Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wawancara Eksklusif dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas
Suharso: Indonesia Emas 2045 Sudah Di Jalur Yang Tepat
Senin, 7 Oktober 2024 07:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyampaikan, upaya Indonesia untuk mencapai target Visi Indonesia Emas 2045 berjalan sesuai rencana. Capaian ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dianggap cukup baik, meski menghadapi tantangan global dan domestik yang signifikan.
Indonesia juga berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan bonus demografi dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan peningkatan jumlah penduduk usia produktif yang masuk ke pasar kerja, potensi untuk meningkatkan produktivitas ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan lapangan kerja baru yang semakin terbuka lebar. Hal tersebut disampaikan Suharso dalam wawancara eksklusif dengan Tim Rakyat Merdeka, di Menara Bappenas, Jakarta, Selasa (1/10/2024). Berikut petikan wawancara selengkapnya:
Bagaimana peran dan upaya Bappenas untuk mencapai Indonesia Emas 2045? Apakah progress saat ini sudah on the track?
Kami melihat bahwa upaya untuk mencapai Indonesia Emas 2045 sudah berada di jalur yang tepat. Perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan capaian yang relatif baik, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dari sisi global maupun domestik.
Baca juga : 40 WNI Pulang Dari Lebanon
Sebagai bukti, PDB Indonesia pada tahun 2023 mencapai posisi ke-16 terbesar di dunia dan menempatkan kita di kelompok G20. Prestasi ini didukung oleh berbagai kebijakan penting, seperti reformasi ekonomi, investasi dalam infrastruktur, pengembangan sektor digital, serta penguatan sektor pertanian, manufaktur, dan pariwisata. Semua ini menjadi fondasi kuat untuk mencapai target besar Indonesia Emas 2045.
Selain itu, Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, mencapai 4.870 dolar AS pada tahun 2023. Hal ini berhasil mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara dengan kategori Upper Middle Income Countries, yang merupakan salah satu target pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. Pencapaian ini menjadi modal penting untuk mendukung realisasi Visi Indonesia 2045 yang akan dituangkan dalam RPJPN 2025-2045.
Pada tahun 2023, GNI per kapita Indonesia berada di urutan kelima terbesar di ASEAN. Meski demikian, diperlukan pembangunan yang lebih transformatif agar GNI per kapita dapat mencapai level negara maju. Upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berjalan di jalur yang tepat, salah satunya tercermin dari perbaikan iklim investasi yang berhasil meningkatkan peringkat daya saing Indonesia dari posisi 44 ke 27 pada tahun 2022. Konsistensi dalam memperbaiki iklim investasi dan kepastian berusaha ini akan mendorong produktivitas dan daya saing Indonesia ke depan. Peningkatan tersebut juga didukung oleh kemudahan akses perizinan, yang tercermin dari peningkatan nilai Ease of Doing Business (EODB) serta indikator-indikator terkait di tahun 2020.
Apalagi yang menjadi indikator?
Baca juga : Pimpinan DPR Bakal Kaji Ulang
Indonesia juga telah melakukan hilirisasi pada industri nikel, yang terbukti meningkatkan nilai tambah dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Sulawesi Tengah secara signifikan. Hilirisasi ini perlu dilanjutkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap mengedepankan pembangunan berkelanjutan.
Apa tantangan yang dihadapi Indonesia dalam meningkatkan produktivitas?
Total Factor Productivity (TFP) Indonesia tertinggal dibandingkan negara-negara lain di ASEAN. Meskipun Indonesia berhasil meningkatkan TFP setelah krisis finansial Asia, tren ini mengalami penurunan sejak 2010. Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN -5 dan negara maju, TFP Indonesia menempati posisi terendah pada periode 2015-2019.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi masalah kompleksitas ekonomi yang rendah. Pada tahun 2021, ketika negara- negara ASEAN lain mulai mendominasi ekspor produk Machinery, Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas. Akibatnya, peringkat Economic Complexity Index (ECI) Indonesia menjadi yang terendah di antara negara-negara ASEAN lainnya.
Baca juga : OJK Gencarkan Inklusi Keuangan Ke Wilayah IKN
Di sisi lain, nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 6,51 pada tahun 2023
Ini masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara sebanding, seperti Malaysia dengan rata-rata ICOR 4,99 selama 2010-2019, dan Vietnam yang mencapai 3,88.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya