Dark/Light Mode

Perkuat Label Gizi Demi Kesehatan Masyarakat

Kemenkes Mau Batasi Iklan Produk Tinggi GGL

Kamis, 20 Februari 2025 07:25 WIB
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Asnawi Abdullah (tengah) didampingi Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia (ADINKES) Muhammad Subuh (kiri) dan Deputi Koordinasi Peningkatan Mutu Kesehatan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sukadiono (kanan) di Jakarta, Rabu (19/2/2025). (Foto: Istimewa)
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Asnawi Abdullah (tengah) didampingi Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia (ADINKES) Muhammad Subuh (kiri) dan Deputi Koordinasi Peningkatan Mutu Kesehatan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sukadiono (kanan) di Jakarta, Rabu (19/2/2025). (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Senada, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Sukadiono menyatakan, pola makan tinggi GGL memicu peningkatan kasus diabetes, hingga obesitas. Karenanya, dia mendorong adanya upaya strategis untuk menecegah konsumsi GGL berlebih.

Menurutnya, studi di Finlandia mengurangi konsumsi garam 30 persen, menurunkan angka kematian akibat stroke dan jantung 35 persen dalam beberapa tahun.

“Sementara regulasi di Meksiko tentang pajak minuman manis menunjukkan penurunan konsumsi 7,5 persen tahun pertama dan berdampak positif pada obesitas,” ujarnya.

Baca juga : Airlangga: Devisa Masuk Diperkirakan Rp 1.308 T

Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) Muhammad Subuh menambahkan, aturan umum terkait pengendalian GGL sebetulnya sudah ada dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang pelaksaan UU Kesehatan.

Menurutnya, Pemerintah Daerah (Pemda) dan pemangku kebijakan lainnya memiliki peran sangat krusial, untuk melakukan pengembangan lebih lanjut dari PP tersebut.

“Dinas Kesehatan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota harus berperan aktif. Dengan dukungan yang kuat dari berbagai sektor, termasuk akademisi dan masyarakat sipil, kita bisa mempercepat pencapaian target kesehatan nasional yang lebih baik,” harapnya.

Baca juga : Harga Beras, Telur, Cabe Dan Daging Sudah Naik

Masalah konsumsi GGL berlebih juga menjadi sorotan netizen di media sosial X.

“Orang tua zaman sekarang tuh (tidak semuanya sih), kalau anaknya nangis minta permen atau es krim pasti diturutin. Padahal, itu nggak baik buat kesehatan anakanya, kalau dikonsumsi berlebihan. Pola asuh ini beda dengan orang tua yang lahir tahun 60 atau 70’an. Boro-boro minta permen, mau beli air sirup aja susahnya minta ampun,” tulis akun @thedemidts.

“Iya, kak. Nggak heran banyak anak hingga remaja sekarang pada obesitas atau punya tensi tinggi,” cuit akun @2378328.

Baca juga : AS Roma Vs Porto, Duel Sampai Mati

“Pasien jantung yang sewa kendaraan ku bilang, waktu mudanya segala makanan dia sikat. Pedas, berlemak, asin, berminyak, pokoknya hajar. Ini sikap bodo amat terhadap kesehatan, atau kurangnya literasi soal kesehatan? Sekarang, dia nyesal dan mau sehat lagi,” timpal akun @raidoramulih737.

“Kuliner nusantara yang benar-benar asli, sedikit pakai lemak, garam, micin, dan sebagainya. Rata-rata dikukus, direbus, dan dibakar. Kalau pun digoreng, mereka pakai minyak kelapa hand made. Mungkin itu yang bikin umur orang-orang jaman dulu bisa sampai 100 tahun,” tutur akun @dejabrakadabra. [SSL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.