Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Kasih Pidato Lewat Rekaman di COP 28, Luhut Bugar Walau Belum Pulih Total

Senin, 4 Desember 2023 08:55 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, berpidato lewat video, di Conference of Parties COP 28, di Dubai, Uni Emirat Arab, Sabtu malam (2/12/2023). (Foto: Istimewa)
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, berpidato lewat video, di Conference of Parties COP 28, di Dubai, Uni Emirat Arab, Sabtu malam (2/12/2023). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meski kondisi kesehatannya belum pulih benar, Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, masih semangat bekerja. Pensiunan tentara berpangkat jenderal yang kini berusia 76 tahun itu, tampil di Konferensi Perubahan Iklim atau Conference of Parties (COP) 28, di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Luhut tampak bugar. Dalam pidatonya, Luhut menekankan pentingnya kolaborasi pembiayaan antara negara maju dan negara berkembang untuk mengatasi krisis iklim.

Luhut memberikan pidato kunci di sesi diskusi bertajuk Indonesian Just Energy Transition Partnership (JETP) yang digelar di Indonesia Paviliun, di Dubai, pada Sabtu (2/12/2023) malam. Luhut tak hadir langsung di lokasi. Luhut menyampaikan materi lewat video rekaman yang ditayangkan di acara diskusi.

Dalam pidatonya, Luhut menyampaikan, Peluncuran Rencana dan Kebijakan Investasi Komprehensif (CIPP) Just Energy Transition Partnership (JETP) merupakan tonggak sejarah komitmen Indonesia dalam mengatasi krisis iklim. "Hal ini juga menunjukkan kolaborasi antara Indonesia sebagai negara berkembang dan negara maju," kata Luhut, dalam keterangan tertulis, Minggu (4/12/2024).

JETP merupakan sebuah kemitraan transisi energi bersih senilai 20 miliar dolar AS yang melibatkan Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalam International Partners Group (IPG). IPG terdiri dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Kanada, Denmark, Uni Eropa, Jerman, Prancis, Norwegia, Italia, dan Inggris. Dalam kemitraan ini, negara maju berkomitmen memberikan pendanaan dalam pengurangan emisi karbon Indonesia di sektor energi. Program pendanaan ini misalnya membantu Indonesia meninggalkan energi batu bara, sekaligus mendorong transisi ke penggunaan teknologi yang lebih rendah karbon.

Kata Luhut, usaha untuk menurunkan emisi karbon tak bisa dilakukan dengan pendekatan biasa-biasa saja. Pendanaan iklim yang tersedia saat ini sebagian besar mengadopsi pendekatan business as usual, yaitu pendanaan yang menuntut pengembalian modal seperti biasanya.

Baca juga : Bos FPCI: Dewan Keamanan PBB Sudah Lumpuh, Seruan Moral Warga Dunia Dibutuhkan

Pendekatan seperti ini, lanjut dia, dapat membebani negara berkembang. "Kita perlu menemukan cara yang lebih baik untuk memobilisasi dan berbagi teknologi dan modal, sehingga negara-negara berkembang dapat terus tumbuh dan berkembang," ucapnya.

“Sekali lagi saya hanya ingin menekankan bahwa menurut saya, kolaborasi antara negara berkembang dan negara maju sangat penting dalam program ini," tuntasnya. 

Menteri ESDM Luncurkan Bali Statement

Pada Minggu (3/12/2023), giliran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif tampil di COP 28. Arief meluncurkan Bali Statement bersama International Hydropower Association (IHA), di Paviliun Indonesia, COP 28 di Dubai. Peluncuran ini menyusul suksesnya World Hydro Power Congress (WHC) 2023 di Bali, Oktober lalu.

WHC 2023 menyepakati Bali Statement tentang "Powering Sustainable Growth", yang menegaskan kembali peran pembangkit listrik tenaga hidro sebagai tulang punggung strategi nasional dalam membangun ekonomi rendah karbon.

Dalam pidatonya, Arifin menyampaikan, saat ini, sebagian besar potensi pembangkit tenaga hidro yang belum dimanfaatkan berada di negara-negara berkembang. Bali Statement memberikan empat rekomendasi kepada pemerintah seluruh dunia mengenai hal ini.

Baca juga : Armada Pemadam Kebakaran Kota Bandung Belum Optimal

Pertama, merencanakan kebutuhan energi di masa depan dengan lebih banyak variabel energi terbarukan. "Kedua, memberikan insentif pada tenaga hidro yang berkelanjutan melalui mekanisme berbasis finansial dan pasar," kata Arifin, seperti dimuat di laman Kementerian ESDM. 

Ketiga, mengakselerasi pengembangan energi terbarukan melalui proses perizinan yang transparan dan efisien. Keempat, memasukkan praktik keberlanjutan tenaga hidro ke dalam regulasi dan kewajiban sektor keuangan.

Arifin menyampaikan, tenaga hidro memainkan peran penting dalam sistem energi di seluruh dunia. Sejalan dengan komitmen Paris Agreement, The International Energy Agency (IEA) dalam COP 27 menyatakan, tenaga hidro juga mencegah emisi sekitar 3 gigaton (GT) CO2 per tahun, yang mewakili sekitar 9 persen emisi CO2 tahunan global.

Di Indonesia, tenaga hidro telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyediaan akses listrik yang terjangkau, sekaligus memperkuat pengelolaan air dan melestarikan daerah tangkapan air di dalam sistem energi Indonesia selama satu abad terakhir.

Menurut Arifin, Indonesia memiliki potensi tenaga hidro lebih dari 95 gigawatt (GW), meski pemanfaatannya baru mencapai 7 GW. Senada dengan Bali Statement, Indonesia berharap untuk dapat memperkuat kolaborasi dan kerja sama dalam memanfaatkan potensi yang besar ini.

Baca juga : Kasih Pendidikan Politik Buat Masyarakat, Relawan Jokowi Gelar Diskusi Publik Secara Simultan

"Tidak hanya terbatas pada sumber tenaga hidro, tapi juga potensi yang belum tergali dari luas permukaan bendungan yang dapat dimanfaatkan untuk PLTS Terapung," ucapnya.

Arifin melanjutkan, Indonesia baru saja meresmikan PLTS Terapung Cirata yang berkapasitas 192 MWp, terbesar di Asia Tenggara. PLTS ini dibangun di atas bendungan seluas 200 hektar yang memiliki kapasitas PLTA sebesar 1 GW. Saat ini Indonesia juga tengah mengembangkan fasilitas pumped storage berkapasitas total 4 x 260 MW di PLTA Upper Cisokan, Jawa Barat.

Selanjutnya, dengan pengembangan tenaga hidro, diharapkan dapat menghasilkan listrik yang ramah lingkungan, meningkatkan stabilitas jaringan listrik, dan berkontribusi dalam membentuk masa depan energi berkelanjutan bagi generasi mendatang. Untuk mencapainya, diperlukan kolaborasi inklusif dalam pengembangan tenaga hidro.

Ia pun menyerukan kepada berbagai pihak global untuk mendorong kolaborasi inklusif dalam pengembangan tenaga hidro. "Dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa kita memiliki energi untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan," pungkasnya.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka, edisi Senin (4/12), dengan judul “Kasih Pidato Lewat Rekaman di COP 28, Luhut Bugar Walau Belum Pulih Total”.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.