Dewan Pers

Dark/Light Mode

Covid-19 Dan Interaksi Simbolik Masyarakat Beragama

Jumat, 18 Desember 2020 04:29 WIB
Fita Fathurokhmah, dosen Fidikom, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto : Istimewa)
Fita Fathurokhmah, dosen Fidikom, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto : Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Covid-19 menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Dan agama dituduh sebagai bagian dari masalah memburuknya pandemi Covid-19. Tuduhan tersebut misalnya, terjadi di Korea Selatan. Sebanyak 5.000 jamaah diduga terinfeksi virus corona dari Gereja Shincheonji Yesus di Daegu.

Di Amerika Serikat, gereja besar California dari jemaat Slavia menjadi pusat penyebaran virus sebagaimana dinyatakan oleh pejabat kesehatan masyarakat terkait dengan 71 kasus. Agama menjadi kambing hitam sebagai pusat penyebaran virus Covid-19 karena aktivitas ibadah yang berkerumun.

Alih-alih menjadi sumber masalah menyebarnya virus corona, sebenarnya agama bisa menjadi solusi membantu menangani penanggulangan virus corona.

Dalam Islam, praktik ritual agama seperti shalat berjamaah, dengan shaf rapat di masjid adalah anjuran Nabi Muhammad SAW. Pahala yang didapat dengan sholat berjamaah di masjid lebih besar 27 kali lipat dari shalat sendirian.

Namun berjamaah dengan shaf rapat melanggar physcal distancing (jaga jarak). Realitas ini mengabaikan protokol kesehatan dan berpotensi penyabaran virus corona. Komunikasi berperan dalam membentuk, mengelola hubungan interpersonal dan kelompok sosial.

Berita Terkait : Doni: 16 Persen Masyarakat Masih Tak Percaya Corona

Berdasarkan lifeworld, umat Muslim yang tetap melaksanakan sholat berjamaah di masjid karena memiliki keyakinan mengaitkan Covid-19 dengan takdir Tuhan, pesan Nabi, dosa umat manusia, tanda-tanda kiamat. Maka sebagian muslim mengambil sikap tetap melakukan komunikasi interpersonal dengan sesama jamaah sholat di masjid dan mushola tanpa menjaga jarak dan tanpa menggunakan masker.

Ini menunjukkan adanya persoalan atas fenomena realitas pemahaman yang beragam tentang sholat berjamaah di era Covid-19.

Ilmuwan komunikasi George Herber Mead memfokuskan diri dalam memahami makna suatu interaksi perilaku sosial dan aspek internal. Interaksi simbolik yang terjadi di masyarakat artinya individu-individu berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, tanda-tanda, isyarat, dan kata-kata.

Realitas pada akhirnya muncul dalam proses interaksi. Teori ini dibangun dengan seperangkat premis tentang bagaimana seorang diri individu (self) dan masyarakat (society) didefinisikan melalui interaksi dengan orang lain dimana komunikasi dan partisipasi memegang peranan yang sangat penting. 

Dengan begitu, Interaksi simbolik bisa digunakan untuk mengetahui pemahaman umat Islam dalam pelaksanaan sholat berjamaah yang dilaksanakan di masjid di masa Covid-19 dengan tidak mengikuti protokol kesehatan.

Berita Terkait : Satgas Covid-19: Indonesia Kudu Siap Hadapi Penyakit Menular Baru

Secara teori komunikasi, ketika seseorang melakukan interaksi dengan orang lain, diawali dari makna dirinya terlebih dahulu yang Mead sebut dengan konsep “Mind” yang akan memunculkan identitas diri. Selanjutnya konsep Diri “Self”.

Diri muncul dan berkembang melalui aktivitas interaksi sosial dan bahasa. The Self memungkinkan jamaah berperan dalam percakapan dengan jamaah lain karena adanya sharing of symbol. Yang terakhir konsep “Society” yang paling umum yaitu proses sosial yang mendahului pikiran dan diri.

Dari realitas fenomena yang terjadi di masyarakat Muslim Indonesia tersebut, sebetulnya dalam Islam selain mengatur tentang pencegahan Covid-19 dari aspek spiritual, juga diatur pencegahan preventive dengan tindakan proaktif yang harus dilakukan.

Hadist Shaheh Al-Bukhari, No 3374 menegaskan; umat yang tinggal di bumi, pada saat tertimpa musibah wabah virus, bersabarlah, akan mendapat pahala dari Allah, bahwa yakinlah segala sesuatu terjadi karena ketetapan Allah. Maka umat Muslim yang ingin mendapatkan pahala dari Allah dari musibah pandemi Covid-19 ini, hendaklah : tinggal dulu dirumah, hindari beraktivitas diluar rumah, bersabar, mencari pahala dari Allah.

Hendaknya umat Islam, menghindari tempat di mana seseorang cenderung tertular penyakit, jangan keluar kecuali benar-benar perlu; Jika perlu keluar untuk keperluan, lakukan kunjungan seminimal mungkin.

Berita Terkait : PLN Siapkan Interkoneksi Sistem Kelistrikan Kalbar-Kalteng

Praktekkan jarak sosial, seperti hadist Shaheeh Albukhari, No 5707: "Larilah dari kusta seperti kamu akan lari dari singa." Jika Anda perlu memberikan hal-hal penting kepada orang lain, pergi di depan pintu mereka dan tanpa kontak. Selalu tetap berjarak 2 meter dari yang lain ketika berada di luar.

Jika meninggalkan atau keluar rumah, lakukan tindakan. Pakailah pelindung peralatan dan buang dengan aman atau dicuci jika sudah digunakan, seperti masker dan sarung tangan. Hindari menyentuh mulut, mata atau hidung Anda. Sanitasi tangan dan cucilah segera saat pulang COVID 19 Dan Interaksi Simbolik Masyarakat Beragama.

Oleh : Fita Fathurokhmah, M.Si Dosen FIDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.