Dark/Light Mode

Muhammadiyah: Jangan Telantarkan Sila Kelima Pancasila

Sabtu, 5 Desember 2020 15:53 WIB
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dalam sambutannya di acara Rakernas Lazismu 2021 yang digelar virtual, Sabtu (5/12). (Foto: Ist)
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dalam sambutannya di acara Rakernas Lazismu 2021 yang digelar virtual, Sabtu (5/12). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara memiliki otoritas yang kuat untuk mewujudkan keadilan. Muhammadiyah mengingatkan, ajaran tentang zakat, infaq menjadi salah satu cara untuk membantu mewujudkan keadilan.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan, jangan sampai sila kelima Pancasila tellantar akibat tidak berjalannya ekonomi yang berkeadilan. Dia menegaskan, negara punya kekuatan dan kemampuan untuk mengentaskan kemiskinan serta memberdayakan masyarakat.

"Jadi kalau dalam institusi negara, sila kelima Pancasila mengenai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, maka itu jangan terlantar," ujar Haedar dalam sambutannya di acara Rakernas Lazismu 2021 yang digelar virtual, Sabtu (5/12).

Berita Terkait : Lazismu Muhammadiyah Akui Donasi Tetap Stabil Selama Pandemi

Haedar menyebut, zakat memiliki andil yang kuat untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Meski negara sudah ada pajak, namun bagi umat Islam, spirit pajak berbeda dengan spirit untuk bersedekah, bayar zakat dan infaq.

Gerakan keagamaan, lanjutnya, memiliki dampak yang baik untuk memotong mata rantai kesenjangan sosial. "Di sinilah keberadaan institusi yang mengelola zakat infaq shodaqoh seperti Lazismu, memiliki peran yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju," ungkapnya.

Program Lazismu, kata Haedar, telah berkontribusi di dunia internasional. Ini menunjukkan bahwa spirit surat Al-Maun terus terawat lebih dari 108 tahun dalam jiwa, pikiran, dan sikap kader Muhammadiyah.

Berita Terkait : Polisi Harapkan Rizieq Shihab Penuhi Panggilan Penyidik

Sekadar latar, Lazismu telah menjadi lembaga zakat, infak dan sedekah (ZIS) nasional. Tak hanya itu, ZIS Lazismu juga memperoleh banyak penghargaan hingga menjadi kebanggaan Persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu, manfaat program Lazismu telah memberikan sumbangsih sangat bermakna bagi kemanusiaan di tingkat lokal, nasional, hingga global.

Semangat ZIS ini tidak hanya direpresentasikan oleh Lazismu, melainkan oleh seluruh elemen umat Islam. Islam menempatkan zakat sebagai kewajiban yang melekat dengan rukun Islam.

Oleh karena itu, tidak mungkin Nabi Muhammad SAW menjadikan zakat ke dalam rukun Islam bila instrumen ini tidak dipandang penting. "Zakat ini sesuatu yang sangat mendasar, fungsional, dan strategis bagi kehidupan umat Islam maupun kehidupan manusia. Jika umat Islam ingin menjadi umat terbaik yang melahirkan baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur, negara sejahtera yang diampuni oleh Allah, maka ZIS harus diletakkan sebagai salah satu pondasi yang penting," pungkasnya. [JAR]