Dark/Light Mode

Negara Kita Diuji Kebakaran Hutan Dan Bencana Alam

Senin, 17 Agustus 2026 07:40 WIB
Sejumlah pasien terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Gecio Viana/sth/nz)
Sejumlah pasien terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Gecio Viana/sth/nz)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia benar-benar tengah diuji. Di hari yang sama, gempa dahsyat mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumatera Utara (Sumut), sementara karhutla dan kekeringan terus mengancam di berbagai wilayah. Pemerintah pun dipaksa bergerak cepat menghadapi rentetan bencana. 

Korban gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) terus bertambah. Hingga Sabtu (16/8/2026) pukul 15.00 WIB, gempa yang berpusat di sekitar Kabupaten Nagekeo, NTT itu, menyebabkan 38 orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan 11 orang luka ringan. Sebanyak 2.000 warga mengungsi secara mandiri.

Di tengah proses evakuasi di NTT, bencana serupa terjadi di wilayah lain. Gempa berskala M6,4 mengguncang wilayah Simalungun, Sumatra Utara pada hari Sabtu (15/8/2026) pukul 17.54.52 WIB. 

Baca juga : Menuju Indonesia Emas, Merdeka & Berdaulat Di Ruang Digital

Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,4 pada kedalaman 168 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 2,91 derajat LU, 98,93 derajat BT. Tepatnya berlokasi di darat 11 km tenggara Simalungun, Sumatra Utara. 

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2025). 

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, pemerintah segera mengaktifkan posko penanggulangan bencana. 

Baca juga : Kasus Bea Cukai, Saksi Diintimidasi

"Jadi semua hal-hal ketentuan berkaitan dengan penanggulangan bencana ini akan diaktifkan," kata Suharyanto usai mengikuti rapat koordinasi penanganan gempa NTT yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sabtu (15/8/2026). 

Selain mengaktifkan posko, pemerintah memprioritaskan pencarian dan pertolongan terhadap warga yang terjebak di bangunan runtuh. Tim gabungan Basarnas, TNI, dan Polri dikerahkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi. 

"Yang terjebak menjadi sasaran awal dari tim penanganan bencana," sambung Suharyanto. 

Baca juga : Rudianto Lallo: DPR Hanya Memvalidasi, Seleksi Kewenangan KY

Setelah proses evakuasi, pemerintah akan memulihkan jalur transportasi dan komunikasi yang terdampak gempa. Kementerian Pekerjaan Umum akan mengerahkan personel dan alat berat untuk membuka akses yang terganggu. 

Untuk komunikasi, hingga kini belum ada laporan mengenai gangguan sinyal telepon seluler di wilayah terdampak. Namun, pemerintah tetap menyiapkan alat komunikasi cadangan. "Tetapi tentu saja kami juga menyiapkan alat komunikasi cadangan," ungkap Suharyanto. 

Warga berupaya memadamkan kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wpa)

Selain gempa bumi, pemerintah juga masih menghadapi bencana lain akibat badai El Nino berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, kebakaran menghanguskan dua hektare lahan di Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau. Api telah dipadamkan dan kondisi terkendali setelah hujan turun. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.