Dark/Light Mode

Catatan Galuh Ibrahim, Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP

Iket Sunda, Ikat Nusantara

Senin, 26 Agustus 2024 19:01 WIB
Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP Galuh Ibrahim. (Foto: Ist).
Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP Galuh Ibrahim. (Foto: Ist).

RM.id  Rakyat Merdeka - Bhineka Tunggal Ika yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua adalah semboyan kebangsaan yang dijunjung tinggi, ada bukan tanpa alasan. Indonesia menduduki peringkat ke-15 negara terbesar di dunia dengan luasan wilayah sekitar 1,9 juta kilometer persegi. Bahkan, masuk 4 besar dunia dengan populasi 283.830.663 juta jiwa per 2024 (Worldmeters, 26/8/24). 

Secara geografis, Indonesia dianugerahi Yang Maha Kuasa berupa lebih dari 17 ribu pulau, yang sekitar 35 persennya berpenghuni. Topografi negeri kita juga sangat lengkap, bentangan samudera hingga barisan pegunungan menjadi ruang hidup ideal bagi jutaan jenis flora dan fauna. Sementara secara kebudayaan, Indonesia juga tumbuh dalam keragaman yang berlimpah ruah baik suku, bahasa, adat istiadat, seni tradisi, kuliner, dan keyakinannya. 

Data sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010, ada 1.340 suku tersebar di seantero negeri. Tak heran, ekspresi kebudayaan seperti pakaian adat dalam pergaulan sosial pun menjadi sangat berwarna-warni ragam rupanya. Lebih dari itu, tiap suku bangsa tak pernah sembarangan merancang busana. Selalu ada makna tersirat di setiap detail, sebagai cerminan luhurnya kearifan budaya lokal kita.

Filosofi Iket Sunda

Salah satu yang paling populer dan masih dipakai masyarakat hingga saat ini adalah iket atau penutup kepala bernuansa etnik. Kain penutup kepala tradisional itu tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap busana. Lebih dalam, ia mencerminkan nilai-nilai luhur, filosofi, dan estetika yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Baca juga : Terancam Perang Pemikiran

Iket Sunda alias Totopong misalnya, dipercaya sebagai warisan budaya yang menjadi simbol identitas bagi masyarakat adat Sunda. Iket dibentuk dari kain berbentuk bujur sangkar yang memiliki empat sudut. Keempat sudut bermakna kereteg hate (suara hati) yang terdiri dari niat, lisan, tingkah, dan raga. Kemudian, kain itu dilipat dua membentuk segitiga sama kaki dengan tiga sudut yang merefleksikan tritangtu: diri, bumi, dan negeri. 

Meski roda zaman terus menggilas kita, Iket Sunda tetap mulus eksis dan lestari sebagai pelengkap gaya hidup masyarakat Sunda. Variasi produknya terus berkembang, mulai dari Iket Buhun yang bergaya tradisional dengan sekitar 12 teknik iketan, hingga Iket Modern yang lebih praktis dan fashionable yang saat ini banyak digemari anak muda. 

Iket Buhun juga memiliki makna mendalam yang terkait erat kehidupan masyarakat Sunda pada masa lampau. Bentuk, motif, maupun cara mengikat dan membentuknya tidak sekadar mementingkan faktor estetika semata, tapi juga mencerminkan status sosial, profesi, serta filosofi hidup pemakainya. Motif-motif pada Iket Buhun atau Iket Sunda sering kali terinspirasi alam sekitar seperti daun, bunga, atau hewan. Hal itu menggambarkan relasi masyarakat Sunda dengan lingkungan sekitar.

Iket Sunda dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara bukan sekedar simbol budaya, juga manifestasi nyata nilai-nilai Pancasila. Pemakaiannya dalam satu lembar kain yang terikat kokoh di atas kepala adalah simbol kemuliaan budi dan kepasrahan diri pada Sang Pencipta (Sila Kesatu). Iket Sunda dalam upacara adat dipakai untuk menunjukkan rasa hormat dan menjaga kehormatan diri serta orang lain, selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila Kedua).

Iket Sunda melambangkan bakti dan patuh pada koridor tata nilai dan norma hidup yang berlaku dalam masyarakat (Sila Ketiga). Sebagai bagian dari sejuta ragam ikat kepala tradisional yang ada di negeri ini, pemakaian Iket Sunda di tengah masyarakat majemuk adalah gambaran nyata kerukunan dalam permusyawarakatan (Sila Keempat). Di sisi lain, iket juga lambang kesetaraan bagi penggunanya dan membuka peluang ekonomi bagi perajinnya (Sila Kelima). 

Baca juga : Paskibraka Persiapkan Gen Z Sebagai Bonus Demografi

Dimodernisasi Anak Muda

Pemakaian iket sebagai bagian produk budaya lokal bisa menjadi salah satu cara sederhana kita untuk merawat harmoni keberagaman di Indonesia. Iket Sunda mengalami transformasi zaman yang menarik. Generasi muda yang menyadari pentingnya melestarikan budaya leluhur, secara kreatif mulai mengembangkan dan mempopulerkan Iket Modern.

Iket Modern atau kerap disebut Iket Praktis, hadir dengan variasi warna, motif, dan bentuk yang lebih dinamis dan menarik. Iket didesain sesuai gaya hidup kekinian, namun tetap mempertahankan esensi tradisionalnya, serta masih sama menggunakan kain juru opat (segi empat). Beberapa contoh model Iket Praktis yang mulai meramaikan pasar di antaranya: Iket Praktis Parekos, Iket Praktis Makuta Wangsa, Iket Praktis Mancala Putra.

Iket Sunda, baik buhun atau modern, menjadi salah satu contoh nyata warisan budaya bangsa yang bisa tetap relevan di tengah perubahan zaman. Masyarakat Sunda, mulai milenial, Gen Z, sampai Gen Alpha sangat bisa dan perlu untuk ikut gegap gempita melestarikan penggunaan Iket Sunda dengan berbagai cara kreatif dalam hal apresiasi dan promosi. Melalui pelestarian Iket, kearifan budaya leluhur nusantara dapat terus tumbuh berkembang tanpa kehilangan jati diri.

Pancasila Adalah Tindakan

Baca juga : Wapres Ma’ruf Amin dan Gibran Rayakan HUT RI ke-79 dengan Pakaian Adat Nusantara

Iket Sunda bukan lagi sekadar fashion, melainkan bentuk tindakan nyata dari implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menghargai, mengapresiasi, dan melestarikan adat tradisi adalah salah satu cara untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Ketiga.

Lebih luas, pemakaian iket penutup kepala tradisional dari berbagai daerah seperti Iket Totopong (Sunda), Blangkon (Jawa), Udeng (Bali), Ti'I Langga (NTT), Passapu Patonro (Sulawesi Selatan), Serawung (Dayak), Sambolo (Bima), Getang (Belitung) dan Tanjak (Sumatera/Melayu) membuktikan keragaman budaya adalah kekuatan yang mampu mempersatukan bangsa.

Melestarikan iket sebagai bagian dari budaya lokal adalah upaya serius menjaga nilai-nilai Pancasila agar tetap hidup dan menyala dalam benak sanubari bangsa. Pancasila dalam tindakan adalah ketika kita dengan sadar dan bangga melestarikan budaya, menghormati perbedaan, dan menjadikan keragaman itu sendiri sebagai kekuatan bersama. Ini pula bentuk nyata Pembinaan Ideologi Pancasila yang holistik, tidak hanya melalui pendidikan formal, tapi juga dalam laku hidup keseharian. 

Iket Sunda dan iket kepala tradisional lain adalah simbol keindahan, kekuatan, dan kearifan lokal yang telah teruji oleh putaran waktu. Dalam setiap simpul iket, tersimpan kebanggaan akan warisan leluhur yang terus hidup dan berkembang. Mari kita sama-sama menguatkan fondasi Pancasila sebagai dasar negara yang mempersatukan seluruh anak bangsa. Salam Pancasila, Merdeka!

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.