Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kevin Chandra Wijaya Chiong, Mahasiswa Universitas Brawijaya
Potensi Terpendam Lithium Geothermal Brine
Jumat, 30 Desember 2022 15:48 WIB
Tingginya kebutuhan energi dunia sampai saat ini masih didominasi bahan bakar fosil. Tingginya permintaan tersebut sejalan dengan peningkatan emisi CO2 di atmosfer. Pada 2019 misalnya, total emisi CO2 mencapai 35.513,3 juta Mt, dengan 25 persen berasal dari transportasi (IEA, 2020). Sehingga masyarakat dunia diharuskan untuk beralih dari ketergantungan fosil menuju energi terbarukan, salah satu diantaranya tranformasi sektor transportasi berbasis fosil menuju energi listrik.
Pernakah terpikir besarnya potensi gheotermal untuk kendaraan listrik masa depan di Indonesia? Cikal bakal tercetusnya kendaraan listrik dimulai ketika krisis minyak dunia menghantam California pada tahun 1970. Sejak saat itu, perkembangan kendaraan listrik terus tumbuh hingga 2020, pertumbuhan kendaraan listrik dunia tumbuh secara signifikan. Sejalan dengan itu, IEA (International Energy Agency) mencanangkan ketersediaan 245 juta kendaraan listrik pada tahun 2030 (IEA, 2020). Wacana tersebut juga sejalan dengan visi Presiden Jokowi yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat kendaraan listrik dunia. Lantas, apakah Indonesia memiliki sumber dayanya?
Indonesia sebagai negara yang dianugerahi sumber daya alam yang melimpah ruah, tentunya menjadi potensi dan keuntungan yang harus dikembangkan. Salah satunya ialah potensi geothermal. Indonesia yang dilalui jalur ring of fire memiliki potensi geothermal yang begitu besar dan menduduki peringkat dua dunia yaitu 28,617 MW atau 40% total potensi geothermal dunia (Regina, 2018). Dengan potensi tersebut, pemanfaatan energi geothermal di Indonesia difokuskan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan kapasitas terpasang mencapai 1,341 MW.
Baca juga : Universitas Trisakti Komitmen Lahirkan Entrepreneur Muda
Proses pembangkitan listrik dimulai dengan penyuntikan air ke dalam perut bumi dan akan mengalami pemanasan hingga sebagian berubah menjadi uap bertekanan. Uap dan air yang keluar dari sumur produksi dipisahkan menggunakan separator. Uap hasil separasi digunakan untuk menggerakkan turbin generator untuk menghasilkan listrik. Selain listrik, dihasilkan pula brine (fluida panas) yang merupakan air limbah separasi dan tidak termanfaatkan. Tingginya brine yang dihasilkan selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal penelitian menunjukan bahwa geothermal brine mengandung mineral berharga utama berupa Lithium yang berpotensi untuk diekstraksi.
Lithium (Li) merupakan logam yang memiliki konduktivitas listrik yang sangat baik dan paling elektronegatif. Lithium merupakan logam penting disamping nikel (Ni) dan kobalt (Co) yang merupakan bahan utama dalam pembuatan baterai, khususnya untuk kendaraan listrik, yang 40-50 persen komponen kendaraan listrik ada pada baterai. Berkaitan dengan hal tersebut, IEA mengungkapkan bahwa pasar kendaraan listrik dunia akan didominasi oleh baterai lithium hingga tahun 2030. Sehingga eksploitasi lithium perlu dijadikan agenda prioritas pemerintah untuk mendukung hal tersebut.
Sejumlah kecil lithium ditemukan dalam brine geothermal di beberapa daerah, salah satunya pada brine geothermal dari panas bumi Salton Sea, AS mengandung lithium sekitar 200 mg/L dengan estimasi ekstraksi hingga 70 persen (Garrett, 2018). Fakta ini menunjukkan bahwa energi geothermal memiliki potensi terpendam yang cukup besar selain untuk pembangkit listrik. Lantas bagaimana dengan potensinya di Indonesia? Berdasarkan riset, kandungan lithium pada sistem geothermal yang sudah dieksploitasi di Indonesia cukup tinggi sebesar 70 mg/L, sedangkan pada greenfield (belum dieksploitasi) mencapai 10-25 mg/L. PLTP Dieng misalnya, memiliki konsentrasi lithium dari sumur panas bumi paling tinggi mencapai 99,4 mg/L (Salafudin, 2021). Tabel berikut menunjukkan kandungan lithium di beberapa lapangan panas bumi di Indonesia.
Baca juga : Ganjar Ajak Wisudawan Universitas Pancasila Siap Hadapi Persaingan Global
Sementara itu, untuk lapangan panas bumi yang belum dieksploitasi, menunjukkan kandungan lithium yang meskipun tidak setinggi sistem eksploitasi. Hal ini disebabkan pada greenfields terdapat pengenceran dengan air tanah, sehingga konsentrasinya lebih kecil. Jika dibandingkan dengan lapangan panas bumi di dunia, kandungan lithium di Indonesia memang lebih kecil. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geologi, tipe sistem geothermal, tipe batuan reservoir, dan data hasil riset. Sehingga masih banyak ruang untuk riset dan mengungkap potensi lithium brine geothermal di Indonesia.
Mengingat kebutuhan akan lithium untuk kendaraan listrik terus mengalami perkembangan, maka lithium brine geothermal di Indonesia menjadi potensi yang menjanjikan. Akan tetapi, sampai saat ini, metode ekstraksi lithium brine hingga menjadi litium murni yang kemudian digunakan untuk baterai masih menjadi hambatan. Ekstraksi lithium perlu menjadi perhatian dan dilakukan serangkaian riset mendalam. Saat ini, terdapat 3 metode ekstraksi yang sudah diterapkan yaitu LDH (lithium layered hydroxide) dengan adsorpsi, DLE (Direct Lithium Extraction) dengan teknik pertukaran ion, dan elektrodialisis dengan memanfaatkan potensial listrik (Fukuda, 2019).
Dengan potensi yang ada dan melihat permintaan pasar dunia akan lithium yang mencapai harga jual $13.500/ton tentu menjadi potensi yang luar biasa (BMI, 2021). Selain berdampak pada sektor ekonomi, produksi lithium brine gheotermal juga dapat menunjang pengembangan energi gheotermal di Indonesia dengan nilai 40% total panas bumi dunia. Potensi lithium dari brine geothermal di Indonesia cukup menjanjikan dalam mendukung pengembangan kendaraan listrik yang menjadi trend di masa depan serta meningkatkan nilai tambah panas bumi selain untuk energi listrik. Apalagi dengan pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik di Morowali 2019 lalu merupakan langkah awal bagi pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat kendaraan listrik dunia.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya