Dark/Light Mode

Webinar Perpusnas-Dispusipda Jabar

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Milenial Butuh Kecakapan Literasi

Jumat, 16 Oktober 2020 20:20 WIB
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dalam Webinar yang diselenggarakan Perpusnas dengan Dispusipda Jawa Barat, Jumat, (16/10). (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dalam Webinar yang diselenggarakan Perpusnas dengan Dispusipda Jawa Barat, Jumat, (16/10). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kehidupan generasi milenial tidak lepas dari teknologi. Setiap sendi, diisi dengan teknologi, sehingga lebih mudah dalam beraktivitas. Meski begitu, generasi milenial juga tetap harus kaya pengetahuan dan bacaan. Supaya siap dan kuat dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, generasi milenial sangat membutuhkan kemampuan literasi.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando menerangkan, generasi milenial akan memiliki peran dominan saat Indonesia memasuki era bonus demografi. Merekalah yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia ke depan. Karena itu, generasi milenial harus berkualitas.

“Kuncinya pada kualitas. Mereka inilah (generasi milenial) yang diharapkan memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan dunia luar,” papar Syarif Bando, dalam Webinar ‘Menyiapkan Generasi Literasi Melalui Penguatan Kegemaran Membaca Era Milenial’, yang diselenggarakan Perpusnas dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusipda) Jawa Barat, Jumat, (16/10).

Tantangan generasi milenial, lanjutnya, jauh lebih besar dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Salah satunya adalah Revolusi Industri 4.0. Nah, salah satu bekal untuk menghadapi itu adalah dengan kemampuan literasi. “Generasi milenial yang berliterasi adalah generasi yang memiliki aksesibilitas terhadap sumber bacaan yang up to date,” tambah Syarif Bando.

Berita Terkait : Perpusnas Siapkan Inovasi Sebagai Strategi Percepatan Reformasi Birokrasi

Penumbuhan budaya baca, tambah Syarif, penting. Hal ini mengingat kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap. Menjadi generasi literat berarti menyiapkan masyarakat kritis dan peduli. Kritis terhadap terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Tantangan sekarang ini, generasi milenial dianggap kurang minat membaca.

Menurut anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa melihat, ada beberapa faktor yang membuat milenial kurang minat baca. Pertama, akibat belum adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan para orang tua. Padahal, peran orang tua amat penting untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. “Sebagian masih banyak yang menyepelekan kegiatan membaca. Baru sebatas hobi, belum menjadi kebiasaan,” urai Ledia.

Kedua, disebabkan karena akses ke fasilitas pendidikan masih minim dan belum merata. Padahal, di tengah kondisi pandemi saat ini, generasi milenial dipaksa belajar ala digital dengan segala keruwetan dan keterbatasannya. Ketiga, produksi buku yang masih kurang. Hal ini dipicu karena royalti yang diterima rendah, insentif bagi produsen buku yang belum adil, sehingga berdampak pada belum berkembangnya penerbit.

Mengenai karakter, Ledia melihat milenial sebagai generasi yang memiliki percaya diri tinggi, berani mengungkapkan pendapat di muka publik, berpikir out of the box, kaya akan gagasan, mudah bersosialisasi terutama dengan komunitasnya, dan cakap menguasai teknologi, terlebih di media sosial dan internet. “Bagi generasi milenial, kemampuan berliterasi digital amat penting karena menjaga mereka untuk terus berpikir kreatif,” tambah Ledia.

Berita Terkait : Peran Perpustakaan Tak Boleh Kalah Sama Medsos

Duta Baca Provinsi Jawa Barat Salbia Salsabila Mulki memahami bahwa tugas mengajak orang untuk membiasakan membaca itu sulit. Contohnya, di dunia akademisi, kebiasaan membaca baru akan dilakukan ketika mendapat tugas kuliah. “Istilahnya, the power of kepepet,” Salsa berseloroh.

Salsa meyakini, kemampuan literasi yang baik tidak sekadar baca dan tulis. Karena jika hanya kedua faktor yang menjadi parameter, tidak heran informasi yang masih sumir alias hoaks mudah diterima masyarakat. Salsa menyarankan untuk membentuk generasi yang literat, jalan satu-satunya adalah dengan gemar membaca. “Bangsa yang memiliki tingkat literasi yang tinggi akan menjadi bangsa yang disegani,” katanya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat Ahmad Hadadi mengatakan, menghasilkan manusia yang berbudaya, haruslah melek literasi. Dalam upaya mewujudkan SDM Juara Lahir Batin, pihaknya menyusun tiga langkah membangun generasi literasi.

Pertama, mencanangkan gerakan literasi sekolah sebagai upaya menumbuhkan budi pekerti siswa. Kedua, menunjuk Duta Baca sebagai simbol inspirasi terutama bagi kalangan remaja dan anak-anak sehingga memberikan efek kebanggaan serta citra baik terhadap perpustakaan. Ketiga, menggalakkan program West Java Leader’s Reading Challenge bekerja sama dengan The Crown in Right of the State of South Australia tentang dunia pendidikan. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan daya nalar siswa menjadi lebih baik melalui kegemaran membaca sehingga menumbuhkan karakter positif siswa.

Berita Terkait : Anggaran 2021 Disetujui, Komisi X DPR Minta Perpusnas Tingkatkan Kolaborasi Program Strategis

“Untuk program unggulan perpustakaan di Jawa Barat, kami memiliki ‘Candil’ kepanjangan Baca Dina Digital Library, semacam aplikasi buku digital, dan ‘Makan Jengkol’, kepanjangan dari Mari Antar Jemput Buku Dengan Kolaborasi. Program Makan Jengkol ini merupakan hasil kerja sama Dispusipda Jawa Barat dengan penyedia layanan antarjemput aplikasi, Grab,” jelas Ahmad. [USU]