Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Ayah Lionel Messi, Jorge, Meninggal Di Usia 68 Tahun
- Erick Thohir Happy Banyak Klub Dunia Gelar Pramusim di Indonesia
- Persib Datangkan Danijel Loncar, Igor Tolic: Perkuat Lini Pertahanan
- 9 Talenta Persija Dipanggil Seleksi Timnas Indonesia U-16
- Chelsea Bantai AC Milan 3-0 di Indonesia Super Cup 2026
Evident: Isu 'Agustus Kelabu' Diduga Diamplifikasi untuk Picu Kepanikan
Jumat, 7 Agustus 2026 10:22 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Lembaga kajian Evident Institute menemukan indikasi bahwa ramainya isu "Agustus Kelabu" di media sosial dalam sepekan terakhir tidak berkembang secara organik.
Berdasarkan hasil pemantauan, pola penyebaran isu tersebut diduga sengaja diamplifikasi secara terkoordinasi untuk memicu kepanikan, kemarahan, dan memperkeruh ruang digital.
Direktur Komunitas Evident Institute, Algooth Putranto mengatakan, analisis dilakukan menggunakan mesin pemantauan Reportica pada periode 29 Juli hingga 5 Agustus 2026.
Hasilnya, tercatat 154 percakapan publik yang menghasilkan sekitar 1,4 juta interaksi, namun seluruh percakapan tersebut hanya berasal dari 130 akun berbeda.
"Jangkauan 1,4 juta interaksi yang dihasilkan dari jumlah akun yang relatif kecil ini patut dicermati. Ini bukan pola perbincangan publik yang tumbuh organik, melainkan ada indikasi amplifikasi yang terkoordinasi," ujar Algooth dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Baca juga : Ada Pihak yang Sengaja Menyebarkan Ketakutan
Ia menjelaskan, lonjakan percakapan terkait isu tersebut juga menunjukkan pola yang tidak wajar. Pada 31 Juli hanya tercatat dua percakapan, kemudian meningkat menjadi 33 percakapan pada 1 Agustus dan mencapai puncaknya sebanyak 56 percakapan pada 2 Agustus.
Setelah itu, jumlahnya menurun menjadi 48 percakapan pada 3 Agustus dan 15 percakapan pada 4 Agustus.
"Lonjakan dari dua percakapan menjadi 56 percakapan hanya dalam tiga hari bukan pertumbuhan yang alami. Ada sesuatu yang mendorong isu ini naik secara serentak dalam waktu sangat singkat," katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan, platform X menjadi kanal dengan aktivitas tertinggi, yakni 78 percakapan, disusul media daring sebanyak 58 percakapan.
Percakapan didominasi sentimen negatif sebesar 64,3 persen, dengan emosi yang paling banyak muncul adalah amarah (18,1 persen) dan rasa takut (16,1 persen).
Baca juga : PASBATA Minta Komdigi Lebih Tegas Berantas Hoaks di Ruang Digital
Sementara itu, frasa "gas air mata" menjadi istilah yang paling sering disebut, muncul dalam 67 percakapan dengan sentimen negatif mencapai 76,1 persen.
Tagar #AgustusKelabu tercatat muncul dalam 55 percakapan. Menurut Algooth, ramainya isu "Agustus Kelabu" tidak dapat dipisahkan dari tren meningkatnya konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) di ruang digital.
Data bulanan Reportica menunjukkan bahwa pada Januari hingga Maret 2026 jumlah konten DFK masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Namun, sejak April 2026 jumlahnya meningkat tajam dan terus bertambah hingga mendekati 300 konten pada Juli 2026.
"Bukan kebetulan isu ini menyebar begitu cepat dan didominasi emosi marah serta takut. Ruang digital kita sudah dipanaskan oleh konten disinformasi, fitnah, dan kebencian yang terus meningkat sejak April. Ketika suasananya sudah keruh, isu sensitif apa pun akan lebih mudah digoreng dan lebih cepat viral," ujarnya.
Baca juga : Buzzer Hoax Disikat Polisi
Algooth menilai, pihak yang paling dirugikan dari kondisi tersebut adalah masyarakat karena aspirasi yang murni berpotensi ditunggangi oleh kepentingan tertentu.
"Yang paling dirugikan sebenarnya adalah masyarakat sendiri. Aspirasi yang murni jadi ditunggangi. Karena itu kami mengajak publik untuk lebih jeli dan tidak mudah terpancing konten yang sengaja dirancang untuk membuat panik," katanya.
Evident Institute juga menilai upaya pemerintah yang terus membuka ruang dialog serta menyampaikan informasi secara transparan menjadi penyeimbang penting di tengah ruang digital yang rentan dimanipulasi.
"Situasi seperti ini hanya bisa dijawab dengan informasi yang jernih, cepat, dan konsisten. Kami melihat komitmen pemerintah ke arah itu, dan kami berharap semua pihak ikut menjaga ruang digital agar tidak dibajak oleh kepentingan yang ingin memperkeruh suasana," tutup Algooth.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya