Dark/Light Mode

Korban Bencana Mulai Gatal-gatal dan Tipes

Sabtu, 6 Desember 2025 08:39 WIB
Korban banjir Sumatera di tenda pengungsian. (Foto: Tim Media Presiden)
Korban banjir Sumatera di tenda pengungsian. (Foto: Tim Media Presiden)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sepekan tinggal di lokasi pengungsian, sebagian warga korban banjir Sumatera mulai mengalami gangguan kesehatan. Ada yang mengeluhkan gatal-gatal, bahkan ada yang terserang tipes.

Kondisi ini diungkap Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono. Dia menegaskan, kondisi kesehatan para pengungsi itu membutuhkan perhatian serius.

“Ini sudah mulai ada yang gatel-gatel, sudah banyak yang demam, sudah banyak yang sakit tipes, dan sebagainya,” ucap Dante, di Balai Kota Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Untuk itu, kata dia, bantuan bagi korban bencana tidak cukup dengan mengirim makanan dan menyediakan tinggal sementara. Aspek kesehatan juga harus diperhatikan untuk mencegah penyebaran penyakit menular yang lebih luas.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, ada 75 kabupaten/kota terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Sebanyak 50 di antaranya mengalami dampak signifikan akibat banjir.

Untuk merespons krisis kesehatan ini, Kemenkes telah menyiapkan empat strategi utama. Strategi ini dirancang untuk memastikan penanganan medis yang optimal. Agar tidak terjadi penyebaran penyakit menular. 

"Pertama, penanganan langsung terhadap korban yang mengalami luka,” ujar Dante.

Kedua, melakukan revitalisasi pelayanan kesehatan yang terdampak dan tidak bisa beroperasi. Imbas banjir dan longsor Sumatera, banyak puskesmas dan posyandu yang tidak dapat beroperasi. Sehingga, didirikan layanan sementara.

Baca juga : Bantuan Sudah Masuk ke Wilayah Terisolir, Korban Bencana Lega dan Bersyukur

“Ketiga, bantuan obat-obatan dan bahan habis pakai supaya bisa terkendali," sebut Dante. Obat penyakit kulit, antibiotik, obat demam, sampai cairan infus menjadi barang prioritas.

Keempat, mobilisasi tenaga kesehatan. Kemenkes terus menambah tenaga kesehatan dari pusat ke daerah-daerah terdampak. “Agar masyarakat terdampak bisa mendapatkan pelayanan yang lebih optimal,” terangnya. 

Dalam melakukan ini, Kemenkes tidak bergerak sendirian. Koordinasi intensif dilakukan hampir setiap hari dengan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memantau situasi kesehatan secara real-time.

Pemda juga terus berusaha memberikan layanan kesehatan kepada korban banjir. Seperti yang dilakukan Pemkab Tapanuli Tengah (Tapteng). Dinas Kesehatan Tapteng menyatakan, obat-obatan tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

"Hingga saat ini, pelayanan dan stok obat untuk masyarakat pascabencana banjir bandang masih lancar dan aman,” terang Kepala Dinas Kesehatan Tapteng, Lisnawati Panjaitan, dalam konferensi pers di Pusat Informasi dan Media Center Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), di GOR Pandan, Tapteng, Sumut, Jumat (5/12/2025).

Lisna menerangkan, dukungan penuh dari Kemenkes memastikan kebutuhan mendesak seperti Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) dan vaksin tersedia dalam jumlah cukup. Terutama untuk menangani penyakit akibat infeksi dan kondisi lingkungan yang lembab.

"Vaksin ini sangat dibutuhkan karena warga banyak mengalami infeksi akibat banjir. Begitu juga obat-obatan lainnya, kami pastikan aman dan terkendali,” ucapnya. 

Lisna menjelaskan, sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan berat. Di antaranya Puskesmas Kolang, Sorkam, Tukka, dan Barus Utara. Meski demikian, 21 puskesmas lainnya masih beroperasi normal untuk melayani masyarakat. Dinas Kesehatan Tapteng mengerahkan tenaga medis yang terdiri dari 63 dokter umum, 8 dokter spesialis, dan 280 perawat serta bidan yang tersebar di seluruh kecamatan.

Baca juga : Duduk Lesehan Temui Korban Bencana, Gibran Berkali-kali Minta Maaf

Dukungan kesehatan juga datang dari TNI. Prajurit Batalyon Kesehatan 1 Marinir (Yonkes 1 Mar) memberikan pelayanan kesehatan terpadu di atas KRI Soeharso 990 sejak Jumat (5/11/2025). KRI ini berfungsi sebagai rumah sakit terapung di wilayah perairan Aceh Tamiang. 

Kapal rumah sakit tersebut menyediakan layanan pemeriksaan umum, penanganan luka dan gawat darurat, hingga dukungan psikososial bagi korban yang mengalami trauma.

Komandan Kompi Kesehatan Yonkes 1 Mar, Kapten Laut (K) dr. Syarif Hidayatullah menyatakan, kehadiran unsur kesehatan TNI merupakan respon cepat untuk korban yang sulit dijangkau.

“Kami memastikan masyarakat mendapatkan perawatan yang memadai. KRI Soeharso memiliki fasilitas lengkap sehingga mampu menampung pasien rujukan dari lokasi pengungsian,” ucap dr. Syarif. 

Dukungan serupa diberikan Polri. Bidang Kedokteran Kesehatan (Biddokkes) Polda Jambi mengirimkan obat-obatan dan perlengkapan medis ke wilayah terdampak bencana di Aceh, Kamis (4/12/25).

“Semoga dukungan kesehatan yang dikirim dapat meringankan beban masyarakat dan memastikan layanan medis di lokasi bencana tetap berjalan dengan baik dan berkesinambungan,” kata Wakapolda Jambi, Brigjen M. Mustaqim. 

Langkah ini menjadi bagian dari operasi kemanusiaan Polri yang tidak hanya merespons darurat, tetapi juga menjaga stabilitas kesehatan publik hingga situasi pulih. “Polda Jambi siap hadir di mana pun masyarakat membutuhkan,” ucap Mustaqim.

Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyebut ada beberapa penyakit berisiko tinggi menyerang para pengungsi. Pemicunya, kondisi sanitasi yang buruk, minimnya air bersih, dan kontak langsung dengan air banjir yang tercemar.

Baca juga : Penyebab Banjir Sumatera, 12 Perusahaan Masuk Bidikan

Dicky menjelaskan, leptospirosis merupakan ancaman utama karena banyak terjadi setelah banjir. Terutama ketika kulit atau selaput mukosa pengungsi bersentuhan dengan air kotor yang terkontaminasi urine hewan, termasuk tikus.

“Gejalanya bisa demam mendadak, nyeri otot terutama betis, mata merah, muntah terus, hingga kekuningan pada kasus berat. Risiko meningkat sekali,” jelasnya, kepada Rakyat Merdeka, Jumat (5/12/2025).

Selain itu, penyakit diare akut menjadi ancaman serius akibat air minum yang tercemar. Bahkan, tidak menutup kemungkinan muncul kasus kolera, meski penyakit tersebut kini jarang ditemukan. “Gejalanya diare akut dan bisa dehidrasi, ini sangat kritikal. Harus cepat ditangani,” terang Dicky.

Penyakit lain yang berpotensi meningkat adalah demam tifoid atau tipes. Terjadi akibat penularan fekal-oral, yakni dari tangan kotor yang tidak dicuci bersih kemudian menyentuh makanan atau air minum. “Demam tinggi lama, sakit perut, bisa sulit buang air besar atau diare, dan memerlukan terapi cepat,” nilainya. 

Dicky juga menyoroti tingginya risiko infeksi kulit dan luka terbuka. Termasuk potensi tetanus akibat luka yang terkontaminasi air kotor atau benda tajam. “Ini tentu harus diberikan segera vaksin tetanus kepada orang-orang yang berisiko,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.