Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Polri Dinilai Jadi Pilar Pemerintahan Prabowo-Gibran Tangani Karhutla
- Saddil Ramdani Dipinjamkan Persib ke Persebaya
- Pramono Ingin Turunkan Hujan Di Jakarta Untuk Hilangkan Abu Vulkanik
- Ahli ITB Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik Anak Krakatau Bagi Kualitas Air Dan Tanah
- El Nino Dan Erupsi Gunung, Prabowo Salurkan Bantuan Beras Hingga Akhir Tahun
RM.id Rakyat Merdeka - Pakar Ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Elham Sumarga mengatakan, restorasi ekosistem gambut melalui pembasahan kembali atau rewetting menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Elham, risiko karhutla meningkat ketika ekosistem gambut mengalami degradasi dan kehilangan kandungan air akibat pengeringan, antara lain melalui pembangunan kanal untuk mendukung kegiatan budidaya.
“Jika wilayah gambut masih berada dalam kondisi alaminya dan selalu tergenang air, hal itu tidak akan menjadi masalah. Namun, ketika airnya dikeluarkan, bahan organik yang mengering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas,” ujar Elham dikutip dari situs ITB, Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, gambut merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari tumpukan bahan organik yang belum terurai secara sempurna selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, gambut menyimpan banyak air sehingga relatif sulit terbakar.
Namun, ketika gambut dikeringkan, bahan organik yang terkandung di dalamnya menjadi mudah terbakar. Api juga dapat merambat di bawah permukaan tanah melalui proses subsurface smoldering, sehingga kebakaran sulit dideteksi dan dipadamkan secara menyeluruh.
“Api dapat terus membakar lapisan bahan organik di bawah tanah meskipun permukaan tampak telah padam,” katanya.
Baca juga : Cek Karhutla Ketapang, Menhut: Hotspot Turun, Jangan Lengah
Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan asap dapat muncul dalam waktu lama dan menyebar hingga ke wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran.
Elham mengatakan, dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Partikulat halus, termasuk PM2.5, yang terkandung dalam asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Kabut asap juga dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar, pelayanan publik, aktivitas ekonomi, hingga transportasi udara ketika kualitas udara memburuk.
Dari sisi ekologis, kebakaran mengancam keberlangsungan spesies dan habitat satwa liar. Di Kalimantan, misalnya, kebakaran dapat mempersempit ruang hidup orangutan dan memaksa satwa tersebut berpindah dari habitat alaminya.
“Orangutan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran. Bahkan, terdapat satwa liar yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang hebat,” ujarnya.
Selain itu, kebakaran gambut dapat melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun ke atmosfer dalam jumlah besar. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca dan memperkuat risiko perubahan iklim.
Baca juga : Penegakan Hukum Karhutla, Menhut Segel Lokasi di Lapangan
Elham menilai terdapat hubungan yang perlu diwaspadai antara perubahan iklim dan karhutla. Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko cuaca ekstrem, sementara kebakaran hutan dan lahan turut menghasilkan emisi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Ia juga mengingatkan kerusakan gambut dapat menimbulkan persoalan jangka panjang. Gambut yang dikeringkan akan lebih banyak terpapar oksigen sehingga bahan organiknya terurai lebih cepat dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penurunan permukaan tanah atau subsidence.
“Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kita dapat menginvestigasi berbagai skenario untuk mengambil keputusan yang bersifat antisipatif dan preventif agar kebakaran yang lebih hebat pada masa depan dapat dicegah,” katanya.
Menurut Elham, pemodelan hidrologis dan spasial dapat digunakan untuk memproyeksikan risiko sekaligus membantu pengambil kebijakan memahami konsekuensi dari berbagai pilihan pengelolaan lahan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah memperkuat perlindungan kawasan gambut, termasuk gambut dalam yang memiliki fungsi ekologis penting.
Selain rewetting, pembasahan gambut dapat dilakukan melalui pembangunan sekat kanal atau canal blocking untuk menjaga ketersediaan air dan kelembapan lahan. Kondisi gambut yang tetap basah dapat menekan risiko kebakaran, termasuk saat terjadi kemarau panjang.
Baca juga : DPR Dorong Penanganan Terpadu Karhutla dan Kebencanaan Lintas Kementerian
Elham menilai perlindungan gambut juga perlu berjalan beriringan dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan ialah paludikultur, yakni sistem budidaya yang menyesuaikan jenis tanaman dengan karakteristik alami lahan basah.
Komoditas seperti jelutung, sagu, dan purun dapat menjadi alternatif karena mampu tumbuh pada kondisi lahan yang basah. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus mengeringkan kawasan gambut.
“Pengelolaan gambut harus mempertimbangkan kondisi ekologisnya. Aktivitas ekonomi tetap dapat berjalan melalui pilihan-pilihan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan basah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Elham menekankan penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, lembaga terkait, dan pelaku usaha.
Evaluasi pengelolaan kawasan gambut, penguatan kebijakan perlindungan ekosistem, serta penegakan hukum terhadap praktik pembukaan lahan yang merusak juga diperlukan untuk mencegah kebakaran berulang.
“Semua pihak harus bergerak bersama secara sinergis. Kebakaran hutan adalah masalah yang tidak bisa dilokalisasi, sehingga penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, perbaikan regulasi, serta ketegasan penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan ekosistem,” pungkas Elham.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya