Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hilangkan Bau Di TPA Cikolotok, Pemkab Purwakarta Gelorakan Aksi Relawan Saka
Sabtu, 28 Februari 2026 19:25 WIB
Sebelumnya
Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Purwakarta, dr. Agung Darwis Suriaatmadja, sempat ragu. Dengan masker tebal masih menempel, ia terlihat segan mendekat.
Dirayu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Erlan Diansyah, dr. Agung akhirnya mau melepas maskernya. Tangannya dicelupkan ke air genangan samah yang sebelumnya terkenal bau. Perlahan, tangannya diangkat dan diarahkan ke hidung. “Ya, nggak terlalu bau,” katanya pelan.
Seolah tidak percaya, Ia bahkan mencium ulang tangannya, menahannya beberapa detik. “Nggak bau,” ujarnya lagi sambil mengacungkan jempol, ekspresi wajahnya campuran antara heran dan takjub.
Kadis LH Pemkab Purwakarta, Erlan Diansyah juga ikut melakukan hal serupa. Ia mencelupkan tangannya ke genangan air. “Hilang baunya. Tidak seperti awal,” katanya sambil kembali mencium tangannya.
Dia juga angkat bicara terkait aksi hari itu. Menurutnya, memang masih ada bau yang tersisa di sekitar lokasi kegiatan, namun bukan berasal dari titik yang disemprot. “Yang bau itu dari daerah lain yang terbawa angin. Tapi di sini, baunya berkurang signifikan,” tegasnya.
Baca juga : Gerindra Kalteng Fokus Soliditas Dan Aksi Nyata
Tokoh penggerak Gerakan Relawan Saka, Muhammad Ansar menegaskan bahwa kegiatan aksi penyemprotan Biosaka N Level 1 ini merupakan bagian dari langkah gerakan relawan dalam mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam mengatasi persoalan sampah.
Dia menyebut gerakan ini mengusung tajuk '“Mewujudkan Udara Bersih, Indonesia Bebas dari Bau Sampah.” Ansar menjelaskan teknologi Biosaka N Level 1 sebagai solusi utama pengendalian bau sampah.
“Bagi kami, dengan teknologi Biosaka, persoalan sampah yang besar ini justru menjadi persoalan kecil,” katanya.
Dia menegaskan, masalah utama sampah sering kali bukan volumenya, melainkan bau yang memicu konflik sosial. Ansar menjelaskan, Biosaka N Level 1 berbasis gelombang dan berbeda dengan pendekatan pertanian konvensional yang menitikberatkan unsur hara.
Ia menyebut teknologi serupa telah diuji di TPA Cipeucang Tangerang Selatan dan TPA Bantar Gebang, dengan hasil yang sama: bau dan lengketnya air lindi hilang seketika. Menurutnya, Biosaka bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga membuka potensi ekonomi. Sampah organik, kata Ansar, bisa diolah menjadi maggot bernilai tinggi.
Baca juga : Penerimaan Pajak Naik Tajam, Menkeu Purbaya Percepat Belanja Negara 2026
“Di Yogyakarta, hampir 4.000 peternak maggot binaan kami menghabiskan 4–5 ton sampah per hari,” ungkapnya.
Ia berharap Purwakarta bisa mengikuti jejak tersebut. Aksi hari itu juga disaksikan pelajar. Fahri Supriadi, siswa SMK Negeri 1 Purwakarta yang mewakili Pramuka Saka Taruna Bumi, mengaku terkesan. “Masuk ke sini biasanya pakai masker pun masih bau. Sekarang sudah tidak,” katanya.
Awalnya tak percaya, Fahri mengaku kini yakin setelah melihat bau berkurang hanya dalam hitungan detik. Ia bahkan berencana mengimplementasikannya di sekolah. R
eaksi serupa disampaikan Wawan, ASN Dinas Pertanian. Dengan wajah ditundukkan ke arah genangan air lindi, ia menarik napas dalam-dalam. “Ini sudah tidak bau, Pak. Yang bau itu dari puncak sampah sana,” katanya mantap.
Dari unsur TNI, Pasiter Kodim Purwakarta, Rasam, mengaku merasakan perubahan drastis. “Pertama datang itu luar biasa baunya. Sekarang sudah tidak,” ujarnya.
Baca juga : Jelang Ramadan dan Idul Fitri, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman
Ia menilai, penyemprotan ini penting karena air lindi yang dihasilkan sampah mengalir ke bawah dan berpotensi mencemari lingkungan warga. “Kalau ini rutin, masyarakat sekitar tidak terganggu lagi,” katanya.
Lebih dari sekadar aksi sehari, kegiatan ini menjadi penanda langkah strategis Pemkab Purwakarta dalam pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Biosaka N Level 1 dinilai mampu menekan pencemaran udara dan air, sekaligus membuka jalan baru pengelolaan sampah berbasis teknologi sederhana, murah, dan cepat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya