Dark/Light Mode

Rakernas Alumni GMNI, Basarah: Lawan Ideologi Transnasional Dengan Kerja Konkrit

Minggu, 30 Agustus 2020 12:30 WIB
Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ahmad Basarah. (Foto: ist)
Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ahmad Basarah. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ahmad Basarah mengatakan, untuk melawan ideologi transnasional yang saat ini berkembang di Indonesia diperlukan kerja konkrit di segala bidang. Mulai dari bidang politik, ekonomi, sosial, sampai bidang budaya. 

Jika nasionalisme dan sistem demokrasi yang sekarang dianut bangsa Indonesia tidak membuahkan hasil nyata yang mensejahterakan apalagi membahagiakan rakyat, dikhawatirkan rakyat akan menoleh pada ideologi lain sebagai alternatif. Misalnya ideologi transnasional yang mengusung konsep negara khilafah. 

‘’Jika nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kita membuat kampung-kampung tangguh yang di dalamnya terdapat gotong royong saat bangsa ini menghadapi pandemi Covid-19, rakyat akan merasakan langsung manfaat gotong royong yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Inilah yang saya maksud salah satu bentuk kerja konkritnya,” ujar Basarah saat memberikan sambutan dalam Rakernas Persatuan Alumni GMNI di Jakarta, Sabtu (29/8).

Baca juga : Paling Sukses Jalankan Strategi Nasional Pencegahan Korupsi, Bali Memang Top

Tampil sebagai pembicara Wakil Ketua BPIP, Prof Haryono, Kepala BPHN Kemenkumham, Prof HR Benny Riyanto, Hakim Mahkamah Konstitusi Prof Arief Hidayat, serta Direktur Pusat Kajian Pancasila dan Konstitusi Universitas Jember, Bayu Dwi Anggono. Rakernas yang berlangsung dari 29–30 Agustus 2020.

Menurut Wakil Ketua MPR ini, jika bangsa Indonesia pandai menjaga memori mereka tentang sejarah bangsa, tak ada alasan lain buat mereka untuk lari dari Pancasila sebagai ideologi bangsa. Menurut catatan sejarah, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sesungguhnya sudah tumbuh dan mengakar di tengah nenek moyang bangsa Indonesia jauh sebelum Pancasila sebagai ideologi dilahirkan.

Karena itu, kata dia, faktor penting yang harus diperhatikan dan dijaga oleh suatu bangsa dalam menjaga eksistensi bangsa dan negara mereka dari kehancuran adalah menjaga sejarah bangsa itu sendiri. "Kaburnya sejarah suatu bangsa dan suatu negari akan menghancurkan bangsa dan negara itu sendiri,’’ tegasnya.

Baca juga : Ada Corona, Pekan Pemuda Nasional Digelar Secara Virtual

Untuk memperkuat argumentasinya, Basarah mengutip Sun Tzu yang menyebutkan bahwa untuk mengalahkan bangsa yang besar tidak perlu dengan mengirim pasukan perang yang besar, tapi cukup dengan menghapus pengetahuan mereka atas sejarah kejayaan leluhur mereka. ‘’Jika suatu bangsa melupakan sejarah berdirinya negara mereka sendiri, tak akan lama, bangsa dan negara itu akan mengalami kehancuran,’’ tegasnya.   

Ketua DPP PDI Perjuangan itu menambahkan, ada tiga cara bisa dilakukan untuk melemahkan sekaligus menjajah suatu negeri; pertama dengan mengaburkan sejarah bangsa itu sendiri, kedua dengan menghancurkan bukti-bukti sejarah bangsa, dan ketiga dengan memutuskan hubungan mereka dengan para leluhur dengan mengatakan bahwa leluhur mereka bodoh dan primitif. 

‘’Soal menjaga dan merawat sejarah bangsa ini penting dilakukan oleh kaum nasionalis yang aktif di GMNI. Mereka tak boleh berhenti mengkaji sejarah bangsa sendiri sebagai bentuk menjaga kewaspadaan nasional demi keutuhan NKRI yang kita cintai,’’ tegas Basarah. 

Baca juga : Kunci Penanganan Corona Di Tangan Generasi Muda

Prof. HR Benny Riyanto mengatakan, memori kolektif bangsa tentang sejarah Pancasila harus terus dihidupkan. Kerja besar ini penting, karena dalam suasana politik yang normal seperti saat ini saja sulit sekali mengajukan perundang-undangan yang bermuatan Pancasila untuk diterima.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.