Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Kadiv Hubinter Polri Duga Harun Masiku Ngumpet Di Dalam Negeri

Senin, 7 Agustus 2023 11:35 WIB
Foto: Oktavian/Rakyat Merdeka
Foto: Oktavian/Rakyat Merdeka

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri Irjen Krishna Murti mengungkapkan, buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Harun Masiku terdeteksi berada di dalam negeri.

"Ada data perlintasannya yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan ada di dalam negeri," ungkap Khrisna, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (7/8).

Menurut eks Direskrimum Polda Metro Jaya ini, Harun Masiku sempat ke luar negeri. Namun, sehari kemudian, dia kembali ke Tanah Air.

"Lupa tanggalnya, tapi ada. Sehari setelah dia keluar, dia balik lagi ke dalam (negeri). Jadi dia sebenarnya bersembunyi di dalam, tidak seperti rumor (berada di luar negeri)," ungkapnya.

Baca juga : Kadiv Hubinter Polri Datangi KPK, Bahas Pencarian Buronan

"Pernah keluar dan langsung kembali. Bukan keluar masuk," sambung Khrisna.

Meski begitu, dia memastikan, pihaknya juga tetap mencari keberadaan buronan kasus dugaan suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024 ini di luar negeri.

"Tapi kita juga tidak menghentikan pencarian dari yang bersangkutan di luar," tegasnya.

Selain Harun, KPK juga masih mengejar dua buronan lain. Keduanya yakni Kirana Kotama, yang dicari sejak 2017 karena dugaan suap pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau pada 2014 kepada Kementerian Kehutanan.

Baca juga : Die Roten Belum Menyerah

Serta, Paulus Tannos yang tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan e-KTP. Dia saat ini berada di Singapura.

"Dua buron lain Insya Allah, tadi kita melakukan komunikasi ketat. Tadi kami akan membicarakan lebih lanjut apa bantuan teknis yang bisa diberikan," ungkap Khrisna.

Harun Masiku ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menyuap mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan agar bisa ditetapkan sebagai pengganti Nazarudin Kiemas yang lolos ke DPR namun meninggal dunia.

Ia diduga menyiapkan uang sekitar Rp 850 juta untuk pelicin agar bisa melenggang ke Senayan.

Baca juga : Yasonna Laoly: Pemerintah Komit Dukung Produk Dalam Negeri

Harun Masiku "hilang" usai KPK menangkap tangan Wahyu Setiawan pada 8 Januari 2020.

Sampai saat ini, keberadaannya belum juga diketahui oleh lembaga penegak hukum.

Sempat disebut berada di sejumlah negara, seperti Malaysia dan Kamboja, jejak Harun tak terendus di sana. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.