Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Berkunjung Ke Sekolah & Klinik Pedalaman Papua
Terisolir, Guru & Suster Semangat Perangi Stunting & Buta Huruf
Selasa, 6 September 2022 18:40 WIB
Sebelumnya
Guru dan perawat yang mengabdikan diri di pedalaman Papua, berasal dari Teacher College dan sekolah perawat di Pelita Harapan.
Mereka tinggal dan mendedikasikan dirinya sepenuh hati. Meski jauh dari kota dan kondisinya serba terbatas, mereka terlihat bahagia.
Dari Korupun, misalnya, untuk mencapai kota terdekat di Dekai, lewat darat, butuh waktu 1 hari jalan kaki. Atau butuh 3-4 hari untuk sampai Sentani, Jayapura.
Sekolah Lentera Harapan yang dibuka di Korupun, mendidik 165 murid. Dari jenjang TK sampai kelas 6 SD. Ada 7 guru yang mengajar di sana.
Guru dan anak-anak di Sekolah Lentera Harapan, Distrik Korupun, pedalaman Papua tampak bersemangat belajar, Jumat (2/9). (Video: Ratna Susilowati)
Berdekatan dengan sekolah, ada klinik dengan dua perawat. Obat-obatan di sana terlihat cukup lengkap untuk menangani penyakit kategori ringan.
Baca juga : Kunjungi PON Papua, Pangdam Kasuari Semangati Kontingen Papua Barat
“Kasus yang paling sering adalah luka terkena parang, dan ibu-ibu melahirkan,” ujar Daniel, salah satu perawat.
Kondisi sekolah di Nalca, kurang lebih mirip. Jenjang TK sampai SD ditangani sembilan guru. Jadwalnya lima hari sepekan. Senin sampai Jumat.
Tak jauh dari lokasi Sekolah Lentera Harapan Nalca, ada SD Negeri. Tapi hari itu, tak terlihat siswa atau guru yang datang.
Klinik Siloam di Nalca, memiliki beberapa ruangan. Dua perawatnya stand by. Salah satunya, Suster Novia yang sudah dua tahun mengabdi di situ.
“Apa alat yang tercanggih ada di sini?” tanya Prof Abdul Kadir.
Suster Novia bilang, ada alat-alat hecting (instrumen untuk bedah minor) dan peralatan untuk membantu melahirkan.
Baca juga : Sri Mulyani Memang Pandai Merangkai Angka Dan Data
“Tapi, di sini banyak dukun bayi. Jadi, kadang ada yang datang ke sini, bayinya sudah lahir,” kisahnya.
Kalau terjadi kasus, misalnya bayi sungsang, harus dibawa ke rumah sakit di Dekai, menggunakan pesawat.
Angka Stunting Tinggi
Penanganan stunting, sangat aktif dilakukan klinik Siloam. Angka stunting di Papua, terutama daerah pegunungan sangat tinggi.
Ciri-cirinya sangat khas: postur tubuh yang pendek, kurus, tapi perutnya buncit. Penyebabnya adalah kekurangan gizi. Mereka tidak tahu makanan bernutrisi. Kadang, hanya makan ubi dan air saja.
Kalau anak atau ibu hamil diberi telur, malah diberikan kepada ayahnya atau kakak-kakak lelakinya.
Baca juga : Ace Kobarkan Semangat Beragama Yang Moderat
Penanganan stunting: Anak-anak diberi makan telur, di klinik Siloam Korupun. (Foto: Ratna Susilowati)
Untuk kecukupan protein, ibu-ibu dan anak-anak yang datang ke klinik, diberi telur matang dan dimakan di situ.
Protein lainnya, berasal dari lele. Di samping klinik Siloam di Korupun, dibuka kolam budidaya lele. Ibu-ibunya, nanti diajari cara mengolah lele.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya