Dewan Pers

Dark/Light Mode

Satgas Covid-19: Indonesia Kudu Siap Hadapi Penyakit Menular Baru

Kamis, 17 Desember 2020 19:13 WIB
Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito. (Foto: Ist)
Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mendorong kesiapan Indonesia dalam menghadapi kemungkinan munculnya ancaman penyakit menular baru. Seperti pandemi Covid-19 kali ini yang menyebabkan kondisi darurat kesehatan.

"Kita harus siap untuk menghadapi adanya potensi lain selain Covid-19 ke depan," kata Wiku dalam webinar tentang Pembelajaran Penanganan Covid-19 Bidang Kesehatan di Jakarta, Kamis (17/12).

Wiku menambahkan, saat ini, banyaknya tantangan nasional maupun global, seperti isu alih fungsi lahan, mobilitas global yang semakin sulit dibatasi, perubahan iklim dan kondisi alam, menimbulkan potensi munculnya penyakit baru yang sulit diatasi dan sukar diprediksi kehadirannya.

Berita Terkait : Indonesia Bersiap Jadi Sentra Distribusi Vaksin Asia Tenggara

Berdasarkan prediksi majalah Major Tahun 2004, Wiku menyebut, sudah ada lima penyakit menular baru yang muncul dalam 16 tahun terakhir, di antaranya pandemi H1N1, H7N9, MERS-CoV, COVID-19 ,dan G4 EA H1N1. Sementara dari peta potensi kemunculan, diprediksi akan ada lebih dari 30 penyakit baru menular baru setelah Covid-19.

Untuk itu, Wiku mendorong semua pihak agar membuat berbagai persiapan menghadapi kemungkinan munculnya penyakit-penyakit baru itu.

"Jadi kita kudu siap untuk menghadapi ada potensi lain selain Covid-19. Kita harus belajar dari pandemi kali ini untuk menghadapi wabah yang akan muncul di masa depan," katanya.

Berita Terkait : Satgas Covid-19 Tegaskan Anggaran Bukan Hambatan Vaksinasi

Dengan potensi ancaman yang terkadang sulit diprediksi, Wiku menilai, Indonesia akan menghadapi banyak tantangan. Berkaca pada pandemi Covid-19, saat awal kemunculan wabah, Indonesia tidak memiliki alat navigasi yang terdata, terintegrasi dan valid.

"Kita tidak pernah bisa tahu gerakannya sebelum menimbulkan penyakit, itulah tantangan kita ke depan," ungkapnya.

Selain itu, sektor kesehatan di Indonesia, tambah Wiku, juga masih sangat kuratif. Sehingga tindakan preventif sangat diperlukan untuk menghadapi penyakit yang menyebabkan fasilitas kesehatan jebol tak mampu menampung korban yang begitu banyak. Juga ketergantungan Indonesia terhadap produk alat kesehatan dari luar negeri cukup masih cukup tinggi.

Berita Terkait : Empat Pilar Harus Kokoh

"Jadi ini menunjukkan bahwa hambatan untuk Indonesia itu besar jika terjadi darurat kesehatan masyarakat. Butuh kerjasama seluruh pihak membuat persiapan yang lebih matang sehingga mengubah kondisi darurat kesehatan masyarakat, menjadi ketahanan kesehatan masyarakat," pungkasnya. [FAQ]