Dark/Light Mode

Terjemahkan Al-Quran Ke Bahasa Betawi, Kemenag: From Local To Global

Kamis, 11 Juli 2024 13:47 WIB
Foto: Kemenag.
Foto: Kemenag.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya melakukan Penguatan Moderasi Beragama (MB) dengan menerjemahkan Al-Quran ke berbagai bahasa. Salah satunya, bahasa Betawi.

Kepala Badan (Kaban) Litbang dan Diklat Kementerian Agama Suyitno mengungkapkan, salah satu indikator penting dalam moderasi beragama adalah apresiasi terhadap budaya dan kearifan lokal.

“Orang-orang sering mengatakannya from local to global, dari bahasa daerah kita bawa ke dunia," ungkap Suyitno, di Jakarta, Rabu (10/7/2024).

Dia mengungkapkan, 15 juz Al-Quran yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Betawi dalam waktu empat bulan ini, merupakan langkah penting pemerintah dalam melestarikan budaya lokal melalui pendekatan keagamaan.

Suyitno menyataiab, Bahasa Betawi adalah bahasa yang familiar di kalangan masyarakat.

Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang tepat dan sesuai sangat penting untuk memastikan tidak terjadi kesalahan saat diterbitkan.

“Selain melibatkan ahli bahasa lokal, penerjemahan Al-Quran juga perlu memperhatikan sisi penafsiran. Tidak sekadar menerjemahkan, tetapi harus melibatkan ahli tafsir,” ingatnya.

Program penerjemahan ini tidak hanya bertujuan untuk memperkaya khazanah budaya lokal. Namun juga, untuk mengukuhkan nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan demikian, diharapkan akan tercipta harmoni sosial yang lebih kuat dan saling menghormati di antara berbagai komunitas yang ada di Indonesia.

Baca juga : Lawan Intoleransi, Terjemahkan Nilai-nilai Pancasila dalam Bahasa Milenial

Sementara itu, Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Moh. Isom mengimbau, tim penerjemahan Al-Quran Bahasa Betawi harus berupaya memilih diksi yang tepat, supaya terhindar dari kesalahan.

“Pembahasan ini menjadi sangat penting agar dapat menghasilkan penerjemahan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Isom.

Dia menjelaskan, ada tiga alasan memilih bahasa Betawi sebagai terjemahan Al-Quran. Pertama, bahasa Betawi termasuk dalam bahasa daerah di Indonesia yang paling banyak jumlah penuturnya.

Terdapat hampir 5 juta penutur bahasa Betawi. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa tersebut komunikatif, asik, dan dinamis.

“Masyarakat penuturnya bukan hanya di Jakarta, tetapi meluas sampai ke Bekasi, Depok, Karawang dan Tangerang,” paparnya.

Kedua, lanjut Isom, banyak kosakata bahasa Betawi yang terancam punah bahkan sudah menghilang dan tidak dikenal lagi oleh generasi kekinian.

Beberapa faktor penyebabnya antara lain tergusurnya kampung-kampung Betawi di Jakarta, arus modernisasi yang menggerus bahasa lokal.

“Selain itu, adanya perkawinan lintas etnis yang memungkinkan keluarga tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya,” imbuhnya.

Sementara faktor ketiga, karena sebagian besar etnis Betawi beragama Islam dan kitab sucinya Al-Quran.

Baca juga : Kemnaker: Bisa Dicegah, Manfaatkan Teknologi...

Jika Al-Quran diterjemahkan dengan menggunakan bahasa Betawi, maka diharapkan masyarakat Betawi lebih mudah memahami isinya sehingga mendorong untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Isom, penerjemahan Al-Quran bahasa Betawi akan diselesaikan selama 2 tahun.

Hasil penerjemahan yang sudah divalidasi, akan ditashih di Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama.

“Setelah ditashih, maka terjemahan Al-Qur’an Bahasa Betawi dan dikembangkan dalam platform digital yang dapat diakses melalui Android, IOS dan Ms. Word,” pungkasnya.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar menyambut baik Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Betawi.

Dia meyakini, banyak budaya, tradisi, kebiasaan, dan khazanah Betawi yang perlu dihidupkan.

“Pakaian, pencak silatnya, tradisi pernikahannya, atau makanannya perlu diungkap. Bahkan tata cara penyelesaian sengketa ala Betawi pun perlu digali,” katanya saat memberikan sambutan pada Pembahasan Penerjemahan Al-Quran Bahasa Betawi.

Asep mengusulkan agar diselenggarakan kontes budaya dan khazanah Betawi pada skala pertemuan internasional.

“Kita perlu menghidupkan kembali budaya Betawi ini agar tidak hilang tergerus zaman,” ujarnya.

Baca juga : Prabowo-Gibran Mulai Bahas Kementerian Urusan Maksi Gratis

Asep menambahkan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berperan penting dalam mendorong terbitnya Terjemahan Al-Quran Bahasa Betawi.

“Kampus memberikan dukungan melalui kontribusi dan kolaborasi para ahli di Pusat Studi Betawi UIN Jakarta,” ungkapnya.

Sebagai lembaga, UIN Jakarta dan Puslitbang LKKMO memiliki tanggung jawab untuk melestarikan bahasa dan budaya Betawi dalam konteks Al-Quran.

Oleh karena itu, pihaknya sangat senang bisa berkontribusi aktif dalam menghadirkan Terjemahan Al-Quran Bahasa Betawi.

Terjemahan Al-Quran Bahasa Betawi, kata dia, memiliki irisan-irisan bahasa serta budaya yang perlu dipahami anak muda.

"Bahkan generasi tua dapat memahami secara orisinal kandungan dan makna Al-Quran dalam konteks bahasa Betawi sebagai bahasa ibu,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.