Dark/Light Mode

Waka BPIP Ajak Forum Mahasiswa Kedinasan Berpikir Kritis Dan Kreatif

Senin, 5 Juni 2023 09:51 WIB
Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Karjono Atmoharsono. (Foto: Ist)
Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Karjono Atmoharsono. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Karjono Atmoharsono mengajak, mahasiswa kedinasan untuk berpikir kritis dan kreatif serta menekankan pentingnya karakter moral bagi calon pemimpin bangsa.

Hal tersebut disampaikan Karjono saat menjadi pembicara kunci dalam Forum Mahasiswa Kedinasan Indonesia, dalam acara Kaderisasi Nasional yang diselenggarakan di Politeknik Statistika, Jakarta, Sabtu (3/06).

Dalam paparannya, Karjono menceritakan pidato Bung Karno yang terkenal tentang pemuda yaitu, "beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan aku guncang dunia".  Menurut Karjono, pemuda yang bisa mengguncang dunia itu harus berpikir kritis dan kreatif.  "Serta memiliki semangat dan karakter moral yang baik sebagai pewaris kepemimpinan bangsa," kata Karjono. 

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Terbuka ini menjelaskan berpikir kritis artinya bersifat tidak lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan dan tajam dalam penganalisisan. Berpikir kreatif artinya  memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan kecerdasan dan imajinasi. 

Baca juga : Kepala BPIP: Ulama Dan Budayawan Berperan Jaga Pancasila

Karjono menjelaskan, pendidikan Kedinasan dalam PP 14/2010 disebutkan sebagai pendidikan yang mengajarkan keahlian khusus. Dalam peraturan itu juga disebutkan  mahasiswa harus mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi dan memiliki karakter Pelajar Pancasila yang telah dicanangkan oleh Mendikbud Ristek "Karakter pelajar Pancasila dan melalui konsep Merdeka Belajar, diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan secara optimal," ungkapnya.

Karjono juga menekankan pentingnya memiliki daya ungkit dalam mencapai tujuan. Ia menjelaskan di Universitas Pertahanan misalnya, mata kuliah keagamaan diajarkan secara menyeluruh kepada mahasiswa berbagai agama sehingga diperoleh ilmu sejati. Juga menumbuhkan toleransi dan menjunjung tinggi kerukunan umat beragama. "Keberagaman itu indah dan tidak boleh dibanding-bandingkan," ujarnya.

Karjono lalu berbagi nasihat tentang cara menjadi pemimpin yang baik seperti lebih baik ngomong kenceng salah dari pada diam betul atau ngomong kenceng, cepat dan menguasai materi. Ia juga menekankan pentingnya memiliki kelebihan dibanding yang lain, atau memiliki daya ungkit, seperti datang lebih awal dan pulang setelah temennya pulang.

Karjono juga menanyakan kepada para mahasiswa tentang pilihan mereka antara menjadi profesional atau loyal. Profesional dan loyal adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Baca juga : Goes To Campus, Srikandi BUMN Ajak Mahasiswa Berkarier Di BUMN

Karjono juga menanyakan kepada mahasiswa kedinasan di Seluruh Indonesia yang diwakili 120 orang mahasiswa, siapa yang beranggapan bahwa Pancasila bisa di ubah. Hasilnya sebanyak 117 orang tidak setuju,  dan yang setuju 3 orang. Maka Karjono memberikan apresiasi atas hasil tersebut. 

Karjono lalu menceritakan survei dari Setara Institute, sekitar 83,3  persen pelajar SMA beranggapan Pancasila dapat diubah padahal ideologi negara adalah ideologi yang harus dipertahankan. Contoh yang terjadi di Afganistan, Suriah, Irak, atau Myanmar di mana agamanya satu agama dan suku hanya beberapa suku antara 3 sampai 6 suku tetapi dari dulu perang tidak selesai, Sedangkan di Indonesia, beratus-ratus suku bangsa, agama beragam.

Hasil survei tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran yang serius terkait pentingnya Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Hal ini disebabkan oleh penghapusan Tap MPR II/1978, Lembaga BP7 dibubarkan pada era reformasi dan penggantian UU Sisdiknas menghilangkan mata ajar Pancasila. “Generasi milenial dipengaruhi Barat melalui media sosial," ujarnya. 

Ia menceritakan, Pancasila mulai dihidupkan Kembali semasa Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR. Saat itu dibentuklah empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. 

Baca juga : KPK Nggak Worry Sekma Hasbi Hasan Melarikan Diri

Kemudian lembaga UKP PIP dan direvitalisasi menjadi BPIP. Saat ini telah lahir PP 4/2022 tentang Standar Pendidikan Nasional, di mana dalam PP tersebut terdapat ketentuan wajib mata ajar Pancasila mulai dari PAUD hingga pendidikan tinggi. bahkan pendidikan formal untuk Pendidikan Informil maupun non-formal.

Bung Karno pada Pidato 1 Juni menawarkan Kalau Mau Pancasila, Kalau tidak Mau Tri Sila, atau Kalau Tidak mau Eka Sila, yaitu Gotong Royong, artinya inti sari Pancasila adalah Gotong Royong, Dalam bidang Ekonomi, Politik dan Budaya, Bung Karno juga mengajarkan ajaran Tri Sakti, yakni berdaulat dalam bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.

Terakhir, Karjono mengingatkan kita bahwa kita hidup di negara ini, negara yang memiliki ideologi Pancasila. Kita hidup di negara yang berbhineka, oleh karena itu harus dijaga kesatuan dan persatuan NKRI.

Dalam acara, turut hadir Rektor Universitas Pertahanan Amarulla Octavian,  Direktur Politeknik Statistika STIS Erni Tri Astuti, Wakil Direktur III Politeknik Statistika STIS Yunarso Anang,  dan Plt. Asisten Deputi Manajemen Talenta dan Peningkatan Kapasitas SDMA - KemenPANRB, Agus Yudi Wicaksono.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.