemimpin yang melakukan money politics. “Soalnya, setiap pemilu pasti ada money politics,” ujarnya.
Baca juga : Wamenag Pimpin Delegasi Amirul Haji Bertolak Ke Arab Saudi
Bahkan, kata @bawaslu_RI, dana desa yang besar berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan partai politik tertentu atau peserta pemilu/pilkada tertentu. Dia mengingatkan, hal itu harus diwaspadai. “Karena itu masuk dalam kategori politik uang,” kata dia.
Sementara, @Swlilham31 menuding bahwa perpecahan Pemilu berasal dari parpol. Soalnya, masyarakat hanya tinggal mencoblos saja.
“Makanya, ke depan di Pemilu 2024, siapa pun yang diusung partai tidak usah dipilih,” timpal @Galileorai87.
Baca juga : Waspada Data Ekonomi AS, Rupiah Tak Bertenaga
Akun @Gusty363 mengatakan, mendekati pemilu semua pihak pasti dirangkul partai. Seperti, kaum radikal, intoleran, selama menguntungkan buat partai. Hal itu dilakukan untuk mendulang suara pemilu.
“Semua partai politik, saat hajatan pemilu sudah dekat, pasti mengaku memperjuangkan aspirasi rakyat. Tapi kalian sahkan Undang-Undang Cipta Kerja dan Pertanahan Nasional yang sangat merugikan rakyat?” kritik @Yudiset1645. [TIF]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya