Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terbukti sudah gencar mengkampanyekan Pancasila via media massa dan media sosial. Hanya saja kontennya masih sebatas positif, belum optimal menyasar generasi milenial, Z, dan Alfa.
Hal ini terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Identifikasi Distorsi Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila Melalui Media Sosial yang digelar BPIP pada Kamis (27/10).
Direktur Media Kernels Indonesia Ismail Fahmi mengungkapkan, sejauh ini, BPIP belum banyak masuk ke platform kekinian, terutama TikTok. Padahal, aplikasi jejaring sosial itu digunakan 99,1 juta orang di Tanah Air.
Baca juga : Genjot Pembiayaan, LPEI Dorong Mitra Siap Ekspor
"Seandainya BPIP tidak muncul di TikTok, saya khawatir Pancasila didefinisikan orang lain, dan itu bisa benar, bisa salah," ujar Ismail.
Berdasarkan data Drone Emprit, ada banyak konten kreator yang saat ini membuat video dengan tema Pancasila. Hanya saja, sebagian besar video itu berbentuk hiburan seperti kuis. "BPIP harus masuk agar Pancasila dinarasikan secara benar," tukas Ismail.
Sementara Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Savic Ali menilai, ekspresi kebencian sangat mudah ditemukan di medsos. Oleh karena itu, BPIP perlu memastikan nilai-nilai Pancasila dapat ditemukan juga di medsos agar persatuan bangsa tetap terjaga. "Banyak kosakata kebencian yang mudah ditemukan di sosial media. Ini akan memberatkan mimpi kita tentang Pancasila terkait kemanusian. Tantangan bagi sila ke-3 Persatuan Indonesia," ungkap Savic.
Baca juga : Melihat Safari Puan, Imin Tidak Cemas
Adapun Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Prakoso mengungkapkan dengan adanya literasi digital melalui medsos, maka semua masyarakat harus bertanggung jawab yang sama untuk merawat NKRI .
"Negara ini dibentuk untuk punya visi dan misi, di situlah ada Pancasila. Teritorinya sudah jelas, tapi isi prinsipnya sebagai pemersatu bangsa Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila itu ada di jiwa seluruh warga Indonesia," paparnya.
Prakoso mengingatkan para pengguna medsos untuk menguatkan nilai Pancasila. "Walaupun kita berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Nilai-nilai ini yang harus kita dorong dan sadarkan ke masyarakat," terangnya.
Baca juga : Suharso Singgung Amplop Kiai, PPP Minta Maaf
Belum lama, Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP M. Akbar Hadi Prabowo menggagas dan mengkampanyekan hashtag #gemarmulia. Gerakan Masyarakat Menyebarkan Konten Mulia itu mengajak netizen bikin konten-konten positif.
Adapun FDG juga dihadiri antara lain oleh Pegiat Media Sosial Mohamad Syafi Alielha, Media & Communications Professional Rudy Andanu, Direktur Politeknik STIAN LAN Jakarta Nurliah Nurdin, Akademisi Alfi Rahmawati, dan Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Kerja Sama BPIP Elfrida Herawati Siregar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya