Dark/Light Mode

Kisah Pasien Positif Covid Saat Diisolasi

Kamis, 24 Desember 2020 06:19 WIB
Ngopi - Kisah Pasien Positif Covid Saat Diisolasi
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Virus Corona semakin gawat. Sudah menyerang teman-teman dekat. Lebih dari 678 ribu orang, terkonfirmasi positif virus asal Wuhan, China itu. Tak berlebihan jika saat ini lebih waspada lagi. Kalau perlu bersiap terpapar. Jika tubuh kuat, istirahat di hotel. Tidak kuat, ya harus dirawat.

Belum lama ini, dua kawan saya terkonfirmasi positif Covid-19. Beruntung tubuhnya kuat. Mereka pun dijemput ambulance menuju sebuah hotel khusus pasien Corona di area Tangerang.

Akhirnya mereka tiba di hotel bintang tiga. Mendapat kamar lengkap dengan semua fasilitas hotel. Televisi, wifi, AC, hingga makanan bergizi. Semuanya gratis tis tis. Kamar hotel per tiga hari dibersikan. Bak raja, tidak ada rutinitas bebersih rumah.

“Nyaman di sini, ha ha ha. Setiap pagi olahraga pagi, dan sarapan,” cerita teman saya itu.

Berita Terkait : Gagal Terus Ternak Cupang

Yang sulit, yakni jauh dari rokok dan kafein, kebiasaan yang rutin dilakukan kalau di rumah. Rokok dan kopi menjadi benda terlarang di area karantina. Bahkan saus sambal, jika coba-coba diselundupkan, pasti terdeteksi oleh suster urusan gizi.

Ceritanya, sebagian besar penghuni hotel isolasi itu mereka yang fisiknya sehat. Tidak mengalami gejala akibat virus Corona. Bahkan di sini tidak ada dokter atau perawat yang menghampiri setiap kamar.

Kalau ada keluhan, silakan lapor ke bawah. Sendiri. Petugas kesehatan standby 24 jam.

Hotel ini ternyata sangat penuh. Konon katanya, ada antrean untuk masuk. Bahkan ada yang beruntung mendapatkan kamar kelas VVIP. Tidak hanya warga biasa, pejuang medis baik dokter maupun suster yang terpapar juga isolasi di sini.

Berita Terkait : Aturan Dadakan Bikin Deg-degan

Intinya, kabar yang didapat dari teman saya yang diisolasi di hotel begitu gembira. Liburan katanya. Bebas bekerja. Hanya yang bikin sedih, jauh dari keluarga. Selama di karantina, hanya bisa berkomunikasi lewat layar ponsel. Padahal antara hotel dan rumah tidak jauh juga.

Nah, begitu memenuhi syarat isolasi mandiri: 14 hari karantina setelah swab test terakhir dinyatakan negatif, jika pasien tanpa keluhan boleh pulang. Anehnya, tidak diberikan swab gratis setelah menjadi alumni Covid-19. Kalau masih ragu ya mesti swab test sendiri. Bayar secara mandiri.

Setelah menjalani rangkaian isolasi mandiri, kawan saya itu menjadi begitu sadar tentang kesehatan. Masker katanya menjadi benda yang sangat penting saat ini. Jangan lengah katanya. Dia kini menjadi rajin olahraga dan hidup sehat. Alhamdulillah hikmah baik baginya.

Namun dia mengeluh tentang kondisi yang dialami keluarganya. Padahal anak dan istrinya, sudah dinyatakan negatif Corona. Namun, justru mendapat problem sosial dari lingkungan. Ada yang mengucilkan, bahkan takut berpapasan.

Berita Terkait : Mogok Di Hutan Sawit

Padahal, keluarga ini juga perlu makan. Terkadang keluar untuk membeli bahan makanan. Tangis dan keluh kesah justru datang dari yang sehat. Yang sakit mencoba gembira dan berusaha untuk pulih dari virus ganas ini. Jauhkan stress dan pikiran negatif, jika ingin segera sembuh.

Mungkin kisah ini bisa membuat kita semua semakin lebih waspada dan bersiap untuk terpapar. Siapa saja bisa terkena Covid-19. Apalagi jumlah orang yang positif saat ini sudah di angka lebih dari 678 ribu jiwa. Waspadalah. Namun yang perlu diingat, Corona bukanlah aib. Kita tidak boleh mengucilkan mereka yang terkena Corona. Termasuk keluarganya. [Boy Sakti Hapsaro/Wartawan Rakyat Merdeka]