Dark/Light Mode

Lawan Radikalisme, Anak Muda Harus Aktif Bersuara

Selasa, 29 Desember 2020 09:31 WIB
Pembicara diskusi Dialog Rakyat: Toleransi Multi Agama Sebagai Payung Anti Radikalisme. (Foto: ist)
Pembicara diskusi Dialog Rakyat: Toleransi Multi Agama Sebagai Payung Anti Radikalisme. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Komprehensi, Ahmad Nabil Bintang mengatakan, anak-anak muda dan generasi Milenial harus aktif bersuara (speak up) untuk melakukan kontra narasi terhadap maraknya konten-konten yang mendukung paham radikalisme. Jika paham radikalisme ini dibiarkan, berpotensi sangat membahayakan karena sifatnya terus berkembang. 

"Makanya kami ingin narasi-narasi terbaik berkualitas disebarkan masif untuk melawan penyebaran paham radikalisme ini," kata Ahmad Nabil Bintang.

Nabil mengatakan itu dalam diskusi Dialog Rakyat: Toleransi Multi Agama Sebagai Payung Anti Radikalisme di Selasar.in Cafe, Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (28/12).

Menurut dia, upaya kontra narasi ini harus dilaksanakan berkesinambungan karena literasi dan edukasi bersifat pekerjaan terus menerus. Jika sempat terhenti, tentu bisa menimbulkan masalah baru. 

"Kami ingin mengatakan bahwa kesejahteraan dan keadilan sekarang menjadi fokus kita berbangsa dan bernegara. Soal radikalisme ini sangat mengganggu," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/12).

Baca Juga : Positif Covid-19, Aa Gym Isolasi Mandiri Jauh Dari Keluarga

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Prof. Irfan Idris sepakat dengan ide speak up kaum muda. Di zaman teknologi informasi, menurut dia, sifat diam atau senyap sangat berbahaya karena anak-anak muda itu melek informasi sehingga wajib terlibat dalam memberitahukan perubahan. 

"Jadi anak-anak muda jangan diam. Harus speak up melalui saluran seperti media sosial dan terus memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif," ujar Prof Irfan.

Direktur Jaringan Moderasi Indonesia, Islah Bahrawi, mengatakan, ide speak up bisa diwujudkan dengan aktif melakukan gerakan intelektual melawan pemikiran radikal. "Jadi saya katakan begini ya, intoleransi adalah bibit radikalisme yang nantinya akan berubah ke ekstrimisme dan terakhir masuk ke terorisme," tutur Islah. 

Saat ini, kata dia, bibit radikalisme dengan mudah terlihat jika seseorang berpikir mendevaluasi dan mendegradasi negara. "Orang-orang seperti ini biasanya enggak nyaman dengan perbedaan. Dia bersikap menghakimi dan mendevaluasi negara sehingga pemikiran ini bisa terus berkembang, misalnya dipupuk sama hoax dan disinformasi," jelasnya.

Direktur Nurcholish Madjid Society, Fachrurozi Majid, mengajak para mahasiswa atau calon-calon akademisi untuk kembali meluruskan narasi-narasi yang salah selama ini. Terutama gelombang informasi di media sosial yang berbahaya karena bisa menyebar pesan-pesan radikal dan berbau teror.

Baca Juga : TC Perdana di Spanyol, Timnas Indonesia Cepat Beradaptasi

"Narasi agama selalu perdamaian, tetapi ada yang memotong-motong narasi itu menjadi masalah baru," ujarnya.

Fachrurozi mengatakan, media sosial harus menjadi lahan mempertontonkan bagaimana Islam dan agama lainnya bisa menghargai satu sama lain. Gelorakan moderasi beragama dan moderasi berpolitik di media sosial. 

“Kita bisa mulai dengan konten-konten edukasi dan mendidik di media sosial sebagai kontra narasi karena pikiran intoleransi ini jangan dianggap perkara sederhana," ujarnya.

Mantan napi terorisme (napiter), Iqbal Husaini melihat salah satu kunci melawan radikalisme adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Memberikan pemahaman kepada anak-anak muda agar terhindar dari konten dan paparan radikalisme bukan perkara mudah di era keterbukaan informasi. 

Presma UIN Jakarta 2019-2020, Sultan Rivandi sepakat dengan ide moderasi pemikiran terutama di dua hal yakni moderasi berpolitik dan moderasi beragama. Tapi kita perlu juga moderasi berpolitik.

Baca Juga : JPU Hadirkan Mantan Ketua Tim Penyidik Bareskrim

“Bagaimana negara mendistribusikan sebuah keadilan, maka keterbukaan pikiran dalam hal ini sangat penting," ujarnya.

Selain itu, Sultan juga menekankan betapa pentingnya menyeimbangkan doktrin agama (samawi) dan doktrin demokrasi (politik/duniawi). "Kita pelajari dan pahami apa itu ekstrimisme, apa itu fundamentalisme, apa itu radikalisme, dan lain-lain. Mari kita tonjolkan nalar kritis sebagai mahasiswa dan bangsa yang beradab," kata Sultan.

Diskusi ditutup dengan Keynote Speaker dari Romo Frans Magnis Suseno yang mengingatkan semua pihak untuk kembali ke nilai-nilai agama yang sudah pasti menjadi dasar kita berbangsa dan bernegara. 

"Jika agama mengajarkan kita menghormati perbedaan dan menghormati berbagai keyakinan, kenapa kita harus menimbulkan masalah dengan berpikir seperti radikalisme," ujar Romo Frans Magnis Suseno. [DIT]