Dark/Light Mode

Pribadi Sederhana nan Berwibawa

(In Memoriam H. Nadjmi Adhani, Wali Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Yang Wafat Setelah Terinfeksi Covid-19)

Rabu, 12 Agustus 2020 15:07 WIB
Alm Nadjmi Adhani Wali Kota Banjarbaru (2016 –2021) saat bersama Presiden Jokowi pada satu kesempatan. [Foto: Dok Pribadi]
Alm Nadjmi Adhani Wali Kota Banjarbaru (2016 –2021) saat bersama Presiden Jokowi pada satu kesempatan. [Foto: Dok Pribadi]

RM.id  Rakyat Merdeka - Petang Jum’at itu, 27 Juli 2018, setengah berlari saya langsung menuju pojok utara Gedung IASTH (Advancement of Science Technology and Humanity) UI Salemba, lokasi favorit saya memarkir mobil, karena aksesnya lebih mudah keluar parkiran. Saya sudah hafal, sebentar lagi Jalan Salemba Raya akan macet parah. Benar saja, baru keluar gerbang, mobil saya sudah terjebak kemacetan.

Saya harus bergegas sampai ke Hotel Mercure di Jalan Sabang. Sebab sehari sebelumnya sudah membuat janji dengan sahabat saya Budiman, salah satu anggota DPRD Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, untuk membicarakan perihal program bantuan lembaga internasional, untuk pengembangan sistem informasi anti korupsi di Kota Banjarbaru. Menurut Budiman, Walikota Banjarbaru, H. Nadjmi Adhani ingin sekali mendengarkan langsung informasi mengenai program tersebut.

Jarak antara Salemba dengan Jalan Sabang sebenarnya tidaklah terlalu jauh, tapi tau sendiri, jalanan Jakarta di sore hari sulit ditebak. Kira-kira pukul 18.45 WIB atau hampir satu jam, saya baru tiba di Hotel Mercure setelah berjibaku di kemacetan Jakarta yang luar biasa itu.

Seperti kesepakatan sebelumnya soal waktu dengan Budiman, saya menunggu di lobi hotel, tak lama dia datang dan kami langsung pindah menuju kafe di lokasi yang sama. Saya semakin bersemangat, karena proposal yang saya sampaikan mendapat tanggapan orang nomor satu di Banjarbaru. Respon baik yang sama, tidak banyak saya dapatkan dari beberapa nupati atau walikota di Kalsel yang saya kirimkan proposal terkait proyek yang didanai lembaga internasional itu.

Yang cukup mengejutkan saya adalah, beliau sendiri yang langsung meminta bertemu membahas masalah itu. Tentu kesempatan yang tidak mungkin saya lewatkan.

Sekitar 30 menitan kami ngobrol banyak hal dengan Budiman. Tak lama berselang, Walikota H Nadjmi yang didampingi Sekdakot Banjarbaru, Yanni Makkie, dan Ketua DPRD Banjarbaru, AR Iwansyah menyusul.

Baca Juga : Gus Jazil Dorong Pelaku UMKM Melek Teknologi

Bergantian kami saling berjabat tangan. “Nadjmi,” katanya singkat sambil melempar senyum.

Saya langsung membalas, “Shiddiq, Pak, urang Banjar jua (orang Banjar juga).” Pak Nadjmi sumringah. “Iya kah? (O ya?)” ujarnya pendek.

Setelah dipersilahkan, kami semua duduk. Ingin sekali menceritakan semua mengenai tawaran kerjasama program pendanaan dari United Nations Development Programme (UNDP) itu, saya pun memilih duduk tepat di depannya.

Sambil berbicara dan saling bertukar informasi, serta menjelaskan secara detil mengenai program yang saya tawarkan, sesekali mata saya menyelidik. “Pak Nadjmi, Walikota yang sederhana”, pikir saya.

Mengenakan kemeja putih lengan pendek, celana warna biru gelap, dan hanya mengenakan sandal hotel warna putih. Terlihat biasa sekali untuk tampilan seorang kepala daerah. Tak ada kesan mewah, glamor.

Sementara Sekdakot Yanni Makkie mengenakan kaos kerah berwana coklat tua. Senada dengan Sekda, Ketua DPRD Iwansyah mengenakan stelan celana panjang warna gelap dan kaos kerah bermotif batik.

Baca Juga : Mandiri Targetkan 3.500 Peserta Ikut Kompetisi Usaha WMM

Sesekali dia jua menceritakan hal-hal lucu. Suasana semakin cair dan hangat, membuat saya semakin bersemangat. Penampilan sang walikota yang “ala kadarnya” ini, membuat saya semakin kagum pada kesederhanaannya.

Pak Nadjmi kemudian memesan Sop Iga, kopi tubruk, dan kentang goreng. Saya lupa apa yang dipesan Sekda Yanni Makki dan Ketua DPRD, karena fokus saya tertuju pada sosok pria tegap, meski sedikit berisi yang ada di depan saya.

Kami pun berbicara panjang lebar. Saya ceritakan kepada beliau apa yang saya ketahui mengenai program yang mungkin bisa diaplikasikan di Banjarbaru. Apalagi, Pemko tak perlu mengeluarkan dana besar, karena semua program didanai oleh lembaga donor. Dan, beliau meresponnya dengan positif.

“Diq, nanti koordinasi dengan Budiman ya. Kita agendakan untuk presentasi di hadapan teman-teman Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah). Kalau perlu dengan kawan-kawan DPRD,” ujarnya antusias.

“Secepatnya, Pak. Nanti saya juga koordinasi dengan Pak Sekda,” sahut saya menimpali, dengan harapan program yang saya tawarkan bisa terlaksana.

Tak terasa, satu setengah jam ngobrol dengan orang nomor satu di Banjarbaru itu. Tak ada kesan berjarak, sangat ramah, tidak pula menggurui. Bersama Pak Nadjmi seolah sedang berhadapan dengan guru yang tengah asyik memperhatikan muridnya. Seolah orang tua yang sedang membimbing anak-anaknya. Tenang, tapi penuh perhatian. Tak ada kesan bersikap layaknya atasan.

Baca Juga : Liga Eropa, Shakhtar Pede Abis Bisa Tekuk Inter Milan

Setelah pertemuan itu, beberapa kali saya berkoordinasi dengan Budiman sahabat saya, dan melalui Sekda, baik di Banjarmasin maupun di Jakarta, mencoba menindaklanjuti program yang pernah kami bahas.

Pernah pula secara pribadi beliau mengundang datang ke ruangannya. Sayangnya, program tersebut belum berhasil, karena ada beberapa tahapan yang tidak dapat diikuti sampai waktu pengajuannya ditutup.

27 Juli 2020, tiga tahun setelah pertemuan pertama dengan Pak Nadjmi, seorang kawan melalui WA grup mengabarkan, kalau Pak Nadjmi masuk rumah sakit. Pemimpin sederhana tapi berwibawa itu, tergolek dengan pengawasan tim medis yang merawatnya dengan protokol kesehatan yang ketat, karena diduga terjangkit wabah Covid-19.

Melalui laman instagram miliknya, Pak Nadjmi meminta doa kesembuhannya dari seluruh kerabat dan warga Kota Banjarbaru, sekaligus meminta kepada warga untuk tetap mentaati protokol kesehatan, dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sedih tentu saja, meski dalam keadaan sakit, beliau tetap memikirkan warganya.

Dua pekan setelah berjuang melawan sakitnya, Senin, 10 Agustus 2020 Pukul 2.30 WITA, pemimpin rakyat Banjarbaru itu akhirnya dipanggil yang Maha Kuasa. Meski tak banyak kenangan khusus bersama, akan tetapi mendengar dan menyaksikan kiprahnya berjuang untuk warga Banjarbaru, karya-karyanya, semangatnya, gaya kepemimpinannya, ribuan orang yang dibantu dan ditingkatkan kualitas hidupnya, dan visi misi futuristiknya selama memimpin masyarakat Banjarbaru memang luar biasa, membuat saya hanyut dalam duka yang dalam, karena dia terlalu cepat menghadap Sang Pencipta.

Kepergiannya bukan hanya duka bagi warga Banjarbaru. Kepergian H. Nadjmi Adhani adalah kehilangan putra terbaik Banua, aset bangsa yang luar biasa. Selamat jalan pejuang rakyat. Semoga warisan semangatmu untuk memperbaiki nasib bangsa menjadi pandemi kebaikan yang bisa kami tiru. Karya dan teladanmu abadi dalam ingatan kami. Allahummagfirlahu, Warhamhu, Wa’aafihii, Wa’fu ‘anhu. Al-Fatihah. [Gambut, 10 Agustus 2020, Dr. MS. Shiddiq, S.Ag, M.Si, Pegiat Literasi Media, Direktur Eksekutif Center for Indonesian Democracy Studies (CIDES) Institute]