Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

BP2MI Sentil Penyalur Yang Tidak Komit Dengan Kontrak Perjanjian Kerja

Senin, 25 September 2023 18:59 WIB
Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani berfoto dengan salah satu PMI terkendala di Taiwan.
Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani berfoto dengan salah satu PMI terkendala di Taiwan.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani menemui delapan PMI terkendala yang sedang berkumpul di shelter Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taiwan di Kaohsiung, Taipei, Taiwan, Minggu (24/9).

Adapun delapan PMI terkendala tersebut yakni empat orang yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), tiga orang penata laksana rumah tangga (PLRT), dan satu orang bekerja di sektor manufactur.

Sulfiani, PMI terkendala asal Bima, NTB, mengaku dia dipekerjakan majikannya untuk berjualan di pasar. Padahal, dalam kontrak perjanjian kerja, pria berusia 28 itu mestinya bekerja sebagai PLRT.

Baca juga : HUT Ke-74 Tiongkok, Persahabatan Dan Kemitraan Dengan Indonesia Kian Kokoh

Merespon hal itu, Benny langsung menghubungi pihak perusahaan yang memberangkatkan PMI tersebut, agar segera mengupayakan pekerjaan baru untuk Sulfiani.

“Jadi Saya minta Bapak mengupayakan para PMI seperti ini (Sulfiani) mendapat pekerjaan kembali. Tentunya yang sesuai perjanjian kerja,” kata Benny ke perusahaan penyalur Sulfiani yang berlokasi di Bekasi, dalam keterangannya, Senin (25/9).

Benny juga menyentil perusahaan di mana Sulfiani mendaftar sebagai PMI.

Baca juga : Kiai Di Lebak Minta Ganjar Kembangkan Ekonomi Berbasis Pertanian Di Pesantren

"Coba bayangkan kalau mereka adalah keluarga kita atau anak kita. Sudah pamit dari rumah berharap sukses, ternyata ada masalah. Ini sekarang di shelter, masih untung kalau di shelter ada negara yang menanggung makan, minum, dan keselamatannya," jelas politisi partai Hanura itu.

Selain itu, Benny juga masih menemukan adanya kasus overcharging yang dilakukan oleh penyalur. Benny meminta pihak perusahaan di Indonesia untuk melapor ke KDEI agar dapat ditindaklanjuti.

"Supaya bisa dicarikan penyalur lain untuk bekerjasama," ucap dia.

Baca juga : Ganjar Komitmen Bangun Layanan Mental Health Di Kampus Dan Puskesmas

Di kesempatan sama, Wakil Kepala KDEI, Zulmartinof, berharap para PMI yang berada di shelter segera mendapat pekerjaan lagi.

“Kami berharap mereka (para PMI) di sini (shelter) tidak lama, dan kita akan upayakan penyelesaian secepat mungkin agar mereka dapat kembali bekerja,” beber Zulmartinof.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.