Dark/Light Mode

Jumlah Pemilih Milenial Capai 60 Persen

Ingat, Nasib Pemilu 2024 Tergantung Kaum Muda

Selasa, 21 Maret 2023 06:45 WIB
Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) August Mellaz. (Foto: Antara).
Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) August Mellaz. (Foto: Antara).

RM.id  Rakyat Merdeka - Komposisi pemilih dalam Pemilu 2024 akan didominasi oleh kelompok usia muda atau milenial. Jumlahnya mencapai 60 persen dari total pemilik suara sah.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) August Mellaz mengatakan, data jumlah pemilih milenial mencapai 60 persen berdasarkan DP4 (Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu) dari Pemerintah.

“Proporsi pemilih tahun 2024 usia 17-39 tahun itu 55 sampai 60 persen,” ungkapnya.

August mengatakan, data pemilih dalam Pemilu 2024 di atas secara teoritis berasal dari gen z dan milenial. Kelompok pemilih yang tumbuh dan hidup di Indonesia secara genetika berbeda. Karena itu, partai politik juga perlu melihat paradigma pemilih ini.

Baca juga : Bawaslu Ajak Milenial Melek Informasi Pemilu

“Mereka ramah dengan pemanfaatan teknologi informasi. Mereka juga sumber informasi yang bisa didapatkan dengan cepat,” tutur August.

August menilai, KPU tidak terlalu khawatir para anak muda tersebut akan terjangkit politik identitas. Pasalnya, anak muda memiliki mekanisme sendiri untuk menangkal itu.

“Justru, anak muda yang ada di Indonesia sudah dalam kehidupan bersosial, berkomunitas dan biasanya berinteraksi dengan preferensi yang berbeda-beda,” katanya.

Yang membuat August khawatir, penyebaran hoax politik identitas melalui media sosial dan pemanfaatan teknologi lain. “Hoax segala macam ya. Itu satu hal kita harus antisipasi,” ucapnya.

Baca juga : Lawan Persija, Barito Putera Diuntungkan Masa Pemulihan

Dia mengatakan, para pemilih muda harus memiliki cara untuk memilah dan memfilter informasi yang beredar. Setidaknya, ada tiga cara untuk memilah dan memilih informasi.

Pertama, apakah informasi itu sah atau tidak kalau diproduksi oleh lembaga yang otoritatif misalnya KPU, resmi. Kedua, apakah informasi tersebut dikonsumsi oleh media mainstream.

“Ketiga, filtrasi informasi itu bisa dilakukan dari lapisan terkecil, yakni keluarga, orang tua dengan berdiskusi saat makan malam bersama,” ungkap August.

Dia tidak memungkiri, terdapat sejumlah anak muda yang apatis atau tidak peduli dengan pemilu/politik. Salah satu penyebabnya, karena setiap pemilu, anak muda tidak mendapatkan kesempatan atau ruang.

Baca juga : AHY Terus Panasin Mesin

“Mereka bahkan menganggap setiap pilihan yang mereka ambil di bilik suara tidak pernah berdampak dalam kehidupannya. Misalnya, ada ungkapan, ‘gue nyoblos A atau B nggak ngaruh juga buat hidup gue’,” ungkap August.

Karena itu, August berharap, anak muda mau ikut serta dalam Pemilu 2024. Baik sebagai calon pemimpin, petugas penyelenggara ataupun pemilih. Karena, nasib Pemilu 2024 sangat bergantung pada anak-anak muda.

“Sepanjang dia warga negara, maka setiap keputusan politik akan berdampak ke semua orang yang ada di dalam sistem politik atau negara tanpa terkecuali. Inilah mengapa politik itu penting,” tambah August.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.