Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Intelijen Harus Tepat Ukur Ancaman Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Rabu, 15 April 2026 19:26 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dosen PKN Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB-UI), Stanislaus Riyanta, menegaskan pentingnya tata kelola intelijen yang proporsional dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ancaman asimetris.
Hal tersebut disampaikan dalam seminar bertajuk “Tata Kelola Intelejen Menghadapi Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Asimetris” di Kampus Universitas Indonesia Salemba, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, respons intelijen harus disesuaikan dengan tingkat ancaman yang dihadapi. Ia mengibaratkan, ancaman kecil tidak perlu direspons secara berlebihan.
“Kalau ancamannya hanya seperti nyamuk, tentu tidak perlu menggunakan pemukul besar. Di sinilah pentingnya mengukur level ancaman dan menentukan respons yang tepat,” ujar Stanislaus.
Ia menjelaskan, dinamika persepsi ancaman di masyarakat kerap berbeda dengan penilaian lembaga intelijen. Namun demikian, publik tidak perlu khawatir karena intelijen memiliki mekanisme tersendiri dalam mengukur dan merespons ancaman secara proporsional.
Baca juga : APINDO Beberkan Bottleneck Hilirisasi Di Tengah Tekanan Geopolitik Global
“Ancaman itu pasti selalu ada. Yang penting adalah bagaimana intelijen merespons sesuai dengan levelnya dan tetap berada dalam koridor kewenangan,” tegasnya.
Stanislaus juga menekankan pentingnya pengawasan publik terhadap kerja intelijen agar tidak melampaui batas. Menurutnya, intelijen harus tetap berfungsi sebagai instrumen negara, bukan menjadi alat yang justru merugikan warga negara.
“Intelijen itu alat negara untuk deteksi dini, peringatan dini, dan pencegahan. Jangan sampai justru menjadi alat yang membuat masyarakat menjadi korban,” katanya.
Dalam konteks perbaikan, ia menyebut bahwa setiap negara, termasuk Indonesia, memiliki tantangan dalam tata kelola intelijen. Karena itu, pembenahan harus dilakukan dengan kembali pada prinsip dasar atau khittah intelijen.
“Kita tidak sedang mengutak-atik fungsi, tapi belajar dari berbagai kasus, termasuk dari luar negeri, untuk memperkuat tata kelola yang sesuai prinsip dasar intelijen,” ujarnya.
Baca juga : PLN dan Kejari Jakarta Barat Perkuat Pengamanan Aset untuk Keandalan Listrik
Sorotan lain disampaikan terkait ketahanan siber nasional. Stanislaus mengaku khawatir Indonesia belum siap menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
“Kita masih sering tidak mampu mengungkap siapa aktor di balik serangan siber. Ini menunjukkan bahwa kita belum siap,” ungkapnya.
Dia berharap lembaga seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dapat diperkuat, baik dari sisi kewenangan maupun kapasitas, agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mengidentifikasi dan menindak pelaku serangan.
Lebih lanjut, ia memaparkan empat tahapan penting dalam menghadapi ancaman non-konvensional, yakni prevention, preparation, response, dan recovery.
Namun, menurutnya, langkah paling krusial adalah memahami karakteristik ancaman sejak awal. “Masalah kita, sering kali tidak tahu ancamannya apa dan siapa aktornya. Ini yang berbahaya,” katanya.
Baca juga : Lotte Chemical Prioritaskan Pasokan Domestik Di Tengah Krisis Global
Terkait meningkatnya isu aktivitas intelijen asing, Stanislaus meyakini bahwa hal tersebut memang terjadi, terutama di wilayah strategis seperti Bali. Namun, ia menilai ancaman muncul karena adanya kerentanan.
“Ancaman datang karena ada daya tarik, sistem pengamanan yang lemah, dan potensi dampak. Kita tidak bisa menghilangkan daya tarik, tapi bisa memperkuat sistem pengamanan,” jelasnya.
Dia juga mendorong penguatan fungsi kontraintelijen di Indonesia. Meski saat ini sudah ada unit di berbagai lembaga, menurutnya perlu penguatan peran yang lebih signifikan.
“Kita perlu memperkuat kontraintelijen agar mampu mencegah ancaman dari pihak asing. Ini penting untuk menjaga kedaulatan negara,” pungkasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya