Dark/Light Mode

Tekan Stunting, Pemda Harus Intervensi Dan Inovatif

Sabtu, 28 September 2024 07:25 WIB
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Nopian Andusti. (Foto: Istimewa)
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Nopian Andusti. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Mereka menjalankan pro­gram Gempur Stunting, melalui pendekatan pembangunan ter­integrasi dan kolaboratif.

“Inovasi itu ditandai dengan adanya sumber air minum desa. Setiap keluarga wajib memi­liki media cuci tangan sebagai syarat, jika ingin mendapat bantuan sosial (bansos) dari Pemerintah,” jelasnya.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengimbau seluruh kementerian terkait terus melakukan kerja-kerja dan ino­vasi untuk menurunkan angka stunting.

Dia berharap, lahirnya Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional bisa mempercepat penu­runan angka stunting di seluruh Tanah Air.

Baca juga : Jumlah Rakyat Melek Teknologi Terus Naik

Di media sosial X, perbincan­gan netizen soal stunting juga tidak pernah lenyap.

Akun @areaofshitts me­nyatakan, selain membutuhkan inovasi dan kerja-kerja yang terkoordinasi, pemberantasan stunting juga harus melalui komunikasi yang baik dan in­formasi yang benar.

“Misalnya, soal mie deh. Apa nggak menyala stunting. Soalnya pas penyuluhan di dok­trin bahwa mie bahaya. Padahal, hanya diminta dibatasi kon­sumsinya karena gizinya hanya ada karbo. Tapi, karena terus dibilang mie itu berbahaya, yang tertanam mie itu berbahaya dari segala aspek,” tulisnya.

Akun @mbahGandalf meya­kini Indonesia bisa lepas dari masalah stunting, jika ada pemerataan pelayanan kesehatan dan dan informasi gizi yang benar.

Baca juga : Layanan Elektronik Bikin Birokrasi Makin Sat-Set

Akun @USuharyo menilai, upaya menurunkan angka stunt­ing sebetulnya cukup mudah, yakni menurunkan harga-harga sembako. Dia mengusulkan, Pemerintah fokus menurunkan harga makanan bergizi, agar dapat di beli dan dikonsumsi seluruh rakyat.

“Harga telur sekarang Rp 24-26 ribu per kg. Hasilnya, banyak yang nggak bisa beli. Bagaimana kalau telur harganya Rp 30 atau Rp 40 ribu per kg, makin ng­gak terjangkau kan. Jadi, fokus turunkan harga makan-makanan bergizi agar masyarakat bisa lakukan konsumsi,” tuturnya.

Akun @pikkulsatu berpendapat, selain fokus pada makanan, usaha menekan stunting juga perlu dilakukan dengan pemerataan ekonomi.

“Bila semua keluarga bisa membeli beras, daging hingga telur dan susu, pasti stunting lenyap,” tandasnya.

Baca juga : Warga Melek Teknologi Ekonomi Desa Terkerek

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Sabtu, 28 September 2024 dengan judul Tekan Stunting, Pemda Harus Intervensi Dan Inovatif

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.