Dark/Light Mode

Kemenhaj Gelar Diklat PPIH 30 Hari, Perkuat Bahasa Arab & Disiplin Petugas Haji

Minggu, 11 Januari 2026 14:34 WIB
Kementerian Haji dan Umrah secara resmi membuka Pendidikan dan Latihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Foto: Hendrawan KW/RM
Kementerian Haji dan Umrah secara resmi membuka Pendidikan dan Latihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Foto: Hendrawan KW/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) secara resmi membuka Pendidikan dan Latihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026).

Diklat ini diikuti sekitar 1.600 peserta dan berlangsung selama 30 hari. Rinciannya, 20 hari pelatihan dilaksanakan secara tatap muka di Asrama Haji dan 10 hari sisanya dilakukan secara daring.

Menteri Haji dan Umrah Irfan Yusuf mengatakan, pelaksanaan diklat ini merupakan respons atas banyaknya keluhan jemaah pada penyelenggaraan haji tahun sebelumnya, terutama terkait rendahnya responsivitas petugas.

“Hari ini kita mulai diklat 30 hari. Selama 20 hari mereka dilatih, dibina, dan dididik terkait kedisiplinan, penempaan fisik, pengetahuan tentang haji, serta berbagai hal teknis lainnya,” ujar Irfan Yusuf.

Pria yang akrab disapa Gus Irfan ini menegaskan, penguatan kemampuan bahasa Arab menjadi fokus utama pelatihan. Menurutnya, keterbatasan penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu kendala serius dalam pelayanan jemaah pada musim haji sebelumnya.

Baca juga : Kemenkes: Gatal dan Diare Banyak Dialami Warga Baduy

“Petugas haji juga akan dilatih bahasa Arab. Salah satu kendala kemarin adalah petugas haji kurang bahasa Arabnya. Kita berikan bahasa Arab dalam proses 20 hari ini, ditambah pembelajaran online berikutnya,” jelasnya.

Selain bahasa Arab, peserta diklat juga telah dibekali pembagian tugas sejak di tanah air, mulai dari penempatan pos, struktur tim, hingga kepala pos masing-masing. Dengan begitu, para petugas diharapkan berangkat ke Arab Saudi dalam kondisi siap secara teknis maupun koordinatif.

Diklat PPIH tahun ini juga menerapkan pola pelatihan semi-militer guna memperkuat ketahanan fisik dan kedisiplinan peserta. Gus Irfan menegaskan, fisik yang prima menjadi syarat utama karena ibadah haji menuntut stamina tinggi.

“Kita berharap ketahanan fisik dan kedisiplinan peserta benar-benar terjaga. Tanpa fisik yang kuat, mereka tidak akan bisa menjalankan tugas dengan baik,” tegasnya.

Dalam pelaksanaan diklat maupun saat bertugas di Arab Saudi, Kemenhaj akan menerapkan sanksi tegas bagi petugas yang melanggar disiplin, termasuk meninggalkan tugas. Pelanggaran akan dikenai peringatan, dan jika berulang, petugas dapat dipulangkan sebelum masa tugas berakhir.

Baca juga : Kemenkes Temukan Gatal Dan Diare Paling Banyak Dialami Warga Baduy

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus Ketua Panja Haji 2025, Abdul Wachid, menilai pelaksanaan diklat selama 30 hari, termasuk penambahan materi bahasa Arab, sebagai langkah maju dalam peningkatan kualitas petugas haji.

“Ini sudah kami anggap bagus. Petugas yang akan berangkat tidak hanya didiklat 20 hari, tapi sampai 30 hari dan ditambah bahasa Arab. Itu suatu langkah yang maju,” kata Wachid.

Ia menekankan pentingnya kedisiplinan petugas, terutama dalam pengawasan pemondokan, kepatuhan jumlah maksimal empat orang per kamar, kesesuaian layanan katering dengan kontrak, serta pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang dinilai berat jika hanya ditangani tenaga sipil.

Untuk memperkuat aspek tersebut, Kemenhaj melibatkan 185 personel dari unsur Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia dalam komposisi petugas haji tahun ini. Dari total sekitar 4.000 petugas, keterlibatan TNI–Polri dinilai sesuai dengan ketentuan Pemerintah Arab Saudi terkait istitha’ah kesehatan.

“Ibadah haji adalah ibadah fisik yang membutuhkan tenaga kuat dan orang-orang yang benar-benar sehat. Kehadiran TNI dan Polri ini langkah yang baik,” ujarnya.

Baca juga : Menhub Tinjau Gilimanuk, ASDP Perkuat Kesiapan Arus Balik Nataru 2026

Selain itu, pelatihan juga dilengkapi tutor khusus, mulai dari bahasa Arab, pendampingan lansia, layanan ramah disabilitas, hingga pendekatan khusus bagi jemaah perempuan.

Dengan penguatan bahasa Arab, kedisiplinan, serta dukungan TNI–Polri, pemerintah berharap kualitas pelayanan haji 2026 meningkat dan persoalan jemaah terlantar, khususnya lansia, tidak kembali terulang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.