Dark/Light Mode

BMKG: Penanganan Kekurangan Air Global, Harus Ditangani Bersama

Jumat, 13 Oktober 2023 21:50 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam acara The 2nd Stakeholders Consultation Meeting (SCM)sebagai rangkaian 10th World Water Forum di Intercontinental Bali Resort, Bali, Jumat (13/10). (Foto: Dok BMKG)
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam acara The 2nd Stakeholders Consultation Meeting (SCM)sebagai rangkaian 10th World Water Forum di Intercontinental Bali Resort, Bali, Jumat (13/10). (Foto: Dok BMKG)

 Sebelumnya 
World Meteorological Organization (WMO) telah menerbitkan laporan State of Global Water Resources 2021 atau Keadaan Sumber Daya Air Global yang pertama untuk menilai dampak perubahan iklim, lingkungan, dan sosial terhadap sumber daya air di bumi.

Tujuan dari inventarisasi tahunan ini adalah untuk mendukung pemantauan dan pengelolaan sumber daya air tawar, meningkatnya permintaan dan mengukur terbatasnya pasokan.

Laporan ini memberikan gambaran umum tentang aliran sungai, serta banjir besar dan kekeringan. Laporan ini juga memberikan wawasan mengenai titik-titik panas (hotspot) perubahan dalam penyimpanan air tawar dan menyoroti peran penting dan kerentanan kriosfer (salju dan es).

Baca juga : De Gea Digusur, MU Blunder

Selain itu, laporan juga menunjukkan banyak wilayah di dunia yang mengalami kondisi lebih kering dibandingkan kondisi normal pada 2021, tahun di mana pola curah hujan dipengaruhi oleh perubahan iklim dan peristiwa La Nina.

"Laporan yang dirilis oleh WMO menyoroti beberapa tantangan penting terhadap sumber daya air global yakni ekstrem hidrologi, hilangnya air bersih (perpindahan air bersih tahunan di darat), isu kurangnya akses air bersih atau akses yang tidak setara terhadap air bersih (ketidakadilan air)," jelasnya.

Dwikorita yang juga menjabat Dewan Eksekutif World Meteorological Organization menilai, ancaman krisis air akibat perubahan iklim ini sudah terlihat sangat jelas.

Baca juga : Ketua MK Raih Penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka 2023 Perpusnas

Misalnya, cuaca ekstrem, iklim, dan peristiwa terkait air menyebabkan 11.778 bencana yang dilaporkan antara 1970 dan 2021.

Negara-negara maju mengalami lebih dari 60 persen kerugian ekonomi akibat perubahan iklim, namun sebagian besar di bawah 0,1 persen Produk Domestik Bruto (PDB) mereka.

Pada negara-negara terbelakang, 7 persen bencana menyebabkan kerugian lebih dari 5 hingga 30 persen.

Baca juga : Atasi Stunting Di DKI Butuh Tenaga Ekstra

Di negara kepulauan kecil, 20 persen bencana menyebabkan kerugian lebih dari 5 persen PDB, bahkan ada yang melebihi 100 persen.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.