Dark/Light Mode

Psikolog Unpad: Positif Covid Harus Dibarengi Dengan Pikiran Positif

Rabu, 30 Desember 2020 11:02 WIB
Psikolog Kesehatan Unpad, Aulia Iskandarsyah MPsi, MSc, PhD (Foto: Humas Unpad)
Psikolog Kesehatan Unpad, Aulia Iskandarsyah MPsi, MSc, PhD (Foto: Humas Unpad)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penyintas Covid-19 memerlukan pengelolaan stres dalam diri yang baik, serta dukungan orang terdekat agar mampu sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Terkait hal ini, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Aulia Iskandarsyah, MPsi,  MSc, PhD mengatakan, secara psikologis, seseorang mengalami beberapa fase reaksi, saat dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan diagnosis swab PCR.

Fase pertama, kata Aulia, biasanya adalah penyangkalan bahwa seseorang positif Covid-19. Penyangkalan tersebut selanjutnya melahirkan respons diri berupa marah atau sedih.

Berita Terkait : Panik Tetangga Kena Corona

Sikap ini merupakan fase di mana kondisi mental seseorang mulai terganggu. Penurunan mental akan melahirkan sikap sedih, stres, hingga menutup diri.

Fase terakhir adalah ketika seseorang mulai menerima bahwa ia terkena Covid-19.

"Terkena Covid-19 bukanlah aib. Wabah pandemi ini akan menyasar seluruh orang tanpa terkecuali. Karena itu, seseorang yang positif Covid-19 berdasarkan hasil swab PCR, harus segera membuka diri dengan menerima keadaan," kata psikolog kesehatan ini, seperti dilansir situs resmi Unpad.

Berita Terkait : Tambah 75, Kasus Covid-19 Di Babel Tembus 2.077 0rang

Menurutnya, adaptasi tubuh yang cepat akan lebih mudah menentukan rencana selanjutnya. Konsultasi dengan Satgas atau tim medis, harus segera dilakukan untuk menentukan upaya penanganan terbaik. Jika penyintas tidak mengalami gejala, ia bisa melakukan isolasi mandiri dengan pemantauan yang ketat.

“Mau nggak mau, kita harus patuh dengan protokol isolasi mandiri. Jika ada kendala, silakan konsultasikan dengan satgas,” tutur Aulia.

Isolasi Bukan Dipenjara

Berita Terkait : Warga Abai Prokes Penyebab Kasus Positif Covid Melonjak

Positif Covid-19 harus dibarengi dengan pikiran positif. Yakinkan bahwa proses isolasi ini hanya sementara. Menjadi penyintas Covid-19 bukan berarti suatu aib.

"Ada yang beranggapan bahwa isolasi mandiri sama dengan dipenjara. Padahal, isolasi hanya membatasi aktivitas fisik penyintas dengan dunia luar. Penyintas Covid-19 bisa melakukan berbagai aktivitas rutin di dalam ruang isolasi," papar Aulia.

“Isolasi itu bukan berarti harus berbaring terus. Dia bisa bangun, olahraga, mandi, dan bekerja. Hanya posisinya dilakukan di tempat isolasi,” imbuhnya.
 Selanjutnya