Dark/Light Mode

KTT ASEAN Labuan Bajo Harus Mengatensi Enabling Environment

Minggu, 7 Mei 2023 09:55 WIB
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Foto: Istimewa)
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelaksanaan KTT ASEAN Labuan Bajo sudah di depan mata. Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menyarankan, agar pelaksanaan KTT ke-42 ASEAN ini mengantensi enabling environment alias penciptaan lingkungan yang kondusif.

KTT ke-42 ASEAN ini akan dihadiri delapan pemimpin/presiden negara-negara di ASEAN, Sekjen ASEAN, serta Perdana Menteri Timor Leste. Sebelum KTT yang diselenggarakan pada 10-11 Mei 2023, akan ada beberapa pertemuan. Pada 8 Mei 2023 bakal digelar pertemuan Committee Permanent Representative to ASEAN (CPR), para dubes dan wakil tetap pejabat senior ASEAN. Kemudian, pada 9 Mei 2023 ada pertemuan para Menteri Luar Negeri.

Sebelum rangkaian tersebut dimulai, terdapat juga pertemuan di tiga pilar utama ASEAN. Yaitu APSC (ASEAN Political Security Community), AEC (ASEAN Economic Community), dan ASCC (ASEAN Socio Cultural Community).

Baca juga : Dirut PLN Pastikan, Listrik Di Semua Lokasi Acara Siap 100 Persen

Nuning, sapaan akrab Susaningtyas, mengatakan, dari berbagai pertemuan yang diadakan pada KTT ASEAN tersebut, perlu mengatensi enabling environment yang pernah disampaikan Presiden Jokowi pada KTT ASEAN 2022. “Harus ada kesepakatan terciptanya kerangka hukum dan kebijakan yang mendukung, serta meningkatkan kemampuan antarpihak agar bisa berperan lebih baik sehingga ASEAN kembali berwibawa dan bermanfaat bagi negara-negara anggotanya,” ucap mantan anggota Komisi I DPR ini, Minggu (7/5).

Nuning melanjutkan, Presiden Jokowi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dalam hal ini, kehadiran fisik alutsista Indonesia secara permanen ada di ZEE merupakan keniscayaan. Sedangkan dari perspektif keamanan, Indonesia melalui ASEAN dapat berupaya mempercepat penyelesaian Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan antara Angkatan Laut ASEAN dengan Angkatan Laut China.

“Dengan berlakunya COC, masing-masing Angkatan Laut menerapkan mekanisme pencegahan konflik di laut. Mekanisme COC ini sangat penting untuk meredam eskalasi konflik untuk tidak meningkat menjadi perang. Mendorong PBB untuk lebih berperan menyelesaikan konflik Laut China Selatan atas klaim 6 negara sesuai dengan Piagam PBB sebagai wujud resolusi konflik,” terangnya.

Baca juga : Dukung KTT ASEAN Di Labuan Bajo, Toyota Serahkan 65 Unit bZ4X Ke Setneg

Peraih gelar doktor bidang intelijen ini melanjutkan, penting bagi TNI melaksanakan sesuai data-data intelijen beberapa tahun terakhir. TNI diharapkan lebih aktif lagi di dalam mewujudkan stabilitas keamanan regional. TNI harus menunjukkan leadership di antara militer negara-negara anggota ASEAN.

“TNI dapat menyusun program aksi keamanan regional sesuai dengan ASEAN Political-Security Community yang telah dicanangkan sejak 2015. Kawasan perairan Laut Sulu antara Indonesia-Filipina-Malaysia dapat menjadi fokus TNI di dalam menunjukkan leadership di ASEAN. Dengan mewujudkan ketahanan regional, otomatis TNI juga dapat mewujudkan ketahanan nasional,” terangnya.

Menurut Nuning, ASEAN juga harus serius membahas perlindungan pekerja migran. Karena adanya perubahan geopolitik, demografi penduduk dan perubahan iklim yang menghendaki negara bertumpu pada kerja sama dengan masyarakat sipil untuk memperkuat daya tawar antarnegara.■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.