Dark/Light Mode

Emisi Karbon Dan Sawit, Osco Puji Diplomasi Politik Hijau Jokowi

Senin, 3 Juni 2024 19:11 WIB
Mantan Ketua Umum Perhimpunan Alumni Jerman, Osco Olfriady Letunggamu. Foto: Istimewa
Mantan Ketua Umum Perhimpunan Alumni Jerman, Osco Olfriady Letunggamu. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Ketua Umum Perhimpunan Alumni Jerman, Osco Olfriady Letunggamu menyambut baik pertemuan Presiden Jokowi dengan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Andreas Bjelland Eriksen, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/6/2024).

Menurutnya, pertemuan ini menggaungkan mitigasi perubahan iklim dan memberikan pemahaman serta persepsi yang tepat agar tidak terjadi diskriminisasi Eropa terkait sawit di Indonesia.

"Pertemuan semacam ini menjadi penting karena membahas strategi dan kolaborasi antar negara dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi lingkungan," kata Osco di Jakarta, Senin (3/6/2024).

Diketahui, Norwegia dikenal sebagai negara yang aktif dalam upaya perlindungan lingkungan dan pengurangan emisi karbon. Indonesia dan Norwegia, melakukan kerjasama berupa pendanaan penurunan emisi dari defrorestasi dan degradasi hutan yang tertuang dalam kesepakatan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) medio 2010-2021.

Baca juga : Norwegia Bangga Bisa Kolaborasi Dengan Kita

Osco menjelaskan, keberhasilan Indonesia berhasil menurunkan emisi karbon medio 2020-2023.

Bahkan, Indonesia berhasil melampaui target komitmen penurunan emisi karbon dari tahun 2020 sebanyak 945 juta ton sampai pada tahun 2022 sebesar 875 juta ton.

"Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Siti Nurbaya Bakar memperkirakan pada tahun 2023 sebesar 810 juta ton," ungkapnya.

Ahli emisi karbon itu mengatakan, Osco melihat Presiden Jokowi melakukan diplomasi politik hijau internasional yang sangat piawai dalam pertemuannya dengan Menteri Lingkungan Hidup Norwegia.

Baca juga : Kawal Janji Politik Prabowo

"Pak Jokowi ingin membuat Norwegia sebagai mitra Politik Hijau yang strategis dan secara paralel Jokowi menyampaikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia mempunyai atensi yang sangat tinggi terhadap emisi karbon, tata kelola dana lingkungan hidup dan niaga karbon kredit," katanya.

Lebih jauh, pencapaian Indonesia pada target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink untuk Tahun 2030 terkait penggunaan hutan dan lahan akan memberikan manfaat ganda.

Yaitu, membantu Indonesia memenuhi target pengurangan emisi dan mendukung pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor, termasuk pertanian, kehutanan, dan energi.

"Kredit karbon menjadi instrumen penting dalam memfasilitasi transfer teknologi dan investasi ke sektor-sektor yang ramah lingkungan, serta memberikan insentif bagi negara-negara berkembang untuk mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan," tegas Osco.

Baca juga : Ini Respons Jokowi Soal Dinamika Politik Terkini

Namun, kata dia, penting untuk memastikan bahwa kerja sama ini didasarkan pada prinsip-prinsip yang adil dan transparan, serta memperhatikan kepentingan dan hak-hak masyarakat adat serta pelaku ekonomi lokal.

Selain itu, perlu juga dipertimbangkan mekanisme pengawasan dan verifikasi yang kuat untuk memastikan bahwa proyek-proyek yang didukung benar-benar memberikan manfaat yang signifikan dalam mengurangi emisi karbon dan menjaga kelestarian lingkungan.

"Secara keseluruhan, pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Menteri Eriksen merupakan langkah positif dalam memperkuat kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim," tambahnya.

Osco optimis, bahwa kerja sama ini akan membawa dampak positif bagi kedua negara dan juga dunia secara keseluruhan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.